Sukses Digelar, FGD “SDGs & Purpose-Driven Business” Hadirkan Perspektif Akademisi dan Praktisi Internasional

Universitas Negeri Semarang > FEB UNNES > Berita > Sukses Digelar, FGD “SDGs & Purpose-Driven Business” Hadirkan Perspektif Akademisi dan Praktisi Internasional

Program Studi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Semarang (UNNES) sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) internasional bertema “SDGs & Purpose-Driven Business: Leading Change, Creating Impact” pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting selama kurang lebih empat jam ini diikuti oleh sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Negeri Semarang, Universitas Semarang, Universitas Diponegoro, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia (STIEPARI) Semarang, Universitas Teknologi Yogyakarta, dan Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Bapak Dorojatun Prihandono, S.E., M.M., Ph.D. selaku Wakil Dekan III Bidang Bisnis, Riset, dan Kerjasama FEB UNNES, mewakili jajaran pimpinan fakultas. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menerjemahkan SDGs ke dalam aksi nyata serta memperkuat kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Laporan kegiatan disampaikan oleh Dr. Sri Wartini, S.E., M.M., sedangkan diskusi dipandu oleh Sandy Arief, Ph.D., CPA sebagai moderator. FGD menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Zulnaidi Yaacob dari Universiti Sains Malaysia dan Fourteena P. Dewi, MBA, MMIT dari Arc Australia Consulting sebagai narasumber.

Dalam paparannya, Dr. Zulnaidi menjelaskan bahwa integrasi SDGs dalam bisnis perlu berkembang dari tahap komunikasi simbolis dan tactical CSR menuju strategic integration, ketika purpose tertanam dalam visi, misi, strategi, dan operasional perusahaan. Ia menekankan pentingnya materiality assessment agar perusahaan berfokus pada SDGs yang paling relevan dengan sektor usahanya. Studi kasus koperasi kopi KBQ Baburrayyan di Aceh Tengah turut disampaikan sebagai contoh dampak sistemik organisasi kolektif, termasuk peluang sinergi Malaysia-Indonesia dalam rantai pasok halal dan berkelanjutan. Ia menegaskan, “profit is essential, but profit is not purpose.”

Sementara itu, Fourteena P. Dewi membahas peran bisnis sebagai penggerak perubahan positif melalui konsep impactful leadership. Menurutnya, bisnis berada pada titik temu antara society dan environment, sehingga memiliki tanggung jawab bersama dalam mendorong transformasi berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya pengembangan kepemimpinan yang mengintegrasikan mind, heart, body, dan soul, serta perpaduan technical skills, cognitive skills, dan competencies untuk menghadapi kebutuhan organisasi di era Revolusi Industri 4.0.

Dalam sesi diskusi, kedua narasumber menegaskan bahwa purpose dan SDGs tidak seharusnya berhenti sebagai simbol komunikasi publik atau tanggung jawab sosial, tetapi perlu terintegrasi secara struktural dalam organisasi maupun individu. Diskusi juga mengangkat tantangan bisnis berkelanjutan, termasuk tingginya biaya produk ramah lingkungan serta kesenjangan antara pendidikan akademik dan kebutuhan keterampilan kepemimpinan praktis. Perguruan tinggi didorong untuk memperkuat perspektif interdisipliner serta mendukung minat dan inisiatif kewirausahaan mahasiswa.

Penyelenggaraan FGD ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi Magister Manajemen FEB UNNES dalam membangun budaya akademik yang adaptif terhadap perkembangan global sekaligus mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui forum ini, peserta memperoleh perspektif strategis mengenai bagaimana organisasi dan individu dapat memimpin perubahan serta menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: