Sidenuk Memang Tahan Wereng

Selasa, 9 Agustus 2016 | 10:13 WIB


Sidenuk Memang Tahan Wereng
Setyo/Humas

Walikota Semarang Hendrar Prihadi didampingi Rektor Universitas Negeri Semarang (UNNES) Prof Dr Fathur Rokhman dan Sekretaris Utama Badan Atom Nasional Ir Falconi Margono, dan Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UNNES Prof Dr Etty Soesilowati melaksanakan panen raya padi varietas Sidenok di Kelurahan Kliwonan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (9/8).

Padi Sidenuk merupakan varietas padi hasil pemuliaan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sidenuk merupakan akronim dari Mutasi Unggul Iradiasi Batan. Varietas ini hasil diradiasi sinar Gamma untuk memunculkan sifat-sifat unggul melebihi indukannya. Keunggulan padi varietas Sidenuk antara lain memiliki batang yang kokoh sehingga tahan rebah, rasa pulen, dan tahan hama baik wereng, potong leher, maupun hama daun.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNNES menyampaikan bahwa Inovasi teknologi pertanian perlu terus didorong.

“Upaya pengembangan varietas padi salah satunya. Hal ini demi menciptakan padi varietas unggul untuk mendorong indonesia untuk swasembada pangan terutama beras” ungkapnya.

Walikota Semarang pada kesempatan ini berdialog dengan salah satu petani, Kukuh Hadi Sunarto.
“Pak Kukuh berapa hasil panen Sidenuk dibandingkan dengan varietas padi yang lain ?”, tanya pria yang akrab disapa Hendi tersebut.
“Setiap 1 hektar dengan varietas sebelumnya hanya 6,2 ton sekarang dengan varietas Sidenuk bisa panen 8,6 ton”, jawab Kukuh.
“Kesulitan apa yang dialami selama menanam hingga panen Sidenok ini ?”, Hendi kembali bertanya.
“Untuk kesulitan anakan dari padi ini sedikit tetapi yang lebih saya sukai padi Sidenok ini tahan dengan wereng” pungkas Kukuh.

Hendi juga menyampaikan, Kota Semarang tetap mempertahankan lahan sawah dalam kota melalui program lahan pertanian lestari.

“Dalam program lahan pertanian lestari itu, sawah disuakakan dan disejajarkan dengan benda peninggalan sejarah lainnya. Sawah boleh saja dijual, akan tetapi tidak boleh berubah fungsi dengan alasan apapun. Sawah tetap menjadi sawah sepanjang masa dan tetap menjalankan fungsinya sebagai areal pertanian sekaligus paru- paru kota.” ucapnya.


DIUNGGAH : Setyo Yuwono Dibaca : 755 kali
EDITOR : Setyo Yuwono

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *