{"id":3927,"date":"2020-08-15T08:56:24","date_gmt":"2020-08-15T08:56:24","guid":{"rendered":"http:\/\/mipa.unnes.ac.id\/v2\/?p=3573"},"modified":"2020-08-15T08:56:24","modified_gmt":"2020-08-15T08:56:24","slug":"pusat-kajian-produk-berbahan-alam-mengeksplorasi-potensi-bahan-alam-dalam-gelaran-webinar-seri-ketiga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/2020\/08\/15\/pusat-kajian-produk-berbahan-alam-mengeksplorasi-potensi-bahan-alam-dalam-gelaran-webinar-seri-ketiga\/","title":{"rendered":"Pusat Kajian Produk Berbahan Alam Mengeksplorasi Potensi Bahan Alam dalam Gelaran Webinar Seri Ketiganya"},"content":{"rendered":"<p>Pusat Kajian Produk Obat dan Non-Obat Berbahan Alam (PK PONOBA) untuk kali ketiga sukses menyelenggarakan webinar tentang kajian produk berbahan alam. Pada seri ketiga ini, PK PONOBA mengangkat tema tentang \u201cEksplorasi Potensi Berbagai Bahan Alam\u201d. Webinar yang diselenggarakan pada hari Sabtu (15\/8) dengan aplikasi Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube mengundang empat narasumber perempuan, yaitu Dr. Ir. Pramesti Dewi, M.Si., Dewi Mustikaningtyas, S.Si., M.Si. Med., Dr. Sri Mursiti, M.Si., dan Dr. Lisdiana, M.Si. Peserta yang berpartisipasi dalam webinar ini cukup beragam, tidak hanya dari kalangan akademisi saja tetapi ada juga dari kalangan praktisi. Peserta juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti dari Medan, Pontianak, Yogyakarta, Makasar, DKI Jakarta, dan berbagai wilayah di Jawa Tengah.<br \/>\nWebinar dibuka secara resmi oleh Dekan FMIPA UNNES, Dr. Sugianto., M.Si. yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema yang diusung dalam webinar sangat menarik karena Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati dan bahan alam. Melimpahnya sumber alam yang dimiliki oleh negara kita memiliki berbagai potensi yang apabila kita eksplorasi maka akan menghasilkan manfaat yang sangat besar untuk kesejahteraan masayarakat. \u201cEksplorsi potensi produk berbahan alam perlu terus dilakukan seiring dengan semakin terbatasnya ketersediaan bahan alam tertentu yang ada saat ini\u201d ungkap Dr. Sugianto, M.Si. \u201cIni menjadi tantangan bagai PK PONOBA dan semua peserta webinar untuk bersama-sama menggali dan mendiskusikannya dalam webinar ini,\u201d tambahnya. Tema yang diangkat ini juga selaras dengan misi FMIPA UNNES dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan alam berwawasan konservasi.<br \/>\nPada kesempatan pertama Dr. Ir. Pramesti Dewi, M. Si., dosen dari Jurusan Biologi memaparkan presentasinya yang berjudul \u201cPotensi bahan alam sebagai pendukung ketahanan pangan buah-buahan di tingkat konsumen\u201d. Pramesti, sapaan akrab narasumber yang pertama menjelaskan bahwa ketahanan pangan merupakan konsep yang awalnya dicetuskan dalam <em>Conference of Agriculture<\/em> di tahun 1943. Konsep ini berkaitan dengan ketersediaan pangan dari aspek makro dan mikro, sehingga bahan pangan dalam posisi <em>secure, adequate, <\/em>dan<em> suitable for everyone<\/em>. Di Indonesia konsep ini dituangkan dalam Sistem Ketahanan Pangan, sebagai contoh, untuk ketahanan pangan berupa buah-buahan, maka buah-buah ini harus dalam posisi <em>secure, adequate<\/em>, dan <em>suitable<\/em> bagi setiap orang untuk memenuhi status gizi masyarakat yang memadai, khususnya gizi vitamin, mineral, dan serat.<br \/>\nSampai saat ini, tingkat konsumsi buah-buahan di Indonesia pada tingkat konsumen (rumah tangga dan individu) masih sangat rendah, yaitu 38,8 gr\/orang\/hari dari yang disarankan sebesar 150 gr\/orang\/hari. Apabila ketersediaan buah-buahan di tingkat konsumen berkurang karena terjadi kerusakan buah secara fisik dan mikrobiologis, maka akan mendorong pada makin rendahnya tingkat konsumsi buah. Oleh karena itu, kerusakan harus dicegah dengan menggunakan berbagai bahan alam yang ada di sekitar konsumen. Apabila upaya pencegahan kerusakan mikrobiologis menggunakan bahan alam ini\u00a0 berhasil, maka ketahanan pangan buah-buahan di tingkat konsumen dapat tercapai. Harapan untuk terpenuhinya status gizi masyarakat yang memadai juga lebih mudah diwujudkan.<br \/>\nNarasumber kedua, Dewi Mustikaningtyas. S.Si, M.Si. Med, dari Jurusan Biologi FMIPA UNNES. Tika, sapaan hangat yang selalu melekat pada narasumber kedua ini mengangkat topik tentang \u201cGlutathione: Protein sederhana yang kaya manfaat\u201d. Tika menyampaikan bahwa glutathion adalah tripeptida yang tersusun dari tiga asam amino yaitu sistein, asam glutamat, dan glisin. Glutathion secara alami dapat dihasilkan di sebagian besar sel terutama pada sel eukariotik (Yeast, tanaman, dan hewan). Glutathione banyak berperan dalam fenomena biologi penting baik secara langsung maupun tidak langsung, meliputi sintesis protein dan DNA, transport sel, aktivitas enzim, metabolism, dan perlindungan sel. Sifat multifungsi yang dimiliki oleh glutathione ini yang membuat tertarik para peneliti untuk mempelajari lebih mendalam dengan berbagai kajian seperti mekanisme enzim, metabolisme obat, radiasi, kanker, imunomodulator, dan aging.<br \/>\nCara kerja glutathione dalam mengatasi berbagai permasalahan khususnya dalam bidang kesehatan sudah banyak diteliti dan dipelajari, karena manfaatnya tersebut membuka peluang untuk melakukan penelitian tentang pengembangan teknik\/ metode produksi glutathione, sehingga dapat digunakan sebagai suplemen atau obat. Selama ini metode yang sudah dikembangkan dengan memanfaatkan bakteri <em>Escherichia coli<\/em> dan kelompok yeast seperti <em>Saccharomyces cerevisiae<\/em>, melalui proses ekstraksi, kimiawi, fermentasi, maupun metode enzymatic.<br \/>\nDr. Sri Mursiti, M.Si., dosen Jurusan Kimia mendapatkan kesempatan ketiga untuk menyamapaikan paparannya. Mursiti mengupas topik tentang \u201cBiji Mahoni: Si Pahit Pembuat Manisnya Hidup Saat Pandemi\u201d. Mahoni termasuk tumbuhan tropis yang berasal dari Amerika Tengah. Di Indonesia ditemukan dua jenis yaitu <em>S<\/em><em>wietenia<\/em><em> mahagoni<\/em>, Jacq dan <em>S<\/em><em>wietenia<\/em><em> macrophylla<\/em>, King yang diimpor tahun 1888. <em>S<\/em><em>wietenia<\/em><em> macrophylla<\/em>, King menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dan lebih cepat daripada <em>S<\/em><em>wietenia<\/em><em> mahagoni<\/em>, Jacq. Tumbuhan ini merupakan salah satu spesies terbesar dari genus Swietenia serta memiliki nilai ekonomi yang sangat penting, karena telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berbagai keperluan antara lain sebagai bahan bangunan dan mebel (kayu mahoni termasuk jenis andalan Perum Perhutani, kayunya termasuk kelas I), serta bijinya untuk obat. Biji mahoni mempunyai rasa sangat pahit, tetapi secara empiris biji mahoni digunakan untuk obat tradisional antara lain sebagai penurun gula darah, meningkatkan imunitas, menurunkan tekanan darah tinggi, meredakan demam, mengatasi sembelit, antidiare, menyembuhkan eksim, peluruh lemak, menyembuhkan masuk angin, mengatasi\u00a0 nyeri haid, meningkatkan kesuburan, dan mencegah penyakit Alzheimer. Aktivitas tersebut dikarenakan biji mahoni mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, dan saponin yang merupakan metabolit sekunder utama genus ini.<br \/>\nJika ditinjau dari manfaat biji mahoni sebagai obat tradisional yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi berbagai macam gangguan kesehatan sehingga membuat badan selalu sehat, serta harga biji mahoni yang cukup tinggi di pasaran sehingga dapat menambah penghasilan, maka biji mahoni meskipun rasanya pahit, dapat dikatakan sebagai \u201cSi Pahit Pembuat Manisnya Hidup Saat Pandemi\u201d.<br \/>\nNarasumber yang mendapatkan kesempatan terakhir untuk memaparkan materinya adalah Dr. Lisdiana, M.Si, dosen dari Jurusan Biologi. Lisdiana membahas topik tentang \u201cKulit Rambutan: Pengeliminir Kerusakan Akibat Paparan Asap Rokok\u201d. Lisdiana menjelaskan bahwa rambutan merupakan buah tropis asli Indonesia dan tersebar di Asia Tenggara dan ke negara-negara Amerika Latin. <strong>\u00a0<\/strong>Di Indonesia, rambutan merupakan buah musiman yang merakyat. Bagian dari tanaman rambutan yang dikonsumsi adalah buahnya, sementara kulit buahnya dibuang dan berpotensi menjadi limbah. Kulit buah rambutan matang berwarna merah mengandung berbagai senyawa kimia, seperti vitamin C, Cu, K, Fe dan Zn. Selain itu kulit buah rambutan memiliki kandungan senyawa fenolik yang sangat tinggi, flavonid, tanin, alkaloid, terpenoid, dan saponin. Senyawa fenolik pada kulit buah rambutan berbentuk polifenol. Flavonoid, salah satu dari polifenol bersifat sebagai antioksidan eksogen yang mampu menangkal radikal bebas.<br \/>\nIndonesia merupakan negara ketiga terbesar dalam konsumsi rokok, setelah Cina dan India. Asap rokok merupakan senyawa hasil pembakaran rokok. Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 zat berbahaya dan sekitar 200 zat bersifat racun (asam hidrosianat, akrolein, oksida nitrogen) dan sekitar 40 zat bersifat karsinogenik. Paparan asap rokok mengandung radikal bebas, apabila paparan dalam jumlah yang banyak, antioksidan endogen tidak mampu melindungi kerusakan sel akibat radikal bebas, oleh karena itu diperlukan antioksidan eksogen. Salah satu antioksidan eksogen adalah flavonoid yang ada dalam ekstrak kulit rambutan. Flavonoid sebagai antioksidan eksogen mampu melindungi kerusakan sel pada organ paru akibat paparan asap rokok.<br \/>\nKegiatan webinar ini dipandu oleh duo Sri kandi dari Jurusan Biologi yang juga pegiat di Pusat Kajian Produk Berbahan Alam ini, yaitu Dr. drh. Wulan Christijanti, M.Si. dan Dr. Noor Aini Habibah, S.Si., M.Si., yang membuat diskusi dan penyelenggaraan webinar ini semakin hangat suasananya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pusat Kajian Produk Obat dan Non-Obat Berbahan Alam (PK PONOBA) untuk kali ketiga sukses menyelenggarakan webinar tentang kajian produk berbahan alam. Pada seri ketiga ini, PK PONOBA mengangkat tema tentang \u201cEksplorasi Potensi Berbagai Bahan Alam\u201d. Webinar yang diselenggarakan pada hari Sabtu (15\/8) dengan aplikasi Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube mengundang empat narasumber perempuan, yaitu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":3644,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[963,324,220,96,951,967],"class_list":["post-3927","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-id","tag-bahan-alam","tag-fmipa-inovatif","tag-fmipa-unnes","tag-konservasi","tag-obat","tag-pk-ponoba"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3927","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3927"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3927\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3927"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3927"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3927"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}