Energi yang Dekat dan Kepedulian yang Jauh

Universitas Negeri Semarang > FEB UNNES > Gagasan > Energi yang Dekat dan Kepedulian yang Jauh

Saat ini dunia menghadapi tantangan yang luas tentang ketersediaan energi, mulai dari ketersediaan energi, hingga keberlanjutan energi di masa yang akan datang. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar dalam bidang energi. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada Tahun 2024, bauran energi primer di Indonesia masih didominasi oleh batu bara sebesar 40,37%, minyak bumi sebesar 28,82%, dan gas bumi 16,17%. Artinya Indonesia masih banyak bergantung pada energi yang tidak terbarukan. Energi yang berasal dari sumber daya alam, bisa habis ketika sudah tidak ditemukan sumber baru. Ketergantungan tersebut merupakan sebuah tantangan besar untuk mengubah pola konsumsi energi di Indonesia. Hal itu sejalan dengan data Badan Pusat Statistik bahwa pada Tahun 2021 tercatat bahwa 66% listrik di seluruh Indonesia berasal dari PLTU. Artinya batu bara adalah bahan utama PLTU untuk menghasilkan listrik. Data dari Kementerian ESDM turut mencatat bahwa konsumsi listrik per kapita Indonesia pada 2024 mencapai 1.411 kWh. Tingginya jumlah batu bara yang dipergunakan sebagai bahan penghasil energi, menjadikan isu tentang emisi semakin tajam. Terlebih lagi jika saat ini kesadaran masyarakat semakin meningkat tentang energi terbarukan dan pelestarian lingkungan.

Energi sering kita dengar, terasa jauh, tetapi sebenarnya dekat. Misalnya dalam keseharian kita sebagai sitivas akademika, tidak bisa terlepas dari smartphone atau laptop. Keseharian kita membutuhkan hiburan yang tersedia melalui televisi atau menonton bioskop. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mempergunakan transportasi dari tempat tinggal menuju kampus, dengan motor, mobil, atau transportasi umum. Keseharian kita tersebut selalu didukung oleh energi, berupa listrik atau bahan bakar. Kedekatan kita dengan energi mempunyai dua sisi yang saling bertentangan. Di satu sisi, kita bisa berkontribusi untuk menghemat energi dan sisi yang lain tentunya kita bisa memboroskan. Artinya kita ikut berkontribusi dalam menyumbang berkurang atau bertambahnya emisi dengan secara tidak sadar. Kepekaan kita perlu diasah ulang dengan tidak apatis ketika ada lampu yang menyala ketika ruang kelas tidak dipergunakan. Kita juga perlu bertanya pada diri sendiri, pernahkah kita membiarkan kran air menyala di toilet?, meskipun airnya sudah tumpah-tumpah. Lalu, pernahkah kita mengabaikan TV di kelas yang menyala ketika tidak digunakan?. Apa yang diuraikan ini adalah persinggungan antara kita dan energi yang sangat dekat. Sebagai sivitas akademik, tentunya kita bisa berkontribusi untuk menghemat energi dari hal yang paling sederhana. Kontribusi tersebut dapat dibagi dalam jangka pendek maupun panjang. Mungkin terdengar klise, tetapi dalam jangka pendek, hal tersebut penting untuk dilakukan, misalnya mematikan lampu kelas jika tidak dipergunakan, mematikan kran jika air sudah cukup, dan naik tangga jika ruang kelas berada di lantai yang bisa dijangkau. Ada baiknya, kita mulai menumbuhkan kebiasaan jalan kaki, sehingga mengurangi penggunaan energi fosil yang tidak terbarukan. Dalam jangka panjang, dan tentunya sebagai kampus konservasi, Universitas Negeri Semarang, mulai mendiversifikasi ketergantungan pada listrik karena sebagaimana uraian di awal bahwa mayoritas dihasilkan dari batu bara yang banyak menghasilkan emisi. Ada baiknya dalam jangka panjang, universitas melirik tenaga surya sebagai alternatif diversifikasi energi. Secara proporsi memang tidak besar untuk mencukupi kebutuhan listrik kampus, tetapi setidaknya usaha tersebut adalah bentuk komitmen untuk menghasilkan energi terbarukan. Langkah sederhana tersebut, apabila dilakukan secara rutin, maka akan membawa dampak yang besar. Saya mengutip apa yang disampaikan oleh Lao Tzu, seorang filsuf Tiongkok, yakni “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah”. Sesuatu hal yang besar, dimulai dari hal yang kecil, di lingkungan sekitar, dan dalam keseharian kita. Pada akhirnya, jika bukan kita yang memulai, siapa lagi?

Angga Pandu Wijaya
Dosen Program Studi Manajemen FEB UNNES

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: