Semarang — Ketua Badan Pendidikan Profesi Guru, Kurikulum, dan Inovasi Pembelajaran (BPPG-KIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Dr. Ardhi Prabowo, M.Pd., mengambil peran sebagai keynote speaker dalam International Symposium on Mathematics Education Innovation yang diselenggarakan oleh SEAQIM (SEAMEO QITEP in Mathematics). Dalam forum internasional tersebut, ia menyampaikan gagasan dan hasil riset mengenai pengembangan pembelajaran matematika yang bermakna melalui pendekatan Didactical Design Research (DDR).
Dalam sesi pleno (plenary session) yang berlangsung secara terpisah dari pemateri lainnya, Dr. Ardhi Prabowo membawakan materi berjudul “Didactic Transposition for Sustainable Lesson Planning: Developing Meaningful Mathematics Learning in Teaching Practicum.” Sesi pleno tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai negara, termasuk Jerman, Inggris, Australia, Prancis, dan Vietnam. Kehadiran Ketua BPPG-KIP UNNES dalam forum ini menjadi kesempatan untuk berbagi perspektif akademik dan hasil penelitian pendidikan matematika dalam lingkungan akademik internasional.
Materi yang disampaikan berangkat dari persoalan mendasar dalam praktik pembelajaran matematika, yaitu kecenderungan pembelajaran yang menekankan penguasaan prosedur perhitungan tanpa diimbangi pemahaman terhadap makna konsep matematika. Dalam penelitiannya, Dr. Ardhi menyoroti praktik pembelajaran pada topik Greatest Common Factor (GCF) atau faktor persekutuan terbesar. Pembelajaran yang disusun secara berurutan melalui pengenalan faktor, faktor bilangan, faktorisasi prima, hingga penentuan GCF ternyata berisiko membuat siswa terampil melakukan perhitungan, tetapi belum sepenuhnya memahami makna matematis dari konsep yang dipelajari.
Menurut kajian tersebut, pembelajaran matematika yang bermakna perlu dirancang secara sengaja melalui proses transposisi didaktis, yakni transformasi pengetahuan matematika menjadi pengetahuan yang dapat diajarkan dan dipelajari secara bermakna oleh siswa. Proses ini menjadi landasan penting dalam menyiapkan calon guru agar tidak sekadar menyusun urutan materi dan prosedur penyelesaian soal, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana siswa membangun pemahaman konseptual terhadap matematika.
Penelitian dengan pendekatan kualitatif tersebut mengkaji fenomena yang muncul dalam praktik mengajar mahasiswa calon guru matematika. Temuannya menunjukkan bahwa persiapan pembelajaran berbasis transposisi didaktis yang mulai dikembangkan sejak perkuliahan microteaching dapat mendukung calon guru dalam merancang pengalaman belajar matematika yang lebih bermakna bagi siswa. Dengan demikian, perencanaan pembelajaran tidak berhenti pada penyusunan perangkat ajar, tetapi menjadi proses pedagogis yang menghubungkan substansi matematika, cara mengajarkannya, dan pengalaman belajar siswa.
Gagasan ini sejalan dengan upaya pengembangan deep learning atau pembelajaran mendalam, yang menempatkan pemahaman bermakna sebagai salah satu tujuan penting pendidikan. Melalui pendekatan Didactical Design Research, perencanaan pembelajaran dapat dikembangkan secara sistematis dengan memperhatikan karakteristik pengetahuan matematika dan kebutuhan belajar siswa.
Partisipasi Ketua BPPG-KIP UNNES sebagai keynote speaker dalam forum internasional ini sekaligus memperlihatkan kontribusi keilmuan UNNES dalam pengembangan inovasi pembelajaran matematika dan pendidikan guru profesional. Gagasan mengenai transposisi didaktis dan perencanaan pembelajaran berkelanjutan diharapkan dapat memperkaya diskusi internasional tentang bagaimana calon guru dipersiapkan untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan prosedural, tetapi juga membangun pemahaman konseptual yang mendalam dan bermakna.

