“Kampung Indonesia” di Prancis yang Senantiasa Laris

Minggu, 22 Juli 2012 | 12:14 WIB


“Kampung Indonesia” di Prancis yang Senantiasa Laris
DHONI/HUMAS

Pementasan kesenian wayang kulit, tari, dan gending yang disajikan Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam Brest International Maritime Festival 2012 di Brest, Prancis, tidak pernah sepi dari pengunjung. “Kampung Indonesia” tampak memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan dengan negara lain. Ibarat jualan, senantiasa laris manis.

Semenjak 13-18 Juli 2012, tim kesenian Unnes yang terdiri atas dosen dan mahasiswa diberi kesempatan untuk mengisi acara mulai dari pukul 10.00 hingga 22.00 waktu setempat. Selama itu pula, secara bergantian tim yang berangkat dari Indonesia 8 Juli 2012 ini bergantian mengisi acara dengan tim seni dari Kalimantan Timur yang menyajikan tari dan musik tradisi.

Panggung yang sama juga diramaikan dua warga Perancis yang menampilkan pencak silat. Mereka mengaku belajar seni bela diri itu ketika berada di Indonesia.

Festival internasional ini digelar di dermaga pantai kota Brest,  kurang lebih tujuh jam perjalanan dari Paris. Angin kencang dan suhu yang dingin membuat tim harus menjaga kondisi tubuh sekaligus memastikan semua peralatan dan kebutuhan pentas tetap terjaga dari angin yang sewaktu-waktu dapat menerbangkan benda-benda besar, termasuk panggung. “Tahun ini musim panas di Perancis memang beda, tidak seperti biasanya,” kata Margono, salah satu staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Perancis.

“Kampung Indonesia” juga menyajikan beraneka ragam makanan, buah, kopi, dan batik. Semua dikelola oleh KBRI di Prancis untuk mengenalkan ragam budaya dan kuliner Nusantara.

Brest International Maritime Festival menjadi kesempatan yang baik untuk mengenalkan semua itu kepada khalayak internasional. Sambutan mereka selalu meriah tiap kali tim selesai menyajikan kesenian. Termasuk ketika workshop gamelan yang memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk belajar menabuh alat musik itu. Antusiasme tak pernah surut sepanjang festival digelar.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 4.251 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

5 komentar pada ““Kampung Indonesia” di Prancis yang Senantiasa Laris

  1. go to internasional…, itulah yang harus dikomitmenkan kepada generasi Muda. Budaya Indonesia (Khususnya Budaya Jawa) agar nantinya dapat dikenal lebih luas lagi terhadap masyarakat dunia.

  2. Maaf, ,mau tanya untuk kegiatan ke luar negeri apa untuk mahasiswa FBS ya kebanyakan? jika mengetahui info mengenai kegiatan ke luar negeri lebih cepat cari info kemana ya?
    terima kasih

  3. Maka dari itulah, UNNES musti mampu: (1) mengkonservasi budaya luhur bangsa Indonesia khususnya Jawa, dengan sigap mengakomodasi potensi budaya lokal dan memediatorinya hingga ke kancah dunia, (2) mentransmisikan pesan-pesan edukatif kepada generasi muda, khususnya dalam kapasitas budaya, yang syarat dinamika, dan (3) mengadakan perbaharuan (inovasi) terhadap budaya-budaya daerah hingga menjadi budaya bertaraf nasional dan bila mungkin bertaraf internasional; sehingga kaliau Aestetic UNNES semakin menjagat, Selamat Pak Rektor …………

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *