Dua mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (UNNES) angkatan 2023, Anindya Khadifah dan Afifah Zahrah, melaksanakan program magang internasional selama satu bulan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Filipina yang berlokasi di Manila.
Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengalaman akademik sekaligus memberikan pemahaman praktis mengenai diplomasi Indonesia di tingkat internasional.
Program magang yang dilaksanakan di KBRI Filipina, Manila (9/3), tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal secara langsung dinamika kerja diplomasi di lingkungan perwakilan Indonesia di luar negeri.
Selama menjalani magang, Anindya Khadifah dan Afifah Zahrah terlibat dalam berbagai aktivitas diplomatik dan pelayanan publik yang dilaksanakan oleh KBRI Filipina.
Keduanya berkesempatan mengamati secara langsung berbagai kegiatan kedutaan, mulai dari koordinasi internal, pelayanan kepada warga negara Indonesia, hingga keterlibatan dalam berbagai agenda yang bertujuan memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Filipina.
Selain kegiatan administratif dan pengenalan fungsi diplomatik, keduanya juga mengikuti sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan soft diplomacy atau diplomasi lunak.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan budaya, dialog, dan interaksi sosial dapat menjadi sarana efektif dalam memperkuat citra positif Indonesia di luar negeri.
Melalui program ini, kedua mahasiswa juga menyaksikan secara langsung dinamika kegiatan diplomatik di lingkungan kedutaan, seperti forum pertemuan resmi, kegiatan komunitas, hingga acara publik yang mempertemukan berbagai aktor internasional.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari praktik diplomasi modern yang tidak hanya menitikberatkan pada negosiasi politik formal, tetapi juga pada pendekatan sosial, budaya, dan komunikasi publik.
Anindya Khadifah menyampaikan bahwa pengalaman magang ini memberikan pemahaman baru mengenai praktik hubungan internasional yang selama ini dipelajari secara teoritis di bangku kuliah.
“Diplomasi tidak hanya dilakukan melalui perundingan antarnegara, tetapi juga melalui interaksi masyarakat, promosi budaya, dan kerja sama lintas komunitas yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan” ungkap Anindya.
Sementara itu, Afifah Zahrah menambahkan bahwa pengalaman mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan kedutaan membuka wawasan mengenai kompleksitas kerja diplomasi di tingkat global.
“Diplomasi lunak memiliki peran strategis dalam membangun hubungan yang harmonis antarnegara sekaligus memperkuat kerja sama internasional di berbagai bidang” imbuh Afifah.
Program magang internasional ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan perspektif global, meningkatkan kapasitas akademik, serta memahami praktik diplomasi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Melalui pengalaman tersebut diharapkan semakin banyak generasi muda yang terdorong untuk berkontribusi dalam memperkuat peran diplomasi Indonesia sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat global.




