Semarang, 30 Mei 2026 – Program Studi Psikologi Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan kuliah umum Psikologi Sosial secara daring pada Sabtu (30/5). Kegiatan ini dihelat melalui platform Zoom Meeting dengan menghadirkan Dr. Trisnasari Fraser, psikolog komunitas dari Australia sebagai narasumber. Kuliah umum tersebut membahas berbagai isu psikologi sosial kontemporer, mulai dari pendekatan musik antarkultur, suicide postvention, hingga pentingnya kolaborasi institusi dan kelompok masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang inklusif.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa psikologi UNNES dan terbuka untuk mahasiswa dari berbagai kampus yang memiliki ketertarikan mengenai psikologi sosial – terutama pada pembahasan sosiokultural dan komunitas. Melalui pemaparan materi yang komprehensif, peserta diajak memahami bagaimana akulturasi budaya dapat menjadi jalinan harmoni dalam lingkungan sosial, serta menumbuhkan rasa solidaritas, kepemilikan, dan menghilangkan diskriminasi antar ras, suku, maupun agama pada suatu lingkungan.
Dr. Trisnasari Fraser memaparkan bahwa identitas budaya berperan penting dalam membentuk hubungan sosial yang sehat serta mendukung kesejahteraan individu. Salah satu pendekatan yang efektif dalam memperkuat hubungan antarindividu dan kelompok adalah melalui kesenian, khususnya musik. Musik dipandang sebagai media yang mampu menjembatani perbedaan budaya dan menciptakan ruang interaksi yang lebih terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat.

Melalui konsep musik antarkultur, individu dari latar belakang budaya yang berbeda dapat saling mengenal, menghargai, dan membangun pemahaman bersama. Proses akulturasi budaya yang terjadi melalui seni dinilai lebih mudah diterima oleh masyarakat karena bersifat universal dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kesenian tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai alat yang dapat memperkuat kohesi sosial.
Selain membahas pendekatan musik antarkultur, kuliah umum ini juga mengangkat isu suicide postvention, yang merupakan sebuah pendekatan yang belum ramai digunakan. Dimana kasus bunuh diri tidak hanya dilihat sebaik tindakan yang butuh untuk dicegah, namun juga perlu ditindak lanjuti setelahnya – dengan tujuan agar kejadian tersebut tidak terulang kembali, dan memberikan pemulihan kondisi bagi komunitas-komunitas pada masyarakat yang terdampak. Dalam konteks ini, dukungan sosial yang kuat serta keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam proses pemulihan psikologis. Oleh karena itu, kerja sama antara institusi pendidikan, organisasi, komunitas, dan kelompok sosial lainnya perlu terus diperkuat guna menciptakan sistem dukungan yang berkelanjutan.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi interaktif antara Dr Fraser dengan para hadirin, menciptakan kegiatan pembelajaran yang lebih hidup dan melibatkan partisipasi dan interaksi secara aktif. Pada sesi ini, beberapa topik dibedah lebih dalam – penanaman kesadaran mengenai kesehatan mental dilakukan tidak hanya dengan kampanye, tetapi juga melalui pendekatan budaya dan penanaman nilai-nilai tersebut pada nilai-nilai yang ada dan mudah dipahami oleh masyarakat lokal.




