Sedulur Samin dan Kearifan Lokal

Selasa, 17 April 2012 | 14:32 WIB


Sedulur Samin dan Kearifan Lokal
dok selasa legen

Samin berasal dari kata sami, yang berarti sama. Maksudnya, tiap-tiap makhluk hidup tak berbeda satu dengan lainnya. Semua punya kewajiban untuk saling menghargai.

“Selama ini orang Samin dianggap bodoh. Itu karena kebiasaan pendahulu kami, yang semenjak 1914 tak mau sekolah  dari orang Belanda yang kala itu menjajah bangsa ini,” kata salah seorang tokoh adat Samin Blora, Jawa Tengah, Winarno, saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Selasa Legen, Senin (16/4) di auditorium kampus Sekaran.

“Bahkan hingga sekarang pun kami masih melakukan hal itu. Sedulur Samin tidak bersentuhan dengan teknologi dan modernisasi karena semua itu produk barat yang tidak disukai leluhur kami,” tandasnya dalam bahasa Jawa.

Sedangkan maksud dari sedulur sikep, dia mengatakan, sikep berarti nikah atau nggarwa; sigaraning nyawa. Sebagian hidup berada berada pada Yang Maha Kuasa. Manusia sebenarnya kasinungan roh-Nya, jika terbiasa berusaha untuk mewujudkan apa yang telah terucap maupun janji yang telah dilontarkan. “Samin bukanlah aliran kepercayaan, dan tidak mengenal wayuh, tidak menyekutukan Sang Pencipta,” katanya dihadapan puluhan dosen, karyawan, mahasiswa Unnes, dan pemerhati budaya.

Winarno juga berpesan, dalam menjalani hidup, manusia haruslah saling menghargai dan menyayangi sesama ciptaan Tuhan. “Donya dumunung ing rasa, sing ketok amung titipan. Kadunungan gesang nanging ora rumangsa duwe iku luwih becik, tinimbang rumangsa gesang nanging kabeh didhaku duweke (dunia adanya di dalam rasa, yang terlihat hanyalah titipan. Diberi penghidupan tapi tidak merasa mempunyai itu lebih baik, daripada merasa hidup tapi merasa memiliki semuanya),” katanya.

Lewat tengah malam, dia bersama rombongan sedulur sikep pulang ke desanya di Kelapa Dhuwur, Blora. Meninggalkan harapan untuk universitas konservasi, supaya tak melupakan kearifan lokal yang -sepertinya- kini makin terpinggirkan.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 2.840 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

6 komentar pada “Sedulur Samin dan Kearifan Lokal

  1. Setelah mengerti dan mengenal orang samin, jangan ada lagi anggapan orang samin itu “bodo”, kalimat ini membuktikannya:
    “Donya dumunung ing rasa, sing ketok amung titipan. Kadunungan gesang nanging ora rumangsa duwe iku luwih becik, tinimbang rumangsa gesang nanging kabeh didhaku duweke.”

  2. Sayang wong mblora yang di unnes pada selasa legen kemarin sedang padho mudik dalam pengawasan Un sehingga tidak dapat bergabung dalam saresahan.

  3. Nampaknya UNNES saat ini mulai meningkatkan perannya dalam mengangkat kembali kearifan budaya lokal :)
    Saya sangat bangga

    Memang benar, kearifan lokal saat ini seolah mulai sedikit terpinggirkan oleh jaman. Namun, jika kita paham, sebenarnya kearifan lokal itu telah menembus jaman

    Nilainya yang sangat tinggi, sehingga tak banyak orang yang mau dan mampu untuk menggalinya.

    Dan, jangan pernah melupakan leluhur, jangan sampai kita durhaka terhadap leluhur

    “Aku ada karena kau ada”
    Adanya kita di dunia ini karena adanya leluhur, jika tidak ada leluhur kita tidak akan pernah ada.
    “Asal usul” ingat kembali darimana kita berasal

    Salam karaharjan. Salam konservasi

  4. saya inget falsafah yang dijalankan oleh para sedulur sikep :
    1. ‘Agama iku gaman adam pangucape, man gaman lanang’,
    2. ‘Aja drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, Aja kutil jumput, bedhog colong’ maksudnya “jangan bertengkar, berselisih paham, irihati, jangan mencuri, mengambil milik orang lain tanpa ijin “.
    3. ‘Wong urip kudu ngerti uripe, urip pisan nggo salawase’ maksudnya “orang hidup harus tahu kehidupannya, karena hidup (roh, jiwa) hanya sebuah akan abadi “.
    4. ‘Sabar lan trokal empun ngantos drengki srei empun ngantos riya sapada empun nganti pinek kutil jumput bedhog colong, nopo malih bedhog colong, nemu barang teng ndalan mawon kulo simpangi’, maksudnya “berbuatlah sabar dan trokal, menghormati sesama, jangan mencuri, mengambil tanpa ijin empunya, menemukan barang dijalan saja harus dihindari”.
    5. ‘Wong enom sing mati uripe titip sing urip .Bayi udo nagis nger niku sukma kepanggih raga .Mulane wong niku mboten mati. Nek ninggal sandhangan niku nggih. Kedah sabar lan trokal sing diarah turun temurun. Dadi ora mati ning kumpul sing urip. Apik wong selawase sepisan dadi wong sak lawsase’, maksudnya“ bila ada anak muda yang meninggal maka “kehidupannya” (sukma, jiwa) dititipkan sukma (jiwa) yang hidup. Bayi lahir telanjang akan menangis”nger” pertanda jiwa/sukma ketemu raga. Meninggal istilah masyarakat Samin salin sandangan/ganti pakaian/raga. Manusia hidup harus mengejar kesabaran dan trokal terus menerus, walau berkali-kali ganti pakaian. Berbuat baik dan sabar terus menerus sukma dan roh itu tidak akan mati, akan selalu berkumpul dengan roh/sukma yang masih hidup. Sekali berbuat baik maka akan selamanya menjadi orang baik”.
    ini perlu dipahami sama para petinggi negara, biar bisa belajar dari masayarakat samin……….

  5. Saya sangat responsif sekali. Menurut hasil Riset saya tentang Kearifan Lokal Sedulur Sikep Terhadap Lingkungan Hidup, Ternyata amazing banget, Patut kita contoh. Konservatif, dan respon terhadap lingkungan sangatlah erat sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X