Banyak Kampus Lupa Mengisi Hati

Rabu, 29 Agustus 2012 | 15:02 WIB


Banyak Kampus Lupa Mengisi Hati
SIHONO/HUMAS

Keunggulan kampus tidaklah diukur dari kedalaman ilmu para pengajar dan pelajarnya. Keunggulan kampus sudah semestinya diukur juga dari keluhuran moral civitas akademikanya.

Ahli tafsir Alquran M Quraish Shihab menandaskan hal itu saat bertausyiah pada halalbihalal keluarga besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) di kampus Sekaran, Rabu (29/8). Acara diikuti lebih dari 1.500 dosen dan karyawan universitas tersebut.

“Kampus-kampus pertama di dunia lahir dalam pangkuan moral dan agama. Banyak kampus mengisi pikirannya, tapi lupa mengisi hatinya,” ungkap mantan menteri agama ini.

Menurut Shihab, upaya yang dilakukan Unnes dengan visi konservasi merupakan ikhtiar untuk mengisi hati. “Saya kira, bahkan yakin, sebagian kampus tidak memiliki hal ini. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain di dunia ini,” katanya.

Dia juga menjelaskan perbedaan mendasar antara ilmu dan moral. Ilmu pada pikiran, sedangkan moral pada hati. Nalar tidak bisa menyatukan dua hal yang bertoLak belakang, sedangkan  hati bisa sebaliknya.

Lebih lanjut dikemukakan, nalarlah yang mempercepat tujuan, tetapi hati menentukan arah yang benar. “Mudah kita mengubah pikiran, tapi tak mudah kita mengubah kata hati,” katanya.

Ikhwal halalbihalal yang menurutnya tidak ditemukan di Arab sekalipun, maknanya tak lepas dari  hakikat halal, yakni mengurai yang kusut, mencairkan yang beku, dan menghangatkan yang dingin. “Kita orang Indonesia pandai membuat istilah-istilah walau belum sepandai mempraktikan istilah-istilah.”

Sebelumnya, Rektor Prof Sudijono Sastroatmodjo mengajak para dosen dan karyawan untuk sejenak menyelam dalam keheningan renungan. “Melalui  air, gunung, rumput, lalat, lebah, dan segala thek kliwer di lumahing bumi, bahkan napas dan mimpi, kita akan menemu kebesaran, keagungan, kemuliaaan, dan kekuasaan Sang Pencipta,” katanya.

Halalbihalal juga diisi penampilan kelompok acapela mahasiswa dan pembacaan ayat suci Alquran dengan saritilawah tiga bahasa: Jepang, Mandarin, dan Jawa.


DIUNGGAH : Sucipto Hadi Purnomo Dibaca : 4.258 kali
EDITOR : Sucipto Hadi Purnomo

13 komentar pada “Banyak Kampus Lupa Mengisi Hati

  1. Ada lagi peringatan Pak Quraish Shihab yang perlu kita catat. Hal yang paling dibenci oleh para istri adalah jika suaminya ingin kawin lagi.

  2. inti halal bihalal adalah keterbukaan hati untuk memaafkan dengan kesadaran bahwa dihadapan Allah kita tidak berarti apa-apa, hilangkan kesombongan dan kesewenang-wenangan dan gantilah dengan kasih sayang dan kebijaksanaan, baik terhadap isteri, anak, dan lainnya.

  3. “Banyak kampus mengisi pikirannya, tapi lupa mengisi hatinya” menurut EYD ini salah yang tepat adalah “Banyak masyarakat kampus yang mengisi pikirannya, tapi mereka lupa menyelaraskan dengan hatinya” ternyata lucu ya…

    1. Saudara Penyelamat EYD yang baik, terima kasih atas koreksi Saudara. Namun perkenankan saya sebagai penulis berita tersebut menyampaikan argumentasi kecil. Selain kalimat tersebut merupakan kutipan langsung yang sebisa mungkin sama-persis dengan yang diucapkan narasumber, “banyak kampus mengisi pikirannya…” sebangun dengan “banyak negara mengisi kemerdekaannya….” Saya justru berkeberatan jika digunakan “banyak masyarakat kampus…” mengingat “masyarakat” sudah mengandung arti jamak. Yang mungkin bisa digunakan justru “banyak warga kampus….” Sekali lagi, terima kasih atas tegur sapa kritis Saudara. Barangkali ada di antara pembaca yang tertarik untuk menggenapi? Salam konservasi.

  4. semoga apa yang disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab masuk dalam relung hati yang terdalam setiap peserta halal bihalal dan disebarluaskan pada civitas akademika UNNES sehingga apa yang menjadi judul berita ini tidak dialami oleh UNNES juga.
    amin…

  5. catatan lain yang tidak kalan penting dalam peringatan idul fitri kali ini adalah, kita berdoa setelah ditinggal bulan romadhon agar “mudah-mudahan” amal dan ibadah di bulan romadhon diterima Alloh. dan juga yang perlu kita coba laksanakan adalah implementasi ayat al qur’an yang dibacakan, antara lain “menahan amarah”, sebelum marah perlu dipikir : apa perlu marah, dimana perlu marah seberapa marahnya, dll. jadi….
    terima kasih, wasalam…

  6. Ibarat berdagang, mari kita cari untung. Mari kita maknai Halal bihalal secara benar agar kita tidak merugi. Betapa besar ongkos penyelenggaraan Halal bihalal tetapi apakah hasilnya sudah signifikan dengan ongkos yang kita keluarkan?

  7. Bila ukuran keunggulan kampus juga diukur dari kedalaman (menggunakan) hatinya, maka mari kita berhati-hati dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, agar “hati” kita tidak hilang ….hehe

  8. Saya merasa tausyiah dari umaroh Bp M Quraish Shihab sangat berbobot, walau ada beberapa “geeeer…nya” (lelucon ilmiah) tapi 99,9 persen jamaah terdiam, menyimak kata demi kata yang diucapkan pembicara yang begitu gamblang sehingga benar-benar marasuk dalam qalbu masing-masing padahal biasanya jamaah banyak yang berisik dengan pembicara kocak yang lebih banyak guyonannya daripada isi materi tausyiah yang disampaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X