FEB UNNES Siapkan Sistem Rain Harvesting untuk Antisipasi Musim Kemarau

Universitas Negeri Semarang > FEB UNNES > Berita > FEB UNNES Siapkan Sistem Rain Harvesting untuk Antisipasi Musim Kemarau

Semarang — Dalam upaya mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Semarang (FEB UNNES) mulai mengimplementasikan sistem rainwater harvesting sebagai langkah strategis menghadapi potensi kekeringan di musim kemarau.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh staf Tata Usaha (TU) FEB yang saat ini tengah mempersiapkan infrastruktur penampungan air hujan. Air yang terkumpul dari curah hujan akan dimanfaatkan untuk kebutuhan non-konsumsi, khususnya penyiraman tanaman di lingkungan kampus. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam mendukung praktik konservasi lingkungan berbasis efisiensi sumber daya.

Secara teknis, sistem yang dikembangkan mengintegrasikan tampungan air hujan dengan pompa air yang berfungsi mendistribusikan air ke jaringan sprinkler otomatis. Teknologi ini memungkinkan penyiraman tanaman dilakukan secara terjadwal dan efisien tanpa bergantung sepenuhnya pada air tanah atau sumber air bersih lainnya.

Dari perspektif keberlanjutan, implementasi rain harvesting ini memiliki beberapa manfaat strategis. Pertama, mengurangi tekanan terhadap penggunaan air bersih, terutama saat musim kemarau. Kedua, meningkatkan efisiensi operasional dalam pemeliharaan ruang terbuka hijau kampus. Ketiga, menjadi model praktik baik (best practice) dalam pengelolaan air berbasis konservasi yang dapat direplikasi oleh unit lain di lingkungan kampus.

Dalam kajian literatur internasional (misalnya studi di jurnal Water Resources Management dan Sustainability), sistem rainwater harvesting terbukti mampu menurunkan konsumsi air bersih hingga 30–50% untuk kebutuhan non-potable. Selain itu, pendekatan ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).

Namun demikian, terdapat beberapa asumsi dan tantangan yang perlu diperhatikan. Sistem ini sangat bergantung pada intensitas curah hujan, sehingga kapasitas tampungan dan manajemen distribusi harus dirancang secara optimal. Selain itu, diperlukan pemeliharaan berkala untuk menjaga kualitas air dan kinerja pompa serta sprinkler.

Secara keseluruhan, inisiatif yang dilakukan oleh FEB UNNES ini menunjukkan pendekatan proaktif dalam menghadapi krisis air sekaligus memperkuat identitas UNNES sebagai kampus konservasi. Ke depan, integrasi teknologi serupa dengan sistem berbasis IoT atau sensor kelembaban tanah berpotensi meningkatkan efisiensi dan akurasi penggunaan air secara lebih adaptif.

Langkah ini bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga representasi perubahan paradigma menuju pengelolaan sumber daya yang lebih bijak, resilien, dan berorientasi jangka panjang.

Leave a Reply

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: