SEMARANG – Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si., menawarkan perspektif unik dalam memaknai hasil ibadah Ramadan. Dalam apel pagi yang digelar pada Senin, 30 Maret 2026, ia mengibaratkan manusia yang berhasil meraih hakikat Lailatul Qadar layaknya sebuah satelit yang mengorbit secara otonom.

“Persis gambarannya seperti satelit yang sudah mengorbit di angkasa. Sudah enggak perlu lagi ada pesawat yang mengendalikan, dia sudah melakukan tugasnya secara otonom dan dipastikan dia hanya melakukan kebaikan,” ujar Prof Edy di hadapan para dosen dan tenaga kependidikan.
Menurut pakar psikologi pendidikan ini, keberhasilan spiritual seseorang tidak lagi memerlukan kendali eksternal jika sudah mencapai titik “orbit”. Layaknya satelit yang bekerja melakukan pemindaian, memotret, dan memberi informasi sesuai program, manusia yang memiliki mental set Lailatul Qadar akan terjaga untuk hanya melakukan apa yang Tuhan sukai.
Kemenangan yang Teruji
Edy juga mengajak sivitas akademika untuk berefleksi mengenai makna kemenangan Idul Fitri. Ia menekankan bahwa puasa adalah proses mengelola energi negatif dari nafsu menjadi energi positif melalui kesadaran akan kehadiran Tuhan.
“Pertanyaannya, apakah benar semua yang sudah berpuasa itu menang sehingga pantas merayakan pesta kemenangan?” cetusnya. Bagi Prof Edy, pemenang sejati adalah mereka yang mampu mengelola dorongan dalam dirinya untuk melakukan kebaikan setelah satu bulan penuh melatih psikologi batiniah.

Beban Dendam dan Kesehatan Mental
Selain aspek spiritual, Prof Edy menyoroti pentingnya forgiveness atau memaafkan dari sudut pandang kesehatan mental. Ia memperingatkan bahwa menyimpan dendam merupakan tindakan yang merugikan diri sendiri karena menyedot energi yang luar biasa besar.
“Ngopeni (memelihara) dendam kesumat itu butuh energi dan itu merusak diri kita. Banyak penyakit timbul karena kita menyimpan dendam,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam banyak penelitian, memaafkan memiliki kontribusi vital bagi kesehatan mental. “Kurang ajar orang ini, buat kesalahan yang tidak akan pernah saya ampuni, itu menyedot energi yang luar biasa, energi yang negatif dan kita menjadi kehilangan kekuatan.”
Agenda Halal Bihalal

Pesan ini menjadi pengantar bagi rangkaian kegiatan Halal Bihalal (HBH) FIPP UNNES yang akan dilaksanakan pada 1 April mendatang. Acara tersebut rencananya akan menghadirkan cucu dari ulama besar Kyai Sholeh Darat—tokoh yang dikenal sebagai guru dari RA Kartini.
Di akhir sambutannya, Edy mendorong peningkatan kinerja di bulan-bulan mendatang, terutama dalam tiga ranah: kontribusi akademik, tanggung jawab mencerdaskan mahasiswa, serta tugas sosial kemanusiaan dan spiritual. “Saya ingin kita semua meningkatkan kinerja kita. Moga-moga termasuk saya memiliki hal yang bisa dikontribusikan kepada UNNES,” pungkasnya.



