DIALOG UNNES-WARGA SEKARAN

Wujudkan Kampus Humanis lewat Transportasi Ramah Lingkungan

Minggu, 6 Januari 2013 | 1:03

DOK/HUMAS

Berita Terkait

Universitas Negeri Semarang (Unnes) bertekad mewujudkan kampus yang humanis. Salah satu upayanya dengan melaksanakan kebijakan tentang transportasi ramah lingkungan (green transportation). Pada hari dan jam kerja, kendaraan bermotor tidak dibolehkan masuk ke area kampus konservasi ini.

“Jika semua warga kampus berjalan kaki atau bersepeda, akan ada saling sapa dan kekeluargaan pun semakin erat. Lain halnya jika terbiasa bermotor, tegur sapa minim dilakukan dan membuat trataban karena ngebut,” ujar Teguh Prihanto, Ketua Divisi Green Architecture & Internal Transportation Badan Pengembang Konservasi Unnes, saat Sarasehan Transportasi Hijau di kelurahan Sekaran Gunungpati Semarang, Sabtu (5/12) malam. Sarasehan dihadiri wakil warga di sekitar kampus Sekaran.

“Selain itu, kami ingin mengajarkan praktik mencintai lingkungan hidup kepada mahasiswa yang kelak menjadi pemimpin bangsa,” katanya di hadapan perangkat desa dan warga Sekaran. Hadir pula Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Agus Wahyudin, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Masrukhi, dan beberapa kepala biro di Unnes.

Prof Masrukhi pada kesempatan itu mengajak warga Sekaran untuk membantu kebijakan ini. “Jika Anda sekalian tindak ke kampus di hari Senin-Jumat jam 06.30-16.00, silakan berjalan kaki, bersepeda, atau naik bus yang telah disediakan. Parkir kendaraan di tempat yang telah disediakan,” ungkapnya.

Daerah Resapan

Wilayah Gunungpati, lanjut Prof Masruki, sebelum ada kampus Unnes sangat asri. Melalu berbagai upaya, Unnes ingin mengembalikan citra baik itu. “Pembangunan embung, makin banyaknya taman dan tumbuhan adalah bukti keseriusan kami,” ujarnya. “Ke depan, berbagai kebutuhan air di kampus akan diolah dari air hujan.”

Pada kesempatan itu, beberapa warga Sekaran memberikan masukan kepada pimpinan Unnes tentang kebijakan transportasi ramah lingkungan ini ini. Di antaranya tetap dibolehkan kendaraan warga yang masuk dari samping BNI jika ada acara hajatan, proyek, maupun kematian.

Menanggapi hal tersebut, Prof Masrukhi mengungkapkan, Unnes akan selalu mendengar masukan semua pihak. Hal itu karena kerja sama yang sinergis antara kampus dan warga sudah lama terjalin. “Kami akan memberikan prioritas kepada berbagai macam kegiatan warga, khususnya yang bersinggungan langsung dengan berbagai kebijakan kampus ini,” katanya.

Diunggah oleh :
Editor: Sucipto Hadi Purnomo

20 Komentar untuk “Wujudkan Kampus Humanis lewat Transportasi Ramah Lingkungan”

  1. ulin niam

    Minggu, 6 Januari 2013 | 02:21

    saya sangat setuju dengan adanya kampus konservasi mengingat akan minimalisasi pencemaran udara,,akan tetapi, penyediaan fasiltas dan prasarana belum memadahi secara utuh,,alangkah baiknya melengkapi prasarana dan daya kemampuan masyarakat maupun mahasiswa secara menyeluruh demi terwujudnya kebijakan yang humanisasi dan harmonis
    terimakasih sudah diperkenankan untuk mengisi kolom
    salam konservasi

  2. wulan

    Minggu, 6 Januari 2013 | 03:21

    bangganya menjadi bagian dari unnes.. wish u all the best… :)

  3. Yusuf Imam M.

    Minggu, 6 Januari 2013 | 09:37

    Salam konservasi, sosialisasinya kami mohon sampai kepada mahasiswa, mgkin lewat dosen pak. biar lebih jelas. trimakasih..

  4. Saputro D.D.

    Minggu, 6 Januari 2013 | 16:22

    Setuju mas Teguh….
    Kampus Unnes semakin kondusif untuk belajar, kampus tenang tanpa kehadiran suara motor.

  5. tony

    Minggu, 6 Januari 2013 | 18:25

    Saya warga sekaran gang cempaka. Baru saja diterapkan kebijakan ini volume kendaraan bermotor lewat gang depan rumah semakin meningkat dan polusi juga meningkat.
    Saya setuju dengan konservasi tetapi kenapa hanya kampus yg dikonservasi dan malah kami warga sekitar (gang cempaka) yg kena imbas kebijakan ini. Mohon ada solusi tentang efek dari kebijakan ini. Salam

  6. Teguh Prihanto

    Senin, 7 Januari 2013 | 06:03

    Matur nuwun untuk segala dukungannya … bersama mendidik anak bangsa mencintai lingkungan.

    Pro Pak Tony :
    Mohon maaf sebelumnya jika program ini memberikan dampak yg kurang baik bagi lingkungan terutama area-area sekitarnya yang menjadi akses parkir tepi kampus. Melalui urun rembug sabtu malam, 5 januari 2012 telah dijelaskan pada tahap awal memang terjadi akumulasi kendaraan di titik tertentu. Namun hal ini akan kita kawal dan evaluasi dan akan diadakan rembugan antar warga dan Unnes berkaitan dengan pelaksanaan program. Secara perhitungan, memang ada kemungkinan mengingkat. Kami juga menyarakan mahasiswa FT/FIK yang tingga di sekitar Gg. Cempaka untuk jalan kaki saja ke kampus. Dan bagi yang berasal dari semarang bawah bisa parkir di GSG/FIP. Dengan ini semoga tidak menambah volume kendaraan bermotor yang melintas. Sosialisasi tetap berlanjut ..

  7. cah_mipa

    Senin, 7 Januari 2013 | 11:39

    MIPA….

    Parkir Penuh…. disarankan ke MUA…
    MUA.. isine mobil kabeh…
    Akhirnya ke Parkir Barat yang Becek… telat ngampus.. huhuhu…

  8. agustine

    Senin, 7 Januari 2013 | 12:43

    wah saya sudah coba naik bus dan jalan di unes asik sekali,, sepi tnang nggak ada suara kendaraan,, adanya suara-suara burung dan angin yang menggerakan pepohonan,.
    salam konservasi!
    lanjutkan

  9. hasan busri

    Senin, 7 Januari 2013 | 13:02

    Semuanya butuh proses,, saya sangat setuju dengan program ini, tapi evaluasi harus terus dilakukan, ke depan UNNES juga harus bisa bekerjasama dengan Pihak terkait agar transportasi ke Sekaran terwujud bis yang nyaman sehingga kalo transportasi umum ke Sekaran nyaman maka mahasiswa dan dosen pun akan meninggalkan kendaraan pribadi. saya yang sedang studi di Cina sangat sulit menenmukan mahasiswa pakai motor apalagi mobil karena memang transportasi mudah. maka program ini mari kita dukung. dan para pemegang kebijakan terus melakukan evaluasi, kalo ada kekurangan bukan berarti harus digagalkan akan tetapi diperbaiki demi menuju UNNES Konservasi yang Humanis dan bermartabat.

  10. cah_FIS

    Senin, 7 Januari 2013 | 13:04

    Cah_mipa: “Mangkane mangkat gasik!”

  11. Zainul Mufidah

    Senin, 7 Januari 2013 | 13:57

    good idea….. semoga menjadi contoh bagi universitas-universitas lainya..
    mengurangi arus kendaraan dan tingkat polusi,,, mari budayakan hidup sehat…
    Zainul Mufidah Pendidikan Agama Islam FIAI UII

  12. Zainul Mufidah

    Senin, 7 Januari 2013 | 13:58

    semoga berhasil dan menjadi budaya bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya…
    Zainul Mufidah Pendidikan Agama Islam FIAI UII

  13. mujiyono

    Selasa, 8 Januari 2013 | 09:19

    semuanya bagus-bagus, apakah hakikat manusia yang penuh kebinekaan akan sama perasaannya dan logika berpikirnya. maturnuwun

  14. onang

    Selasa, 8 Januari 2013 | 09:26

    Baik…baik semuanya diambil keputusan secara baik, benar tiap pribadi punya pikiran dan perasaan yang tentunya berbeda…..tak perlu diperbincangkan rentang perbedaan yang ada, jalani saja dengan suka…walau memang harus dipaksakan diri untuk terpaksa.

  15. aprillia

    Selasa, 8 Januari 2013 | 09:31

    aku masih bingung, apakah yang punya motor dan mobil itu termasuk orang yang perusak lingkungan unnes?terima kasih. Tapi saya juga memahami tujuan besar unnes.

  16. Mashudi Untung ( PJKR )

    Selasa, 8 Januari 2013 | 09:32

    Usul : Untuk memperlancar program, tidak ada salahnya dibuatkan terminal sepeda di ases masuk + dengan sepeda yang siap pakai. Ok…? salam konservasi.

  17. juni amanullah

    Selasa, 8 Januari 2013 | 09:35

    weh… TEMPAT IBADAH UNTUK PARKIR HARIAN !..
    pye jal kalau hari jumat? akan penuh parkiranya dan pasti banyak yang parkir di jalan yang dapat membuat macet.

    mohon arena parkir di tambah dan dikondisikan.

  18. Pantun Cinta

    Rabu, 9 Januari 2013 | 15:17

    Bagus sekali ni programnya…semoga terwujud rencananya menjadi kampus humanis..

  19. akhmad solikhin

    Kamis, 10 Januari 2013 | 23:19

    Pak mohon maaf, untuk warga bangkok itu akses jalannya dipindah kemana ya,,pdahal selam ini yg digunkan jaln unnes. mohon ditanggapi

  20. Harjito

    Senin, 14 Januari 2013 | 09:56

    Saya setuju dengan Mas/Pak Hasan Busri. Program harus tetap jalan, aturan main harus ditegakkan, evaluasi terus dilakukan, dengarkan aspirasi, cari solusi yang terbaik. Salam konservasi.

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2010 Universitas Negeri Semarang | Sitemap | Kredit | Arsip| Situs Lama | Masuk log
^Back to Top