Menikmati Prosa dengan Beragam Cara

Senin, 8 Juli 2013 | 17:04 WIB


Menikmati Prosa dengan Beragam Cara
MEINA FEBRIANI

Menikmati prosa tak harus dilakukan melalui teks panjang yang cenderung menyita waktu.  Agar lebih menyenangkan, prosa bisa dialihwahanakan dalam berbagai bentuk.

Di tangan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes, misalnya, prosa bisa  menjadi majalah dinding, monolog, musik, bahkan drama.

Beragam “alihrupa” prosa ditunjukan Dalam Pementasan Demonstrasi Karya Sastra (Pendekar) yang diselenggarakan Sabtu (6/7) lalu. Awalnya mahasiswa membaca setidaknya 11 novel. Setelah dibaca, novel kemudian “dialihrupakan” menjadi majalah dinding. Novel kembali dialhirupakan menjadi musik, monolog, dan drama.

Ada 11 karya yang ditampilkan mahasiswa, Saman, Rumah Kaca, Dendang, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Jalan Tak Ada Ujung, Atheis, Ny. Talis, Tirai Menurun, Akar, Ronggeng Dukuh Paruk, dan Doa Perkabungan.

“Meskipun awalnya sangat sulit untuk membaca setumpuk novel, akhirnya saya menikmati. Apalagi kami diberi kebebasan untuk berkreasi dengan  membuat mading dan mementaskan karya sastra,” ucap Ketua Panitia Pendekar, Malina.

“Melalui pementasan karya sastra ini, banyak bakat terpendam mahasiswa yang muncul. Ibarat mutiara yang tertutup lumpur sekarang kilaunya mulai berpendar,” kata dosen pengampu mata kuliah Apresiasi Prosa, Dra. Nas Haryati Setyaningsih, M.Pd.


DIUNGGAH : Rahmat Petuguran Dibaca : 2.778 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *