Banyak Guru Belum Berani Menulis Buku Teks

Jumat, 10 Agustus 2012 | 11:37 WIB


Banyak guru yang belum mempunyai keberanian untuk menulis sendiri buku teks untuk keperluan mengajar. Padahal secara teoretis, banyak kelebihan yang diperoleh apabila guru bisa membuat buku teksnya sendiri.

Hal itu terungkap dalam ujian doktor Sri Rejeki Urip, dosen Jurusan Bahasa Prancis Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (2/8), di kampus Pascasarjana Bendan Semarang.

Dikatakannya, untuk mendorong para guru menulis, harus dibuat buku panduan. “Selain itu, untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan berbahasa Prancis bagi siswa, diperlukan buku teks yang berstandar internasional. Karena itu, dibuatlah buku panduan untuk mengembangkan buku teks bahasa Prancis yang mengintergrasikan KTSP dan The common European framework of reference for languages ( CEFRL),” ungkapnya, seperti dilansir pps.unnes.ac.id.

Doktor Bahasa Ke-11

Dosen kelahiran Semarang, 21 Februari 1962 ini berhasil menyelesaikan disertasinya yang berjudul Developing a Guideline for Writing a French Textbook Integrating School Based Curriculum and ‘The Common European Framework of Reference for Languages’ for Senior High School Students. Dia menjadi doktor ke-11 pada prodi bahasa di fakultas itu. Di Program Pascasarjana Unnes, dia menjadi doktor ke-111.

Tim penguji terdiri atas Ketua Promotor Prof Dr Edi Astini, Kopromotor Prof Mursid Saleh MA PhD, dan anggota promotor Prof Dr Joko Nur Kamto MPd. Sri Rejeki Urip menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 11 bulan.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 6.257 kali
EDITOR : Sucipto Hadi Purnomo

4 komentar pada “Banyak Guru Belum Berani Menulis Buku Teks

  1. agar disertasi ini tidak menguap sampai tataran teoretis belaka, ada baiknya rekomendasi yang ada ditindaklanjuti secara gradual. jangankan buku teks, LKS saja, masih banyak guru-guru yang hanya melanggan saja. mulai dari hal kecil, artikel misalnya, tidak usah muluk-muluk di jurnal ilmiah, di halaman-halaman jurnalistik warga pun masih sedikit guru yang memanfaatkannya. tradisi menulis memang belum membudaya sepertinya, kalah oleh tradisi menonton. PR buat kita bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *