Dua Kali Tak Lulus Uji PLPG, Dikembalikan ke Daerah

Kamis, 24 November 2011 | 13:56

Dwi Sulistiawan/Humas

Para guru saat mengikuti PLPG.

Berita Terkait

Lebih kurang 40% dari 11.000-an peserta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Rayon 112 Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak lulus. Mereka harus mengulang dengan mengikuti ujian beberapa materi. Namun jika tetap tidak lulus, mereka akan dikembalikan ke daerah masing-masing.

’’Ini tidak hanya di Rayon Unnes, tapi seluruh Indonesia. Kenyataannya memang seperti itu, banyak peserta sertifikasi profesi tidak bisa lulus,’’ kata Sekretaris Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 112 Unnes, Drs Masugino MPd di ruang kerjanya Gedung H lantai I Kampus Unnes Sekaran, Kamis (24/11)

Dia menuturkan, ketidaklulusan itu sekaligus menjadi terapi kejut bahwa ketika mereka mengikuti sertifikasi sudah pasti lulus. Itu hanya pandangan yang tidak benar. Ada proses ujian yang harus diikuti dan semua dilaksanakan secara serius.

’’Jangan sampai beranggapan begitu lolos bisa ikut PLPG dan pasti lulus. Tidak seperti itu. Kami melakukan proses ini sesuai dengan standar, sehingga yang dinilai tidak memiliki kompetensi mengajar secara profesional, tentu tidak lulus,’’ katanya.

Mereka memang masih boleh mengulang sekali dalam ujian ulangan yang harus diikuti sesuai dengan prosedur. “Jika tetap tidak lulus, mereka akan dikembalikan lagi ke Dinas Pendidikan yang mengirimkan.”

Sekadar catatan, peserta PLPG Rayon 112 Unnes terdiri atas utusan Kabupaten Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Salatiga, Semarang, Pekalongan, dan Tegal.

Di samping itu, ada kiriman dari rayon lain yang tidak memiliki program studi sesuai dengan yang dimiliki guru, misalnya Prodi Penjaskes dan Seni Budaya.

Harus Dibina

Masugino mengatakan, bagi yang tidak lulus, Dinas Pendidikan daerah diberi catatan. Guru tersebut harus mendapatkan pembinaan khusus, terutama bidang yang memang lemah, seperti variasi metode pengajaran ataupun penguasaan materi.

’’Selanjutnya terserah lembaga tersebut. Sebab, bisa saja para guru itu diikutkan lagi pada sertifikasi berikutnya atau bisa juga tidak, terserah daerah. Begitu pula jika ternyata ada pertimbangan lain ditempatkan sebagai tenaga nonkependidikan, semua diserahkan ke daerah,’’ tuturnya.

Yang pasti, selama ini peserta PLPG berasal dari semua guru. Siapa pun bisa mengikuti asalkan ditunjuk oleh daerah dan lolos ferivikasi administrasi. Hal ini yang mengakibatkan bervariasi kemampuan guru yang menjadi peserta.

’’Karena itu, kalau tahun depan ada uji awal peserta yang akan mengikuti sertifikasi, tentu sangat baik. Hasilnya diharapkan lebih baik, sehingga guru yang ikut sertifikasi sudah benar-benar merupakan hasil saringan dan tidak mengecewakan saat mengikuti PLPG,’’ ungkapnya.

Menurutnya,ini tuntutan agar kualitas guru semakin bagus pada masa depan. Dengan begitu, guru sudah tersaring sejak awal di daerah, kemudian menjadi peserta PLPG, dan akhirnya mendapatkan sertifikasi kompetensi menjadi guru yang profesional.

’’Kalau alur ini terus dilakukan secara konsisten oleh Kemdikbud, saya yakin 10 tahun ke depan guru-guru di Indonesia akan berkualitas. Ujung-ujungnya tentu menghasilkan siswa yang bermutu juga,’’ katanya.

Diunggah oleh :
Editor: Dwi Sulistiawan

34 Komentar untuk “Dua Kali Tak Lulus Uji PLPG, Dikembalikan ke Daerah”

  1. S.sahlan

    Jumat, 25 November 2011 | 09:29

    Jika ada teman guru yang sakit stroke……apakah harus dikirim oleh dinasnya….?pada saat plpg beliau menulispun tidak bisa ,,berdiri lamapun pada saat latihan mengajar tidak kuat? Kondisi spt ini bagaimana?coba kordinasikan dinas dgn Unnes……salam

  2. AHMAD MUBAROK, S. Pd

    Selasa, 29 November 2011 | 07:50

    Sebelumnya Maaf mau taya,peserta PLPG bisa lulus berdasarkan nilai pos test saja atau rekap dari semua kegiatan PLPG yang telah dilaksanakan???dan nilai kelulusan untuk tahap mengulang ujian tertulis nilai datambahkan dengan nilai pos test pertama tidak???Terima kasih.

  3. Ahmad Dahlan

    Senin, 5 Desember 2011 | 21:25

    Apakah Unnes senang kalau banyak peserta PLPG titipan banyak yang TIDAK LULUS? Apakah hal itu menunjukkan tingkat keprofesionalan, keobyektifan, dan ketransparanan? Apakah ada ralat dari TIDAK LULUS menjadi LULUS dan dijamin tidak ada faktor “x”? Saya ikut PLPG tahun 2011, teman saya tidak mengajar sesuai ijasahnya, tidak bisa IT, perangkat saya ikut nyumbang membuatkan, ujian pertama hasilnya MENGULANG UJIAN TULIS, ujian ulang hasilnya TIDAK LULUS, so apakah saya akan didiskualifikasi dari guru? Pengalaman mengajar 13 tahun, ijasah saya dari Institut Kependidikan, ijasah SMA saya dari sekolah guru masih kalah dengan lulusan SMA yang menjadi guru dan lulus, apakah berarti saya Tidak Layak lagi menjadi GURU?

  4. samina

    Selasa, 6 Desember 2011 | 15:34

    @Ahmad Dahlan.. anda tidak didiskualifikasi jadi guru pak, cuman ndak dapat tunjangan sertifikasi aja..

  5. Ahmad Dahlan

    Rabu, 7 Desember 2011 | 12:15

    silahkan melihat aturan baru, terdegradasi menjadi tenaga administrasi atau apapun dan bukan menjadi guru, disisi lain lembaga kependidikan ini juga masih meragukan lulusan dari lembaga kependidikan yang lain walaupun sama-sama negeri

  6. bazari

    Jumat, 23 Desember 2011 | 06:17

    di kelas paud angkatan I ada yg tdk bisa mengajar sama sekali (siti asiah) berarti nilai SUP tidak bisa lulus ,ada juga peserta dg masa kerja 6 th non pns dia tidak sesuai ijasahnya karena dari SI perikanan kok juga malah dia lulus ya pak ,bukankah aturannya ijasah harus sesuai dengan jurusanny ?

  7. arif

    Senin, 9 Januari 2012 | 02:44

    memang gak beres. hancur,,,buat peraturan sesuka hati… ada yang mpe 30 tahun sudah mengajar masak gak lulus juga,,yang jelas sudah tau manis pahit nya jadi guru..n sudah berapa generasi menjadi orang sukses dia buat,,tetap gk lulus,peraturan apa itu…bukan gak bisa mereka mengejakan semua itu.. tapi udah banyak yang tua…gak sanggup otaknya menampung semua itu.. hargai itu…

  8. cakep s

    Jumat, 13 Januari 2012 | 21:45

    seyogyanya peserta PLPG yang masa kerjanya sudah lebih dari 20 tahun , umur mendekati 50 tahun, apalagi sudah S1, dapat dipertimbangkan kelulusannya. Beliau-beliau sudah mencetak orang-orang, yang mungkin salah satunya ada yang menjadi; guru, dokter, dosen atau bahkan ada yang menjadi. pejabat penting yang menguji sertifikasi guru. Bila ada kasus seperti ini, apa beliau guru ini masuk kategori guru tidak profesional….

  9. seno

    Jumat, 11 Mei 2012 | 16:07

    @ arif dan @cakep s = saya sangat setuju dengan usulan anda…, apakah mungkin bisa disamakan beliau2 yang usianya sudah tidak muda lagi dengan guru2 yang masih muda dan fresh, tapi saya sangat yakin beliau2 pasti sudah mempunyai pengalaman yang banyak sekali dalam mengajar..,
    mohon juga dipertimbangkan..,
    jangan hanya penilaian dari ujian yang mana membutuhkan kemampuan otak yang prima..

  10. mr..Jo

    Senin, 28 Mei 2012 | 17:11

    PLPG 2011 kenapa hanya diberi kesempatan ujian ulang tulis sekali, padahal sebelum tahun 2010 kebawah dan 2012 ujian ulang lebih dari 1 kali….apakah ini adil?

  11. Ahmad Dahlan

    Rabu, 6 Juni 2012 | 21:45

    semoga yang gagal di PLPG 2011 tidak harus PLPG lagi di tahun berikutnya, merasakan gagal sungguh sangat menyakitkan (cenderung dilecehkan), apalagi ketika semua kewajiban dari widyaiswara sudah terlunaskan, wajar kami menuntut rasa keadilan karena kami merasakan “ada SESUATU” pada hak hak kami

  12. alimaftukhi

    Sabtu, 1 September 2012 | 16:21

    coba bayangkan kami mengabdi puluhan tahun,dan kami mengalami stres yang menahun.kami juga memiliki penyakit yang menahun.umur saya sudah tua .kami mengabdi dimasarakat lewat pendidikan di MI sudah cukuop lama , kalo bisa jangan ada UKK untuk ertifikasi GURU kasian apa bila ukk di berikan kepada GURU tersebut .harapan kami adalah untuk meminta hak sebagai GURU minta di kesejahteraan hidupnya supanya anak dan istri terpenuhi saya minta di mudahkan dalam pelaksanaan PLPG di unnes.jangan sampai ada GURU yang mengulang!!!!!!terimakasih

  13. Eswahyudi Kurniawan

    Minggu, 16 September 2012 | 18:49

    Mengapa web portofolio tidak bisa dibuka nggih?

  14. SATORI

    Jumat, 19 Oktober 2012 | 08:28

    TIDAK ADIL / SUNGGUH TER……..LA…….LU ! Kalau hanya melihat nilai di atas kertas , mungkin hasil nyontek / jawaban spekulasi sebab soalnya pilgan , tolong hargai guru senior , sebab ukuran soal 100 utk guru tua dgn guru muda jelas orang tua akn kalah , pakai nalar ilmiah yang lebih pair jangan disama rtakan guru tua dengan guru yang muda !

  15. Ali Akhmad Basyari

    Rabu, 24 Oktober 2012 | 16:17

    Pak AHMAD DAHLAN, Pak SATORI, Calmdown-calmdown…!!! Mari Positif Thinking..!!! I think Unnes is good university. Kl lulus sma ya gak keren (yang namanya telor ya ada yang ga baik, saya gak pernah menemukan kelas yang semuanya pintar matematika, semuanya pintar IPa, semuanya pintar menyanyi, tapi ada yang baik di IPA ada yang baik di IPS, dst, sy yakin semuanya juga gt ko).
    Pak BAZARI, Pak ARIF, Pak CAKEP..Bisa saja guru-guru yang tidak lulus tidak tepat jadi guru, mungkin lebih tepat jadi kepala sekolah, pengawas atau ka UPTD karena bidangnya adalah kepemimpinan hehe, atau yang lainnya..
    Pak SAHLAN, Pak SENO, Pak ALIMAFTUKHI, Buat yang stroke and guru-guru yang ngrasa profesi guru itu bukan bidangnya and lain2 mending ambil pensiun dini jika pesangon 1,5 M (sing lagi rame ntu) bisa terwujud. “ini bentuk penghargaan yang baik” kata guru-guru kebanyakan ce yang udah mengabdi puluhan taun. Ada pepatah mengatakan “belajar di usia senja bagai menulis di atas air”, memaksakan guru-guru sepuh untuk meningkatkan kompetensi bagai menulis diatas air KECUALI guru-guru yang sudah terbiasa membaca.
    And the last, Guru Indonesiakan ada 2 jutaan tuh, anggaplah 1 juta pensiun dini. Trus Solusinya, rekrut guru-guru muda seperti ane ini hehe piss :-), tentunya seleksi dengan prinsip KEJUJURAN maka hasilnyapun akan berkualitas.
    Buat yang gag disebutin namanya ndukung aja deh pendapatq hehe..
    YA ALLAH, limpahkanlah rahmatmu untuk kami yang bergerak di dunia pendidikan. Semoga KONSEP KEJUJURAN ada di semua lini, di kelas, di sekolah, di kantor, di ruang ujian, di ruang pengawas, di ruang koreksi, di ruang stakeholder, daaannn dimana-mana, jadikanlah kami orang2 terpercaya. Amiin.

  16. Pujiono

    Kamis, 29 November 2012 | 20:10

    Saya berharap kiranya guru yang tidak lulus UKA 2x tidak usah dikembalikan ke daerah, tetapi jika berminat biarkan ia mengikuti uji kompetensi setiap tahun, idep-idep meningkatkan profesinya.

  17. yunilawati

    Selasa, 4 Desember 2012 | 14:19

    Maaf pak saya ingin nanya jg mslah plpg 2012 ini..apakah yg dinilai selama plpg itu hanya ujian tertulis dikertas sj…bgmn dengan penilaian selama kita plpg, jg nilai peer teachingnya…apakah tdk di nilai jg..krn saya merasa smua ini tdk adil… orang yg mencontoh hasil ujian saya lulus sdgkan saya sendiri tdk lulus…dimana letak keadilannya pak……trs apa solusinya lg

  18. lilis p

    Rabu, 12 Desember 2012 | 14:19

    Yunilawati..byk kejadian sepertimu,bahkan materi plpg yg diberikan jg gak mengena pada sasaran ujian, kwalitas soalnya minta ampun susah dimengerti tuk usia tua menuju 50 th..(0tak,mata,kondan dah gak bersahabat). Apa gak da cara lain dikembalikan ke daerah pak…sedangkan kt daerah mnunggu dr pusat…perlu diketahui sy ngajar bid study praktek yg sering ikut lomba2,dan menyabet kejuaraan yg selalu membawa harum nama sekolah…..

  19. feby

    Sabtu, 11 Mei 2013 | 15:47

    Masugino yang terhormat, memang idealisme yang anda miliki sangat tinggi, tapi tidak serta merta memarginalkan semua guru,.. anda harus juga melihat realita di lapangan pd proses ujian tulis plpg,.. banyak guru2 yang ketahuan membawa catatan ketika ujian,.. Nyatanya Lulus,.. tp yg mengerjakan dengan sungguh 2 di pandang …. jelek gimana,..

  20. imam

    Selasa, 9 Juli 2013 | 23:53

    klo ingin pendidikan maju, hal pertama yg harus dpikirkan adlah perhatian khusus utk universitas pencetak guru, kampus abal2 dilenyapkan jangan tanggung2 beri hukuman yg berat klo bsa. trus perekrutan guru PNS harus diperketat dan rumit utk mendapatkan putera2 terbaik bangsa. klo bsa lakukan audisi kyak x factor dan masterchafe kemudian tinggikan gaji, klo dtenga jln tdk beres pecat saja. dijamin indonesia akan maju. tdk dpt dipungkiri mhaiswa yg kulia di keguruan adl calon masiswa buangan setelah mrk tdk diterima difakultas bergengsi akhirnya ikut tes FIP,

  21. akbar

    Selasa, 16 Juli 2013 | 14:53

    Ass.saya th 2011 ikut plpg tdk lulus,th 2013 ini ikut uka/ukg di nyatakan tdk jadi peserta plpg 2013 d karenakan tdk memenuhi poin k 2 (blom jd guru th 2005), dan d verifikasi data masa krj sy + 3 thn. padahal sy sdhjd guru dari th 2003,sdh 10 thn sy jd guru.utk memperbaiki verifikas data caranya gmn pak?

  22. f.rozi

    Rabu, 14 Agustus 2013 | 14:02

    adanya plpg dinyatakan LULUS sebenarnya tidak akan dan tidak menjamin keberhasilan pendidikan lebih maju. Banyak guru yang sudah sertifikasi lulus tapi rangking pendidikan yang ada tetap ada di bawah standar. malah yang ada mereka maju dibidang ekonomi, sawah baru, punya mobil baru, rumah baru, bahkan tambah perluasan tanah atau rumah kalau bukan istri baru, waaaah, guawaaat jadinya. Syukur Alhamdulillah kalau digunakan untuk daftar haji yang lama daftar tunggunya. kesimpulan saya sih, faktor keberuntungan yang ada. mereka bisa nyontek, bisa “tolong buatkan ini itu” dan lain22. Untuk ali Akhmad Basyari, anda orang tak tahu diri, egoistik dan berkarakter egosentrik yang tinggi . sadar kalau negara ini didirikan oleh pejuang tanpa pamrih, sadar kalau anda pinter baca karena dari guru kelas satu sd anda. hargai, dengarkan jeritan mereka untuk doa orang – orang teraniaya atas ketidak adilan negara ini.

  23. colys .c

    Minggu, 18 Agustus 2013 | 23:17

    Menurut pendapat saya, sy dah jdi guru kurang lebih 35th. sy setuju dg adanya PLPG. guru senior ga semuanya jelek tp jg ada yg bagus, spt siswa, dokter , kepsek. penilik, kep UPTD atau pejbat apapun pastu ada yg BODOH dan PINTAR. Begitu juga guru yunior ada yg BODOH dan PINTER. namun sesungguhnya manusia itu ga ada yg bodoh( kecuali otaknya ga bener/aqiu rendah), cuma mslhnya mereka tuh pd MALAS2 palagi dah lihat duit buanyak, di pikirannya. motor , mobil, rumah, klo perlu istri BARU. mslh Mulang, apa kata nanti. jdi ga guru tua ato muda sama aja TIDAK MAU BEROBAH, BGMN MENJADI GURU YG BAIK YG BISA MEMBUAT SISWA MEMAHAMI DAN MENGERTI ILMU YG DI TERIMANYA, BERTANGGUNG JAWAB SERTA JDI SEMPEL YG BAIK. Saya setuju guru harus berobah mengikuti perkembangan zaman, masak negara lain dah sampe di bulan kita msih dodok aja di bumi??? murid bs IT, masak guru ga bisa??? lantas di mana WIBAWA as a teacher? maka jln satu2nya mau berobah dan membuang sifat malas. Berilah otak dg makanan yg bergizi pasti otak akan mampu untuk di ajak berpikir yg rumit2 and ilmu yang baru, ok?

  24. karso utomo

    Jumat, 30 Agustus 2013 | 21:10

    Kepada Den bagus Ali A.Basyari anda orang yang takabur sok lebih hebat dr org lain.Soalnya anda masih muda belum mikir kebutuhan dan biaya kuliah anak. Jadi wajar statemen anda sok keminter dan arogansi. kalo sy trus terang yg utama mikir kebutuhan and biaya pendidikan anak. Mau lulus apa tdk yg penting sy dah manut apa yg dimaui pemerintah.suruh PLPG ya nurut walaupun usia sy dah 50 tahun.Lulus apa tidak yg penting sudah dijalani.

  25. karso utomo

    Jumat, 30 Agustus 2013 | 21:33

    jan-jane sing lulus PLPG kinerjane yo ngono2 wae.entuk tunjangan sertifikasi malah kanggo tuku mobil.ora menehi contoh sing apik karo sing durung entuk duit sertifikasi.gayane guru sing sertifikasi sok banget karo sing durung podo sertifikasi. yo ora opo2 iku mau manusiawi.mulakno wong kang wis entuk duit tunjngan sertifikasi kudune kanggo ningkate kerjane. dudu kanggo tuku mobil.soale kuwi mau esih enom, durung mbandani kuliahe anak.

  26. epol

    Selasa, 15 Oktober 2013 | 20:08

    memang sungguh tidak adil karena banyak siswa yang berprestasi dari guru
    terutama guru sd yang sudah tua..
    yang ikut sertifikasii
    seharusnya dalam pelaksanaanya dosen lebih bijaksana dan berperasaan dalam mengawas peserta sertifikasi khususnya yang sudah tua…
    dan mungkin klo mereka dilahirkan saat sekarang mereka bisa lebih dari sekedar pengajar..yang bisa pintar dalam segala hal..
    karena dulu guru tidak bisa menikmati fasilitas pendidkan sesempurna sekarng

    ingat bahwa kita memulai sesuatu yang berbau pendidikan pasti dari guru mulai dari baca tulis dan apa saja..
    jadi perhatikanlah kesejahteraan guru melalui ajang sertifikasi ini
    terimakasi

  27. donis

    Senin, 21 Oktober 2013 | 17:46

    saya setuju sekali kalau yang tua lebih di prioritaskan karena mereka sangat berjasa,kita yang masih muda jalan masih panjang masih perlu belajar lagi..semoga guru senior semua lulus..amin..

  28. Amar Ma'ruf

    Sabtu, 14 Desember 2013 | 08:19

    Gini aja, apa yang dipunyai kemampuannya diterapkan aj waktu ujian PLPG. Lulus gk nya asal semua proses dengan kejujuran, pasti OK. Yang dapet Sertifikasi biar aj mau buat beli apa aj itu haknya, tah kewajibannya ngajar juga dipenuhi dan banyak anak didiknya yang jadi orang sukses. Hargai yang tua-tua sudah pengalaman jadi guru puluhan tahun, yang sopan “jangan suruh pensiun dini”, beliau dulu jadi guru gk ada iming-iming gaji besar/ tunjangan sergur.

  29. Dulkodri

    Sabtu, 21 Desember 2013 | 09:10

    Mohon dipertimbangkan ,! mereka yg tdak lulus mayoritas para senior yg masa kerjanya lbh dri 20 tahun, apakah kelulusan atw kprofesionalan dtentukan dlm 10 hari ? sedangkan materi nya tentang kurikulum 2013. Tlong PERTIMBANGKAN !!!

  30. asheli

    Selasa, 31 Desember 2013 | 11:43

    untuk para guru coba dengarkan salah satu lagu kosidah yg populer, bgini bunyinya ” KAU JADI KIAYI ITU BERKAT GURU, KAU JDI INSINYUR ITU KARENA GURU, KAU JADI DOKTER ITU JASANYA GURU,
    GURU TAK BERHARAP PUJIAN, GURU TAK BERHARAP BALASAN”
    mau nambahin ah liriknya, . GURU HANYA HARAPKAN GAJI, GURU HANYA INGIN TUNJANGAN,

    GU RU SESEORANG YG BISA DI GUGU( DI DENGAR UCAPANNYA ) DAN DI TIRU PRILAKUNYA

  31. Yanuar, S.Pd

    Kamis, 2 Januari 2014 | 23:52

    menjadi pukulan yg terberat bagi peserta PLPG yg tdk lulus beban psychologis bertambah,lalu apakah menjadi jaminan dengan hanya pendidikan PLPG selama 10 hari bs di anggap guru profesional..begitu sederhananya menentukan guru yg di anggap profesional,padahal guru yg bersangkutan memang bs di bilang guru masih muda daya pikir dn analisanya msh baik,..bagaimamn dengan guru yang sdh sepuh yg sdh mengajar membimbing anak2 puluhan tahun bahkan lebih..hanya karena tidak bisa mengerjakan soal UTN..disebabkan msh bnyk memikirkan beban dn tanggung jawab di sekolah yg begitu padat dn berat..sy harap pemerintah dn khususnya lembaga UNNES untuk lebih jeli dan bersikap adil dalam melakukan proses penilaian agar lebih objektif, akuntabel bukan karena urgen sebagai lembaga yg notabennya lg di percaya pemerintah..betapa merasa terpukulnya guru kemarin sore sdh mendapatkan tunjangan sertifikasi sementara guru senior yg sudah mengajar puluhan tahun blm menikmati tunjangan sertifikasi..ini tidak adil..sungguh tidak adil..sy menyesalkan lembaga UNNES kreteria macam apa yg menjadi pedoman untuk guru profesional..

  32. Omen

    Minggu, 19 Januari 2014 | 21:13

    Tolong di rubah kebijakannya dengan pola pengabdian dan tanggung jawab kerja saya ga lulus padahal yang nyonetk ke saya 100% lulus ini pukulan berat buat saya ada apakah gerangan demi Allah saya sudah semaksimal mungkin bahkan teman saya yang lebih pintar pun senasib tidak lulus. Apakah sepuluh hari harus 100% menguasai saya guru honor semua pekerjaan saya borong, saya ngehonor di negri yang tidak ada TU, tak ada staff semua kerja saya borong inikah balasan dari pemerintah bagi pekerja keras yang lelah ini.

  33. Omen

    Minggu, 19 Januari 2014 | 21:15

    100 % saya setuju dengan pak Yanuar

  34. suroto

    Jumat, 7 Februari 2014 | 14:21

    Kpd. Penyelanggara PLPG terutama IKIP semarang, untuk mengatakan itu guru profesional itu tidak profesional. sangat tidak tepat kalau hanya di tes satu hari di atas kertas, sehingga dapat menentukan guru profesi dan tidak . seharus ada pengamatan mengajar di kelas mungkin berbulan bulan dengan kata lain kayak dosen menyuruh Mahasiswa nya buat karya ilmiah. jadi lebih falid. .Kurikulum 2013 kan belum dilaksanakan di setiap sekolah sekolah.Terimakasih Suroto (54 th) yang gak lulus PLPG.

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2010 Universitas Negeri Semarang | Sitemap | Kredit | Arsip| Situs Lama | Masuk log
^Back to Top