Kawinkan Keroncong dan Orkestra, Unnes Catat Rekor Dunia

Selasa, 29 Januari 2013 | 12:50 WIB


Kawinkan Keroncong dan Orkestra, Unnes Catat Rekor Dunia
Dwi Sulistiawan/Humas

Sebanyak 348 pemusik dan 48 Penari sesaat sebelum tercatat di Musium Rekor Indonesia (Muri)

Satu lagi rekor dibukukan oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mengawinkan dua jenis musik yang berbeda, keroncong dan orkestra yang kemudian disingkat congkestra, Universitas Konservasi tercatat sebagai pemilik rekor Indonesia, bahkan dunia, untuk sajian musik hibridasi ini.

Pencatatan rekor oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) itu menjadi bagian dari pembukaan Dies Natalis ke-48 Unnes, Selasa (29/1). Sebelum acara yang dihelat di auditorium kampus Sekaran itu, digelar pula senam konservasi dengan iringan live gamelan Jawa dan arak-arakan budaya dari lapangan Fakultas Ilmu Keolahraan (FIK) hingga auditorim. Tak kurang dari 5.000 orang ambil bagian dalam kegiatan itu, termasuk Gubernur Jawa Tengah H Bibit Waluyo.

Seusai sajian, Manajer Muri Sri Widayati menyerahkan piagam kepada Rektor Unnes Prof Sudijono Sastroatmodjo, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Prof Agus Nuryatin, dan Ketua Jurusan Seni Drama Tari dan Musik FBS Joko Wiyoso.

“Kami memberikan rekor ini karena congkestra tercatat sebagai musik dengan pemain terbanyak, yaitu 348 orang. Bukan hanya menjadi rekor Indonesia, congkestra juga saya nyatakan  sebagai rekor dunia,” katanya setelah menyaksikan pergelaran congkestra bersama 48 penari sebagai tanda perayaan dies natalis ke-48.

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Prof Agus Nuryatin sebagai penyelenggara mengemukakan, pada kegiatan bertema konservasi peduli itu akan diselenggarakan beberapa kegiatan sebagai rangkaian dies natalis hingga puncak acara 30 Maret mendatang. Kegiatan tersebut antara lain pertandingan olah raga, seni, seminar, konservasi, kerohanian, dan kegiatan dari alumni Unnes.

Konservasi Peduli

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unnes mengemukakan tema konservasi peduli merupakan sebuah rumusan yang singkat namun jika digali akan terbentang luas makna yang dikandungnya. Konservasi dan peduli ibaratnya dua sisi mata uang yang sama nilainya dan tak dapat dipisahkan atau loro-loroning atunggal, kelihatannya dua tetapi sesungguhnya satu.

Prinsip keseimbangan itulah yang menjadikan warga Unnes bertekad untuk mewujudkan konservasi dengan selalu menjunjung tinggi prinsip perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan pengembangan terhadap sumber daya alam dan budaya luhur bangsa.

“Dengan kata lain, lewat konservasi kita harus aktif untuk turut memayu hayuning bawono, memayu hayuning bangsa, sekaligus memetri lan marsudi luhuring budaya kita,” kata Rektor.

 


DIUNGGAH : Dwi Sulistiawan Dibaca : 4.135 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

24 komentar pada “Kawinkan Keroncong dan Orkestra, Unnes Catat Rekor Dunia

  1. dirgahayu unnes ke 48 tahun……..semoga konsrvasi tetap dilakukan di bidang lingkungan maupun budaya………salut buat unnes yang bisa melestarikan budaya Semarangan lewat pagelaran tari Denok Semarang yang merupakan icon budaya kota ATLAS………moga-moga di Dies Natalies tahun depan tari warag dugder dan instrumen gambang semarang juga bisa ditampilkan………….bravo unnes

  2. Selamat ber Dies Natalis. Smoga nilai-nilai konservasi semakin tersemai ke segenap warga “green campus”… dan wayang kulitnya juga Oke dan smoga tetap bisa menjadi perhelatan rutin di kampus ini.

  3. Moga selalu menjadi inspirasi kemajuan bagi dunia modern seperti sekarang, sebuah tindakan penuh semangat dan kepedulian. Contoh yang sangat baik……. Dirgahayu UNNES ke-48……. Maju dan Jaya selalu……….. ‘Pasti bisa’………..

  4. mohon maaf saya mau tanya apa betul ya UNNES mengadakan SPMU yang dilaksanakan di UNNES? dan pelaksanaanya sehari setelah pengumuman SBMPTN bagi yang tidak lulus SBMPTN? dan saya mau tanya jika ikut SPMU biaya kuliah tetap sama seperti yang diterima jalur SBMPTN apa ada perbedaan

    Teriimakasih atas jawabannya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X