{"id":7909,"date":"2022-03-10T16:24:00","date_gmt":"2022-03-10T09:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mipa.unnes.ac.id\/v3\/?p=7909"},"modified":"2022-03-10T16:24:00","modified_gmt":"2022-03-10T09:24:00","slug":"potensi-kumbang-gelap-sebagai-biodegradator-sampah-plastik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/2022\/03\/10\/potensi-kumbang-gelap-sebagai-biodegradator-sampah-plastik\/","title":{"rendered":"POTENSI KUMBANG GELAP\u00a0SEBAGAI BIODEGRADATOR SAMPAH PLASTIK"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/mipa.unnes.ac.id\/v3\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/0.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7911\" \/><figcaption><strong>Prof. Dr. Ir. Priyantini Widiyaningrum, MS.<\/strong><\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><strong>Prof. Dr. Ir. Priyantini Widiyaningrum, MS.<\/strong> <em>adalah profesor pada bidang Zoologi (Ekofisiologi Hewan), FMIPA-UNNES. Latar Belakang Pendidikan S1 Peternakan (UGM), dilanjutkan S2 Pengelolaan Sumberdaya Alam konsentrasi Lingkungan Ternak (IPB) dan S3 Ilmu Ternak dengan konsentrasi Satwa Harapan Tropis.  Mengampu mata kuliah pokok (S1) Ekofisiologi Hewan, Embriologi Hewan dan Anatomi Hewan, &nbsp;Fokus Penelitian saat ini terkait Ekofisiologi serangga hama peternakan khususnya Alphitobius diaperinus.L<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pengantar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dewasa ini sampah plastik masih terus menjadi persoalan lingkungan yang belum juga tuntas. Di masa pandemi bahkan penggunaan plastik semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan perlengkapan medis berbahan plastik sekali pakai. Kebiasaan baru belanja online juga memicu peningkatan penggunaan kemasan untuk pengiriman barang, yang biasanya tidak hanya terdiri dari satu jenis plastik. Mulai dari tempat kemasan barang itu sendiri, <em>sterofoam<\/em>, selotip, <em>bubble wrap<\/em>, hingga plastik lapisan terluar kemasan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Polystyrene (PS)<\/em> atau <em>Styrofoam<\/em> adalah salah satu dari\u00a0 jenis-jenis plastik yang menimbulkan persoalan lingkungan karena memiliki tingkat daur ulang yang rendah. Dibanding plastik jenis lain, produk <em>PS<\/em> hanya digunakan untuk sekali pakai, antara lain berbentuk kemasan makanan dan minuman sekali pakai, isolasi bangunan, bagian dari produk helm dan peralatan listrik (Plastics Europe, 2019). Limbah <em>PS<\/em> tersusun dari banyak <em>monomer styrene<\/em> terpolimerisasi yang tahan terhadap <em>biodegradasi<\/em>. Sampai saat ini belum ada metode ramah lingkungan untuk menanggulangi sampah ini, selain upaya-upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bijak mengurangi penggunaan (<em>reduce<\/em>) atau menerapkan penggunaan berulang (<em>reuse<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian baru melaporkan bahwa beberapa spesies serangga hama dari familia<em> Tenebrionidae <\/em>(ordo: <em>Coleoptera<\/em>) mampu menghancurkan plastik jenis <em>PS<\/em> karena mulut pengunyah dan aktivitas metabolisme mikroba di saluran pencernaannya. <em>Tenebrionidae<\/em> berasal dari kata bahasa Latin\u00a0<em>tenebrio <\/em>yang artinya menyukai kegelapan, sehingga anggota <em>Tenebrionidae<\/em> dikenal sebagai golongan kumbang gelap.\u00a0 Anggota familia <em>Tenebrionidae<\/em> atau kumbang gelap ini ada sekitar 15.000 spesies yang sudah teridentifikasi, tetapi spesies yang paling banyak dipelajari dalam hal degradasi <em>PS<\/em> adalah larva dari <em>Tenebrio molitor, Alphitobius diaperinus<\/em> dan <em>Zophobas atratus.<\/em> Ketiganya merupakan jenis serangga yang larvanya banyak dijual sebagai pakan burung kicauan, reptil, ikan dan hewan piaraan lainnya. Mengapa serangga anggota familia <em>Tenebrionidae<\/em> ini berpotensi sebagai biodegradator sampah plastik <em>PS<\/em> ? Tulisan ini akan memberikan penjelasan ilmiah bersumber dari penelitian-penelitian mutakhir,\u00a0dan peluang kumbang gelap dari spesies \u00a0<em>A. diaperinus<\/em> \u00a0yang saat ini sedang menjadi fokus penelitian penulis.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bioekologi Kutu Kandang&nbsp; <em>A. diaperinus.<\/em>L<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>A. diaperinus<\/em> <em>Panzer <\/em>adalah nama ilmiah salah satu kelompok kumbang gelap yang hidup dan berkembang biak di kandang peternakan ayam. Meskipun masuk golongan kumbang, tetapi peternak menyebutnya sebagai kutu frengki atau <strong>kutu kandang<\/strong>. Kutu ini mudah ditemukan berkembang biak di karena mereka mengkonsumsi pakan dan kotoran ayam sebagai sumber nutrisinya. Selain di kandang ayam, beberapa penelitian juga melaporkan bahwa spesies <em>A. diaperinus<\/em> ditemukan di berbagai fasilitas gudang penyimpanan biji-bijian produk pasca panen dan hidup berdampingan dengan spesies serangga gudang lainnya. <em>A. diaperinus<\/em> digolongkan kedalam kelompok kumbang gelap (<em>darkling beetle<\/em>) dengan beberapa karakter kunci (Gambar 1). Bagian belakang kepala (<em>pronotum<\/em>) sisi lateral membentuk sudut kearah posterior (A), memiliki mata majemuk dengan 3-4 <em>facet<\/em> (B), <em>sternum abdominal<\/em> ke-2 \u2013 7 terdapat <em>setae<\/em> (bulu halus) lateral (C) dan segmen <em>abdominal<\/em> terakhir membentuk <em>tergum<\/em> dengan <em>setae<\/em> memanjang ke <em>apex<\/em>. seperti terlihat pada Gambar 1.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/mipa.unnes.ac.id\/v3\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7915\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Gambar 1. Karakter morfologi <em>A. diaperinus<\/em> dewasa. (A). <em>Pronotum<\/em> dengan tepi lateral menuju sudut posterior; (B), mata majemuk berbentuk sarung tangan (<em>emarginated<\/em>) dengan 3-4 mata <em>facet<\/em> ; (C), <em>sternum abdomen<\/em> ke 2-7 dengan 3 atau lebih <em>setae lateral<\/em>; (D). segmen terakhir bagian <em>dorsal (tergum)<\/em> terdapat banyak <em>setae<\/em> berdekatan dengan <em>apex<\/em>\/segmen terakhir berbentuk kerucut (Nguyen <em>et al<\/em>., 2019).<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun bersifat nokturnal, serangga ini sudah beradaptasi dengan lingkungan peternakan unggas yang umumnya menggunakan cahaya di lingkungan kandang. Serangga dewasa (<em>imago<\/em>) dapat bertahan hidup pada kelembaban yang ekstrim karena mampu menyeimbangkan kadar air tubuh dengan kadar air lingkungannya. Adapun larvanya mampu mengekstraksi uap air dari udara bila kelembaban relatif melebihi 90% (Lyons <em>et al<\/em>. 2016; Szczepanik <em>et al.<\/em> 2018). Lingkungan kandang ayam yang hangat dan kelembaban tinggi sangat mendukung perkembangan populasi serangga ini.\u00a0 Rata-rata siklus hidup kutu kandang selesai antara 30\u201380 hari pada kisaran suhu antara 21-35 \u00b0C. Dalam populasi yang padat, <em>kanibalisme<\/em> bisa terjadi di antara individu itu sendiri (Esquivel <em>et al<\/em>. 2012).\u00a0 Ketika terusik, sebagian besar anggota familia <em>Tenebrionidae<\/em> akan melepaskan sekresi dari kelenjar <em>pygidial<\/em> sebagai mekanisme pertahanan melawan predator. Dalam kasus <em>A. diaperinus<\/em>, sekresi mengandung senyawa <em>kuinon<\/em> yang bersifat racun <em>(karsinogenik)<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditinjau dari perilakunya sebagai hama, perkembangbiakan kutu kandang cukup tinggi dan cepat, terutama jika didukung suhu dan kelembaban lingkungan yang sesuai. \u00a0Dari telur hingga <em>imago<\/em> diselesaikan dalam waktu sekitar 42 hari, sedangkan imago dapat hidup antara 3 \u2013 12 bulan dan mampu bertelur hingga 2000 butir. Selain mengkonsumsi dan merusak kualitas pakan ayam, kutu kandang merupakan vektor patogen yang mampu membawa berbagai macam virus, bakteri, dan parasit patogen spesifik unggas dan <em>zoonosis<\/em> (Smith <em>et al<\/em>., 2020). Serangga ini juga merusak struktur bangunan kandang karena larvanya mampu membuat lorong-lorong di tiang kayu dan langit-langit bangunan untuk persembunyian saat pupasi. Kutu dewasa yang termakan dan masuk kedalam saluran pencernaan ayam dapat menurunkan konversi pakan, penurunan berat badan dan bahkan kematian, karena zat <em>khitin<\/em> tidak dapat dicerna serta menyebabkan iritasi saluran pencernaan (Del Valle et al., 2016; Lyons, 2021).<\/p>\n\n\n\n<p>Di balik sifatnya yang merugikan sebagai hama peternakan, larva kutu kandang diketahui kaya akan protein. Tepung larva kutu kandang dapat dimanfaatkan sebagai pakan \u00a0ternak karena kecernaannya yang tinggi dan kandungan protein mencapai 62% dari bahan kering (Jensen <em>et al<\/em>., 2019). Baru-baru ini, <em>A. diaperinus<\/em> menarik perhatian karena masuk dalam <em>Commission Regulation Uni Eropa<\/em> (UE) 2017\/893, berada di antara spesies serangga yang aman digunakan untuk bahan pakan hewan air (<em>aquafeed<\/em>) dan dapat diproduksi dalam bentuk tepung (Gasco <em>et al<\/em>. 2018). Dengan pengakuan ini, maka peluang mengubah perspektif negatif masyarakat tentang kutu kandang, dari statusnya sebagai hama berbahaya menjadi sumber nutrisi ternak \/hewan budidaya akan semakin kuat (Rumbos <em>et al<\/em>., 2018). Tabel 1 memperlihatkan beberapa jenis serangga yang aman sebagai sumber protein bagi hewan akuatik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Tabel 1.&nbsp; Spesies serangga yang diizinkan untuk digunakan dalam produksi protein hewani olahan (PAP) bagi untuk pakan hewan air sesuai dengan Peraturan UE 2017\/893<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Order<\/strong><\/td><td><strong>Family<\/strong><\/td><td><strong>Scientific name<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Common name<\/strong><\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Coleoptera<\/td><td>Tenebrionidae<\/td><td><em>Alphitobius diaperinus<\/em><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Lesser mealworm<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Coleoptera<\/td><td>Tenebrionidae<\/td><td><em>Tenebrio molitor<\/em><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Yellow mealworm<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Diptera<\/td><td>Stratiomyidae<\/td><td><em>Hermetia illucens<\/em><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Black soldier fly<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Diptera<\/td><td>Muscidae<\/td><td><em>Musca domestica<\/em><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Common housefly<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Orthoptera<\/td><td>Gryllidae<\/td><td><em>Acheta domesticus<\/em><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">House cricket<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Orthoptera<\/td><td>Gryllidae<\/td><td><em>Gryllodes sigilatus<\/em><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Banded cricket<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Orthoptera<\/td><td>Gryllidae<\/td><td><em>Gryllus assimilis<\/em><\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Field cricket<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Ekofisiologi Pencernaan &nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saluran pencernaan kumbang gelap berupa tabung yang berhubungan dari arah mulut sampai annus. Kutu kandang dewasa mempunyai tipe mulut menggigit dan mengunyah. Bagian <em>mandibula<\/em>, <em>maksila<\/em>, dan <em>labial palpi<\/em> merupakan bagian mulut yang dapat digerakkan. Juga ada <em>sensila<\/em> yang bertindak sebagai <em>kemoreseptor<\/em> pada segmen terminal mulut. Strukturnya menyerupai gigi yang berfungsi untuk menarik, menghancurkan, atau memotong makanan. Dua pasang gigi tambahan menyerupai jari, <em>maksila<\/em> dan <em>palpi labial<\/em>, ada di sekitar mulut pada sebagian besar golongan <em>Tenebrionid<\/em>, digunakan untuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Pada larva, bagian mandibula apikal mampu memotong bahkan menghancurkan partikel bangunan kandang, partikel makanan dari pelet (pakan) unggas (Leschen &amp; Steelman, 1988). Mulut larva kumbang gelap tampaknya sudah beradaptasi untuk memakan bahan yang telah direkat secara organik.<\/p>\n\n\n\n<p>Usus serangga memanjang sepanjang rongga tubuh, dari mulut ke anus dibagi menjadi tiga bagian: usus depan, usus tengah, dan usus belakang. Sebagian besar pencernaan <em>enzimatik<\/em> dan penyerapan nutrisi terjadi di usus tengah (Chapman 2013). Mulut serangga langsung terhubung ke usus depan. Usus depan (<em>foregut<\/em>) terdiri dari empat area yang berbeda: faring, kerongkongan, <em>crop<\/em> , dan <em>proventrikulus<\/em>. Faring dan kerongkongan keduanya terlibat dalam gerakan peristaltik makanan menuju <em>crop<\/em>. Makanan tersebut kemudian disimpan sementara di dalam <em>crop<\/em>, lalu diteruskan ke usus tengah (<em>midgut<\/em>) untuk pencernaan. Beberapa enzim\u00a0terlibat pencernaan di dalam <em>crop<\/em> dimediasi oleh enzim <em>saliva<\/em> dari usus tengah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian besar serangga termasuk familia <em>Tenebrionidae<\/em> bersimbiosis dengan mikroba di dalam tubuhnya terutama di dalam saluran pencernaan. Mikroba simbion yang hidup di saluran pencernaan serangga terutama bakteri, <em>protozoa<\/em> dan jamur. Saluran pencernaan serangga adalah habitat untuk perkembangbiakan mikrobiota yang cocok, serta ada ketergantungan antara serangga dengan mikroba saluran pencernaan. Sebagai contoh, serangga bisa menelan selulosa, tetapi serangga tidak memiliki enzim <em>celulase<\/em> untuk mencerna <em>polisakarida<\/em>, sehingga proses \u00a0pencernaan nya dilakukan oleh bakteri dan <em>protozoa<\/em> <em>simbion<\/em> yang hidup pada saluran pencernaan serangga inang (Wati <em>et al<\/em>., 2021). Pada penelitian lain, komunitas bakteri dan jamur baik di luar tubuh maupun dalam usus larva, diduga melakukan aktivitas metabolisme yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis yang menguntungkan (Krueger et al., 2015; Gajendiran<em> et al<\/em>., 2016). Berbagai macam mikroba simbion inilah yang ditengarai menjadi peran kunci bagi anggota familia <em>Tenebrionidae<\/em> berkaitan dengan kemampuannya mencerna limbah <em>styrofoam<\/em>.\u00a0 Terlepas dari kenyataan bahwa bahan plastik tahan lama dan tahan terhadap kerusakan, telah dilaporkan bahwa makanan kemasan dapat diserang oleh serangga yang biasa gidup di gudang penyimpanan. Kemampuan mengunyah barang-barang plastik adalah hasil dari rahang yang tajam (Hassan <em>et al<\/em>., 2016). Selain itu, telah dilaporkan bahwa beberapa serangga dapat hidup dengan pola makan plastik karena kemampuan mereka untuk mencerna beberapa plastik yang secara kimiawi mirip dengan polimer alam.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Potensi Kumbang Gelap sebagai Biodegradator Sampah Polystyrene<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak bakteri yang hidup bebas maupun yang berasosiasi dengan usus serangga <em>Tenebrionidae<\/em> telah terbukti mampu memecah produk sintetis (Mohan <em>et al<\/em>., 2016; Brandon <em>et al<\/em>., 2018; Urbanek<em> et al<\/em>., 2020). Yang <em>et al<\/em> (2018a) dalam laporannya menyebutkan setidaknya peneliti akademisi dari 22 negara sudah mengkonfirmasi bahwa larva\u00a0<em>Tenebrio molitor<\/em> <em>L.<\/em> dapat bertahan hidup dengan memakan <em>polystyrene<\/em>. Laporan ini diperoleh dari 12 sumber dengan spesies larva uji yang sama, yaitu Amerika Serikat (lima sumber), Cina (enam sumber), dan satu sumber dari Irlandia Utara. Semua larva menunjukkan kemampuannya mencerna busa <em>polystyrene<\/em>, diindikasikan dari berat massa <em>polystyrene<\/em> menurun dan terjadi depolimerisasi ditandai dengan munculnya residu dengan berat molekul yang lebih rendah. Juga terdapat indikasi transformasi oksidatif\u00a0 pada ekstrak kotoran larva. Selanjutnya Yang <em>et al<\/em> (2018b) menyatakan bakteri <em>Pseudomonadaceae<\/em> dan <em>Enterobacteriaceae <\/em>menjadi aktor utama dalam degradasi <em>polystyrene<\/em>. <em>Tenebrio molitor L<\/em>. telah menunjukkan kemampuan untuk mendegradasi dan memineralisasi <em>PS<\/em> menjadi CO<sub>2<\/sub> melalui aktivitas mikroba di dalam usus dengan waktu retensi kurang dari 12-15 jam. Yang <em>et al.<\/em> (2020) dalam penelitiannya menggunakan serangga uji spesies <em>Zophobas atratus<\/em> menemukan sekelompok larva yang dipelihara selama 28 hari tetap bertahan hidup hanya dengan memakan <em>styrofoam<\/em> sebagai makanan tunggal (Gambar 2). Hasil analisisnya menunjukkan <em>styrofoam<\/em> yang tertelan mengalami depolimerisasi, dan sebanyak 36,5% termineralisasi menjadi CO2. (Gambar 3).<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/mipa.unnes.ac.id\/v3\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7913\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Gambar 2. (a,b) Penyusutan yang terjadi pada styrofoam yang digunakan sebagai pakan tunggal pada spesies <em>Zophobas atratus <\/em>(Yang <em>et al<\/em>., 2020)<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/mipa.unnes.ac.id\/v3\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/3-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7914\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Gambar 3. <em>Styrofoam<\/em> yang tertelan mengalami depolimerisasi, dan 36,5% <em>styrofoam<\/em> termineralisasi menjadi CO<sub>2<\/sub>. (Yang et al., 2020)<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian lain dengan pendekatan eksperimental (Przemieniecki <em>et al<\/em>., 2020) menemukan bahwa terdapat perubahan mikrobiota usus dan profil enzimatik larva <em>Tenebrio molitor<\/em> <em>L.<\/em> yang diberi makan lima macam sumber substrat yaitu karton (selulosa), <em>polystyrene (PS), polyetylen oxo-degradable (PE-oxo), polyetylen granulate (PE)<\/em> dan tepung <em>Oat<\/em> sebagai kontrol. Setelah dua bulan hasilnya menunjukkan kelimpahan jenis mikrobiota yang berkembang dalam usus larva berbeda-beda tergantung jenis makanannya. Kelimpahan relatif tertinggi dari bakteri yang menjajah usus terdapat pada perlakuan pakan <em>PE-oxodegradable,<\/em> namun semua diet yang diterapkan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (tepung <em>oat<\/em>). Demikian pula, dari tiga diet plastik tersebut (<em>PS, PE-oxo <\/em>dan<em> PE granulate<\/em>) ternyata menghasilkan aktivitas enzim pencerna yang berbeda baik pada saluran pencernaan maupun bakteri. Enzim dengan aktivitas tertinggi antara lain <em>fosfatase, esterase, leusin arylamidase, -galaktosidase, -glucuronidase, -glucosidase, -glucosidase, kitinase, -mannosidase <\/em>dan<em> -fucosidase<\/em>. Larva juga diketahui dapat mendegradasi <em>PE<\/em> dan <em>PS<\/em> dengan <em>esterase<\/em>, <em>selulase<\/em> \u00a0melalui proses <em>anaerobik <\/em>dan<em> diazotrof<\/em>. Temuan penting dalam penelitian ini menyatakan bahwa bakteri dari genus <em>Lactococcus<\/em>,\u00a0 <em>Elizabethkingia<\/em> dan bakteri <em>diazotrofik<\/em> hadir melimpah pada usus larva yang memakan <em>PE<\/em> dan <em>PS<\/em>. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa mikrobiota usus pada larva <em>Tenebrio molitor L<\/em> mampu mensintesis protein dari nitrogen atmosfer.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan untuk menutup artikel ini adalah bagaimana dengan potensi <em>A. diaperinus<\/em> dalam mendegradasi sampah plastik?\u00a0 Akankah dengan kombinasi berbagai sampah organik akan semakin membuka peluang pengembangan <em>biodegradator<\/em> berbasis serangga sekaligus penyediaan protein hewani bagi hewan ternak? Meskipun belum banyak diteliti, akan tetapi sebagai anggota kumbang gelap (familia <em>Tenebrionidae<\/em>), besar kemungkinan memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda. Cucini <em>et al<\/em>. (2020) meneliti mikroba usus larva <em>A. diaperinus<\/em> yang diberi makan <em>polystyrene<\/em> kemudian dikarakterisasi menggunakan pendekatan metagenomik NGS (<em>Next Generation Sequencing<\/em>), hasilnya menunjukkan mikroba muncul berlimpah sangat nyata pada kelompok perlakuan dibanding kontrol, diantaranya <em>Cronobacter, Kocuria<\/em> dan <em>Pseudomonas<\/em> dari golongan bakteri, serta <em>Aspergillus, Hyphodermella, <\/em>dan <em>Trichoderma<\/em> dari kelompok jamur. Peneliti ini berpendapat apabila jenis bakteri dan jamur yang berasosiasi dengan senyawa plastik dapat diidentifikasi, maka akan membuka peluang menjadikan larva serangga golongan Kumbang gelap termasuk \u00a0<em>A. diaperinus<\/em> sebagai bioreaktor untuk mendegradasi plastik.\u00a0 Adapun penelitian \u00a0Urbanek <em>et al<\/em> (2020) yang menemukan fakta bahwa meskipun larva kumbang gelap dapat menggigit dan mengunyah bahan tertentu, mereka tidak dapat mendegradasi dan menggunakannya untuk tujuan konsumsi nutrisi. Hasil penelitiannya menunjukkan terjadinya perubahan massa larva setelah 21 hari percobaan. Larva yang diberi berbagai macam produk <em>PS<\/em> mengalami kehilangan massa tubuh hingga 20% kecuali perlakuan kontrol. Dengan demikian meskipun mikroba simbion terbukti membantu dalam degradasi <em>PS<\/em>, namun limbah -limbah golongan plastik ini tidak mendukung siklus perkembangan larva kumbang gelap tanpa adanya nutrisi dari sumber lain. Dari uraian diatas, mikroba usus serangga Tenebrionidae termasuk <em>A. diaperinus<\/em> berperan penting dalam <em>biodegradasi<\/em> senyawa plastik. Namun demikian untuk kelangsungan hidup larva tetap diperlukan lingkungan suhu, kelembaban, dan sumber pakan bernutrisi cukup untuk keberlanjutan siklus hidup yang stabil.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Brandon, A.M., Gao, S.H., Tian, R., Ning, D., Yang, S.S., Zhou, J., Wu, W.M., Criddle, C. S., 2018. Biodegradation of polyethylene and plastic mixtures in mealworms (Larvae of Tenebrio molitor) and effects on the gut microbiome. Environ. Sci. Technol. 52,6526\u20136533.<\/p>\n\n\n\n<p>Cucini, C., Leo, C., Vitale, M., Frati, F., Carapelli, A., &amp; Nardi, F. (2020). Bacterial and fungal diversity in the gut of polystyrene-fed Alphitobius diaperinus (Insecta: Coleoptera). Animal Gene, 17, 200109.<\/p>\n\n\n\n<p>Del Valle EE, Frizzo LS, Malmierca M, Zbrun MV, Lax P, Doucet ME (2016). &nbsp;Biological control of Alphitobius diaperinus with Steinernema rarum CUL and Heterorhabditis bacteriophora SMC and feasibility of application in rice hull. J Pest Sci 89: 161\u2013170.<\/p>\n\n\n\n<p>Esquivel, J. F., Crippen, T. L., &amp; Ward, L. A. (2012). Improved Visualization of Alphitobius diaperinus (Panzer) (Coleoptera\u202f: Tenebrionidae) Part I\u202f: Morphological Features for Sex Determination of Multiple Stadia. Hindawi Publishing Corporation, 2012. https:\/\/doi.org\/10.1155\/2012\/328478<\/p>\n\n\n\n<p>Gajendiran, A., Krishnamoorthy, S., Abraham, J., 2016. Microbial degradation of lowdensity polyethylene (LDPE) by Aspergillus clavatus strain JASK1 isolated from&nbsp; landfill soil. 3 Biotech 6 (1), 52<\/p>\n\n\n\n<p>Gasco L, Gai F, Maricchiolo G, Genovese L, Ragonese S, Bottari T, Caruso G (2018) Fishmeal alternative protein sources for aquaculture feeds. In: Gasco L, Gai F, Maricchiolo G, Genovese L, Ragonese S, Bottari T, Caruso G (eds) Feeds for the Aquaculture Sector: Current Situation and Alternative Sources, pp. 1\u201328. Springer International Publishing AG, part of Springer Nature, Cham, Switzerland.<\/p>\n\n\n\n<p>Hassan, M.W., Gulraize Ali, U., Ur Rehman, F., Najeeb, H., Sohail, M., Irsa, B., Muzaffar, Z., Chaudhry, M.S., 2016. Evaluation of standard loose plastic packaging&nbsp; for the management of Rhyzopertha dominica (F.) (Coleoptera: Bostrichidae) and Tribolium castaneum (Herbst) (Coleoptera: Tenebriondiae). J. Insect Sci. 16 (1).<\/p>\n\n\n\n<p>Jensen, L. D., Miklos, R., Dalsgaard, T. K., Heckmann, L. H., &amp; N\u00f8rgaard, J. V. (2019). Nutritional evaluation of common (Tenebrio molitor) and lesser (Alphitobius diaperinus) mealworms in rats and processing effect on the lesser mealworm. Journal of Insects as Food and Feed, 5(4), 257-266.<\/p>\n\n\n\n<p>Krueger, M.C., Harms, H., Schlosser, D., 2015. Prospects for microbiological solutions to environmental pollution with plastics. Appl. Microbiol. Biotechnol. 99, 8857-8874.<\/p>\n\n\n\n<p>Lyons BN, Crippen TL, Zheng L, Teel PD, Swiger SL, Tomberlin JK (2016) Susceptibility of Alphitobius diaperinus in Texas to permethrin- and b-cyfluthrin-treated surfaces. Pest Management Science 73: 562\u2013567.<\/p>\n\n\n\n<p>Leschen R.A.B &amp; &nbsp;Steelman C.D. 1988. <em>Alphitobius Diaperinus<\/em> (Coleoptera: Tenebrionidae) larva and adult mouthparts. Journal of Ent. News 99(4): 221- 224<\/p>\n\n\n\n<p>Mohan, A.J., Sekhar, V.C., Bhaskar, T., Nampoothiri, K.M., 2016. Microbial assisted high impact polystyrene (HIPS) degradation. Bioresour. Technol. 213, 204\u2013207.<\/p>\n\n\n\n<p>Nguyen, N., Yang, B. K., Lee, J. S., Yoon, J. U., &amp; Hong, K. J. (2019). Infestation status of the darkling beetle (Alphitobius diaperinus) in Broiler chicken houses of Korea. Korean journal of applied entomology, 58(3), 189-196.<\/p>\n\n\n\n<p>Plastics Europe. (2017). Plastics \u2013 The Facts 2017: An Analysis of European Plastics Production, Demand and Waste Data 2017. Brussels: Plastics Europe.<\/p>\n\n\n\n<p>Przemieniecki, S.W., Kosewska, A., Ciesielski, S., Kosewska, O., 2020. Changes in the gut microbiome and enzymatic profile of Tenebrio molitor larvae biodegrading cellulose, polyethylene and polystyrene waste. Environ. Pollut. 256, 113265.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumbos, C. I., Karapanagiotidis, I. T., Mente, E., &amp; Athanassiou, C. G. (2019). The lesser mealworm Alphitobius diaperinus: a noxious pest or a promising nutrient source?. Reviews in Aquaculture, 11(4), 1418-1437.<\/p>\n\n\n\n<p>Szczepanik, M., Gliszczy\u0144ska, A., Hnatejko, M., &amp; Zawitowska, B. (2016). Effects of halolactones with strong feeding-deterrent activity on the growth and development of larvae of the lesser mealworm, Alphitobius diaperinus (Coleoptera: Tenebrionidae). Applied entomology and zoology, 51(3), 393-401.<\/p>\n\n\n\n<p>Urbanek, A. K., Rybak, J., Wr\u00f3bel, M., Leluk, K., &amp; Miro\u0144czuk, A. M. (2020). A comprehensive assessment of microbiome diversity in Tenebrio molitor fed with polystyrene waste. Environmental Pollution, 262, 114281.<\/p>\n\n\n\n<p>Wati, C., Rahmawati, R., Hartono, R., Haryati, P. W., Riyanto, R., Anggraini, E.,Rizkie L, Melani D, Septiarini D, Arsi &amp; Karenina, T. (2021). Entomologi Pertanian. Yayasan Kita Menulis. 230 halaman<\/p>\n\n\n\n<p>Yang, S. S., Wu, W. M., Brandon, A. M., Fan, H. Q., Receveur, J. P., Li, Y., &#8230; &amp; Criddle, C. S. (2018a). Ubiquity of polystyrene digestion and biodegradation within yellow mealworms, larvae of Tenebrio molitor Linnaeus (Coleoptera: Tenebrionidae). Chemosphere, 212, 262-271.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang, S. S., Brandon, A. M., Xing, D. F., Yang, J., Pang, J. W., Criddle, C. S., &#8230; &amp; Wu, W. M. (2018b), May). Progresses in polystyrene biodegradation and prospects for solutions to plastic waste pollution. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 150, No. 1, p. 012005). IOP Publishing. Yang, Y., Wang, J., &amp; Xia, M. (2020). Biodegradation and mineralization of polystyrene by plastic-eating superworms Zophobas atratus. Science of the total environment, 708, 135233.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prof. Dr. Ir. Priyantini Widiyaningrum, MS. adalah profesor pada bidang Zoologi (Ekofisiologi Hewan), FMIPA-UNNES. Latar Belakang Pendidikan S1 Peternakan (UGM), dilanjutkan S2 Pengelolaan Sumberdaya Alam konsentrasi Lingkungan Ternak (IPB) dan S3 Ilmu Ternak dengan konsentrasi Satwa Harapan Tropis. Mengampu mata kuliah pokok (S1) Ekofisiologi Hewan, Embriologi Hewan dan Anatomi Hewan, &nbsp;Fokus Penelitian saat ini terkait [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":7918,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[226],"tags":[16,12,380],"class_list":["post-7909","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ruang-profesor-id","tag-fmipainovatif","tag-fmipaunnes","tag-gagasan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7909","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7909"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7909\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7909"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7909"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}