{"id":6634,"date":"2016-02-18T12:01:53","date_gmt":"2016-02-18T05:01:53","guid":{"rendered":"http:\/\/pps.unnes.ac.id\/pps2\/?p=6634"},"modified":"2016-02-18T12:01:53","modified_gmt":"2016-02-18T05:01:53","slug":"bahas-pendidikan-santri-ketua-stia-wali-sembilan-raih-doktor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/2016\/02\/18\/bahas-pendidikan-santri-ketua-stia-wali-sembilan-raih-doktor\/","title":{"rendered":"Bahas Pendidikan Santri, Ketua STIA Wali Sembilan Raih Doktor"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"line-height: 1.5em\">Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Wali Sembilan Semarang, Moch Fatkhuronji, mengikuti Ujian Terbuka Doktor di Kampus Bendan Ngisor, Selasa 16 Februari 2016. Disertasi lelaki kelahiran 1971 ini berjudul \u201cPengembangan Model Pelatihan Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Potensi Lokal bagi Santri di Pondok Pesantren\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em\">Fatkhuronji mempertahankan disertasi di bawah bimbingan promotor Prof. Dr. H. Rasdi Ekosiswoyo, M.Sc., kopromotor Prof. Dr. H. Tri Joko Raharjo, M.Pd., dan anggota Dr. H. Achmad Rifai RC, M.Pd. Dalam disertasinya, Fatkhuronji menyatakan pendidikan kecakapan hidup di pondok pesantren kurang diperhatikan. \u201cPengasuh pesantren lebih mengutamakan pembelajaran kitab-kitab klasik dan hafalan bait-bait <\/span><i style=\"line-height: 1.5em\">nadhom<\/i><span style=\"line-height: 1.5em\">, sehingga para santri kurang memiliki kecakapan hidup untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,\u201d ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Menurutnya, diperlukan pelatihan pengembangan pendidikan kecakapan hidup berbasis potensi lokal untuk menjembatani kebutuhan pengelola dan santri di pesantren. Untuk itu, ia telah menentukan karakteristik seperti apa yang dimiliki santri, pengelola, dan pengasuh pesantren, mengingat mereka belum mempunyai pengalaman wirausaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Ketika dipraktikkan, lanjut Fathuronji, pelatihan pendidikan kecakapan hidup di pesantren mengalami peningkatan dari awal sampai akhir. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian berjalan sesuai dengan alur. Merujuk pada persentase data, rerata kemudahan pemahaman model 89,3%, kemudahan penerapan model 88%, kemanfaatan model bagi pengelola 91%, dan respons tampilan fisik model 95%. \u201cSimpulannya, model pelatihan pelatihan kecakapan hidup ini harus diterapkan pada santri di pesantren guna meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan sikap positif santri dalam mengembangkan kecakapan hidupnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Dia mengklaim hasil penelitiannya dapat digunakan oleh pondok pesantren atau lembaga pendidikan lainnya untuk memberikan pelatihan kecakapan hidup secara mandiri, mudah, dan cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Raihan gelar doktor diharapkannya semakin memperkuat fondasi SETIA Wali Sembilan dalam<strong> <\/strong>mewujudkan generasi Islam yang terampil dalam pendidikan dan pengajaran pendidikan Agama Islam, berakhlak karimah, serta unggul. \u201cIni menjadi strategi untuk mendapat pengakuan dari masyarakat bahwa SETIA Wali Sembilan Semarang menyediakan tenaga pendidik yang berkualitas dalam mempersiapkan Sarjana Agama yang profesional di bidang kependidikan. Selain itu, untuk menambah kinerja sebagai pengawas PAIS dalam melakukan pengawasan penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam pada sekolah, sehingga akan berdampak positif pada peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan tuntutan delapan standar nasional pendidikan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Wali Sembilan Semarang, Moch Fatkhuronji, mengikuti Ujian Terbuka Doktor di Kampus Bendan Ngisor, Selasa 16 Februari 2016. Disertasi lelaki kelahiran 1971 ini berjudul \u201cPengembangan Model Pelatihan Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Potensi Lokal bagi Santri di Pondok Pesantren\u201d. Fatkhuronji mempertahankan disertasi di bawah bimbingan promotor Prof. Dr. H. Rasdi Ekosiswoyo, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":31,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-6634","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6634","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/users\/31"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6634"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6634\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6634"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6634"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/sps\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6634"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}