Senam, Sarapan, dan Nyanyi di Minggu Pagi

Senin, 10 Januari 2011 | 17:04 WIB


Senam, Sarapan, dan Nyanyi di Minggu Pagi
HUMAS/AGUS

Senam Massal Minggu Bugar di Pasar Krempyeng Nyeni, Minggu (9/1).

Jarum jam Minggu pagi baru menunjukkan pukul 06.00. Namun keramaian sudah mulai tercipta di sepanjang jalan depan Markas Komando (Mako) Resimen Mahasiswa (Menwa) kampus Sekaran atau yang biasa disebut Hutan Konservasi.

Mereka yang datang tak hanya mahasiswa, dosen, ataupun karyawan, tapi juga siswa SD/MI dan guru-guru mereka. Malahan dua yang disebut terakhir itu tamapak lebih dominan dengan seragam olahraga masing-masing.

Dari perangkat sound system, terdengar suara musik mengentak-entak, seolah hendak membangkitkan semangat siapa pun yang datang. Dengan panduan seorang instruktur senam  lewat pelantang, mereka yang datang pun berbaris memenuhi sepanjang jalan. Merentang, mulai dari depan ATM Mandiri hingga perempatan yang menghubungkan antara ATM Mandiri, FMIPA, dan FBS.

Tak pelak lagi, jalan berasapal yang diteduhi pepohonan rindang itu pun berubah jadi lapangan “tiban”, lapangan senam massal. Umbul-umbul sponsor yang dipasang di kiri-kanan jalan, juga para pedaganag yang menggelar dagangannya, seolah-olah mengimbuhi kemeriahan itu.

Ya, pagi itu panitia penyelenggara memang sedang memberi warna senam pada Pasar Krempyeng Nyeni yang dihelat setiap hari Minggu. Senam Massal Minggu Bugar tajuknya.

Dipandu tiga instruktur pimpinan Edi Purwanto, senam bugar berlangsung dengan penuh semangat dan keriangan di antara ratusan peserta. Keceriaan juga terpancar jelas dari wajah anak-anak dan guru ketika mendapati diri mereka mendapatkan doorprize.

“Boleh jadi, inilah senam dengan peserta terbanyak sepanjang penyelenggaraan Pasar Krempyeng Nyeni,” ujar Ucik Fuadhiyah, salah satu panitia.

Apa pula kata peserta? “Besok Minggu lagi ya, Mbak,” kata Aldi, siswa salah satu MI di Sekaran dengan wajah ceria.

Ada lagi yang membuat para pengunjung tampak girang. Dengan sangat murah, mereka bersama keluarga bisa bersantap pagi secara lesehan di  situ, di bawah kerindangan pepohonan dan semilir angin bukit Sekaran. Duh, asyiknya….


DIUNGGAH : Sucipto Hadi Purnomo Dibaca : 7.302 kali
EDITOR : Sucipto Hadi Purnomo

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *