Tentang Konservasi, Inilah Catatan Para Awak Media

Jumat, 18 Juli 2014 | 8:45 WIB


Tentang Konservasi, Inilah Catatan Para Awak Media
HUMAS/LINTANG HAKIM

Seratusan mahasiswa, dosen, dan awak media menyampaikan saran dan kritik untuk menguatkan visi Universitas Negeri Semarang (Unnes) menjadi Universitas Konservasi Kamis (17/7). Dalam diskusi bertajuk “Menatap Masa Depan Universitas Konservasi dari Perspektif Media”, sejumlah capaian mereka apresiasi, adapaun sejumlah kerumpangan mereka soroti.

Wakil pemimpin Redaksi Suara Merdeka Gunawan Permadi, misalnya, mengulas metamorfosis Unnes dari lembaga bernama IKIP Semarang. Sebagai pengamat dari luar, ia menilai telah terjadi perubahan persepsi publik yang cukup baik tentang Unnes. Meski demikian, upaya membangun persepsi publik tersebut perlu terus dilakukan, tidak hanya oleh humas tetapi juga keluarga besar Unnes.

“Dulu, lembaga ini dikenal sebagai produsen guru. Setelah menjadi universitas, Unnes membuka sejumlah program studi ilmu murni yang memungkinkan alumninya menjadi professional di berbagai bidang. Informasi semacam itu harus sampai kepada publik, agar persepsi publik juga berubah,” kata Gunawan.

Oleh karena itu, ia menyarankan sosialisasi inovasi dan program Unnes di media perlu ditingkatkan. Tidak hanya oleh humas, tapi juga civitas akademika pada umumnya.

Redaktur Tribun Jateng Achiar M Permana menyoroti hal lain. Wartawan yang juga alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini menilai, pilihan Unnes menjadi Universitas Konservasi adalah pilihan cerdas. Pasalnya, pilihan itu telah menjadi diferensiasi atau daya beda yang memungkinkannya lebih mudah dikenali dan diingat.

Meski begitu, ia memberi catatan,  agar visi itu juga dibumikan pada lingkungan sekitar. “Misalnya, apakah Unnes sudah berbuat untuk tata kota Sekaran? Jika radiusnya diperluas, apa dampak kebijakan Kampus Konservasu terhadap pemertahanan Gunungpati sebagai kawasan konservasi bagi Kota Semarang?”

Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengakui, sebagai konsep akademik Universitas Konservasi bersifat dinamis. Sebagai konsep, Universitas Konservasi akan mendekati sempurna jika terus digulirkan melalui wacana keilmuan. Salah satunya, melalui diskusi dan kritikan.

Oleh karena itu, ia membuka kran yang lebar bagi mahasiswa, dosen, alumni, dan wartawan untuk mengawal Universitas Konservasi.

“Semakin banyak masukan, semakin baik. Unnes adalah lembaga milik publik, yang tumbuh karena gagasan publik. Mau kritik lembaganya, boleh. Mau kritik rektornya, juga boleh,” kata Rektor disambut tepuk tangan peserta diskusi.


DIUNGGAH : Rahmat Petuguran Dibaca : 3.134 kali
EDITOR : Rahmat Petuguran

6 komentar pada “Tentang Konservasi, Inilah Catatan Para Awak Media

  1. Nilai-nilai konservasi yang sudah menjadi jiwa Unnes perlu dipublikasikan dan diaplikasikan seluruh warga Unnes. Media yang menjadi pemberi informasi mempunyai kewajiban menyampaikan apa yang menjadi tujuan kampus konservasi. Saran untuk Web Unnes dalam penyampaian informasi khususnya “home berita” lebih jelas dan tidak menimbulkan konflik. Salam konservasi

  2. Kemajuan Unnes sudah dapat kita nikmati, tidak hanya oleh civitas akademika, tetapi juga masyarakat umum. Kita dorong terus supaya semakin maju, memberi maslahat pada kita semua.

  3. Seperti yang disampaikan oleh Pak Gunawan selaku salah satu narasumber bahwa mulai tahun 2015, yang sudah di depan mata, maka visi pembangunan dunia bukan lagi Millenium Development Goals (MDGs) yang menekankan pada pembangunan, namun akan menjadi Millenium Sustainable Goals, disini ada penekanan pada kesinambungan, ataupun tujuan-tujuan yang berkesinambungan.. Saya kira itu sejalan dengan visi Unnes dengan Kampus Konservasi nya, dan menjadi tantangan serta peluang untuk lebih “Mengglobal” kan Konsep konservasi yang diusung oleh Unnes.. Sehingga kedepan menurut saya ada 3 pilihan “3 C” , yaitu, UNNES akan ter-branding sebagai CONSERVATIVE UNIVERSITY/Universitas yang Konservatif seperti halnya “stigma” yang melekat pada nama IKIP dahulu, atau akan menjadi CONVERSATION UNIVERSITY , dalam hal ini gaung Konservasi masih diperbincangkan sebatas di Kalangan lokal saja, belum mendunia, ataupun benar-benar menjadi CONSERVATION UNIVERSITY sesuai yang dicitakan dan dicapai pada 2020? Untuk mewujudkannya maka perlu upaya dari semua pihak, lapisan masyarakat dalam keluarga Unnes, baik Dosen, karyawan, maupun mahasiswa Unnes. Smoga Semangat Konservasi menjadi semangat kita bersama. SALAM KONSERVASI!

  4. Kritik: Maaf, tampaknya esensi acara ini tidak menyentuh substansi..
    Tanggapan: Terus terang ekspektasi masyarakat terlalu besar ketika unnes menyandang nama universitas konservasi. Ini terjadi karena media juga. Posisi unnes sbg lembaga pendidikan tentu tdk bisa disamakan seperti BKH atau BKSDA. Ini yg mungkun belum terjadi kesamaan persepsi. Kemudian yg terpenting adalah bagaimana kita menata konservasi ke dalam. Karena dari kita akan tampil menjadi teladan. Karena menurut sy: keteladanan adalah sebaik2 pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *