Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memperkuat implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pembinaan Ideologi Pancasila bagi dosen perguruan tinggi negeri dan swasta.
Sebanyak 200 dosen Pendidikan Pancasila dari 108 perguruan tinggi di Indonesia mengikuti kegiatan yang berlangsung di Hotel Novotel Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa–Kamis, 24–26 Februari 2026.
Selama tiga hari, para peserta tidak hanya membahas materi ajar, tetapi juga strategi dalam membentuk karakter mahasiswa. Diklat ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi dosen Pendidikan Pancasila di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks.
Kepala BPIP, Prof. Yudian Wahyudi, menyampaikan bahwa pembinaan ideologi Pancasila kini telah diperkuat melalui buku teks utama yang diterbitkan BPIP bersama kementerian terkait. Buku tersebut telah digunakan mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SLTA. Saat ini, BPIP juga tengah menyiapkan buku teks utama Pendidikan Pancasila untuk perguruan tinggi.
“Semarang hampir mencapai 98 persen dalam penyelenggaraan Pendidikan Pancasila berbasis buku teks utama. Ini capaian yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan BPIP, Dr. Adhianti, S.I.P., M.Si., menjelaskan bahwa pelatihan ini difokuskan pada penguatan kemampuan dosen dalam mengonstruksikan karakter Pancasila melalui aspek pengetahuan, disposisi, dan tindakan, khususnya dalam pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Pendidikan Pancasila.
Melalui diklat ini, dosen diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi motor penggerak internalisasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan akademik.
Salah satu peserta dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rudi Salam, dalam sesi presentasi menyampaikan bahwa UNNES telah melaksanakan berbagai program dalam upaya mengonservasi nilai-nilai Pancasila. Program tersebut antara lain pengembangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kampung Pancasila, penyusunan rekomendasi strategis aktualisasi demokrasi Pancasila, serta kehadiran narasumber dalam berbagai forum pembinaan ideologi.
Lebih lanjut, Rudi menambahkan bahwa UNNES juga memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengawal Ideologi Bangsa (PIB) yang berfokus pada penguatan nilai-nilai Pancasila, wawasan kebangsaan, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. UKM ini aktif dalam berbagai kegiatan seperti diskusi, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi nasional.
Kegiatan yang dilakukan meliputi dialog interaktif, kajian wawasan kebangsaan, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila. UKM PIB UNNES menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam menjaga nilai-nilai keindonesiaan sekaligus mengimplementasikan Pancasila di era digital.
Sinergi ini menempatkan mahasiswa sebagai motor penggerak, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat, hingga tingkat desa, sekaligus memperkuat landasan akademik dan praktik nilai Pancasila.




