{"id":21850,"date":"2026-09-09T23:52:23","date_gmt":"2026-09-09T23:52:23","guid":{"rendered":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/?p=21850"},"modified":"2026-09-09T23:52:24","modified_gmt":"2026-09-09T23:52:24","slug":"sengkuyung-desa-peron-ppk-ormawa-bem-fmipa-unnes-perkuat-eco-resilience-melalui-ews-iot-kearifan-lokal-dan-audiensi-lintas-sektor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/id\/2026\/09\/09\/sengkuyung-desa-peron-ppk-ormawa-bem-fmipa-unnes-perkuat-eco-resilience-melalui-ews-iot-kearifan-lokal-dan-audiensi-lintas-sektor\/","title":{"rendered":"Sengkuyung Desa Peron: PPK Ormawa BEM FMIPA UNNES Perkuat Eco-Resilience melalui EWS IoT, Kearifan Lokal, dan Audiensi Lintas Sektor"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kendal, 30 Agustus 2026<\/strong> \u2014 Upaya membangun Desa Peron, Kabupaten Kendal, sebagai desa yang tangguh terhadap bencana terus diperkuat oleh Tim PPK Ormawa BEM FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES). Mengusung semangat <strong>\u201cSengkuyung Desa Peron\u201d<\/strong>, program ini mengintegrasikan teknologi <em>Internet of Things<\/em> (IoT), kearifan lokal, pemanfaatan potensi desa, konservasi lingkungan, mitigasi longsor dan erosi, penguatan kelembagaan masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor untuk membangun <em>eco-resilience<\/em> yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"965\" height=\"747\" src=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/Implementasi-Mitigasi-Bencana-dan-EWS-IoT-Desa-Peron.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-21860\" srcset=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/Implementasi-Mitigasi-Bencana-dan-EWS-IoT-Desa-Peron.jpg 965w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/Implementasi-Mitigasi-Bencana-dan-EWS-IoT-Desa-Peron-300x232.jpg 300w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/Implementasi-Mitigasi-Bencana-dan-EWS-IoT-Desa-Peron-768x595.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 965px) 100vw, 965px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Desa Peron memiliki posisi strategis karena secara hidrologis berada di bagian hulu <strong>DAS Bodri<\/strong>, sekaligus memiliki kondisi wilayah yang rawan terhadap longsor dan erosi. Kondisi tersebut membuat upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui penyediaan rambu atau sosialisasi semata, tetapi membutuhkan pendekatan terpadu yang menggabungkan <strong>data, teknologi, kearifan lokal, penguatan masyarakat, dan tindakan konservasi di lapangan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rangkaian program diawali pada <strong>Jumat, 12 Juni 2026<\/strong> melalui pembukaan dan sosialisasi PPK Ormawa yang diikuti 83 perwakilan masyarakat Desa Peron. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Dekan I FMIPA UNNES Zaenal Abidin, S.Si., M.Cs., Ph.D., PIC FMIPA UNNES Amnan Haris, S.Si., M.Ling., Kepala Desa Peron Erna Hermawati, serta perwakilan Kecamatan Septina Suratinah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak awal, program dirancang dengan filosofi <strong>Sengkuyung<\/strong>, yang dalam bahasa Jawa bermakna bersama-sama, saling mendukung, dan bergotong royong. Sengkuyung tidak hanya menjadi identitas program, tetapi juga ditempatkan sebagai <strong>kearifan lokal dan modal sosial<\/strong> dalam membangun ketangguhan desa. Filosofi tersebut menempatkan masyarakat bukan sebagai penerima program, melainkan sebagai mitra utama dalam setiap tahapan pengembangan Desa Konservasi dan Tangguh Bencana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semangat tersebut kemudian dipadukan dengan <strong>pemanfaatan potensi lokal Desa Peron<\/strong>, salah satunya bambu. Bambu tidak hanya dipandang sebagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan masyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari pendekatan konservasi dan mitigasi berbasis sumber daya lokal. Pemanfaatan material lokal memungkinkan masyarakat memiliki teknologi mitigasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, mudah dikenali, dan berpotensi dipelihara secara mandiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan tersebut diwujudkan melalui serangkaian kegiatan berbasis sains dan teknologi. Pada <strong>26 Juli 2026<\/strong>, tim melakukan pemetaan kemiringan lereng menggunakan <em>clinometer<\/em>. Pemetaan ini menjadi bagian penting dalam mengenali karakteristik medan dan mendukung perencanaan mitigasi bencana berbasis kondisi nyata di Desa Peron.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penguatan program juga dilakukan melalui audiensi dengan berbagai pemangku kepentingan. Pada <strong>6 Juli 2026<\/strong>, Tim PPK Ormawa BEM FMIPA UNNES melakukan audiensi dengan <strong>Bupati Kendal<\/strong> untuk menyampaikan gagasan Desa Konservasi dan Tangguh Bencana di Desa Peron. Pertemuan tersebut mendapat sambutan positif dan menjadi pintu masuk bagi penguatan kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"607\" src=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-24.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-21859\" srcset=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-24.png 975w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-24-300x187.png 300w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-24-768x478.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak berhenti di tingkat pemerintah daerah, pada <strong>28 Juli 2026<\/strong> BEM FMIPA UNNES juga melakukan audiensi dengan <strong>Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Firman Subagyo<\/strong>. Dalam audiensi tersebut, tim menyampaikan proposal pengembangan Desa Konservasi Peron yang berfokus pada mitigasi bencana, konservasi lingkungan, dan penguatan pertanian. Audiensi ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan program desa membutuhkan dukungan dan koordinasi lintas sektor, tidak hanya mengandalkan intervensi perguruan tinggi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"603\" src=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-23.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-21858\" srcset=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-23.png 975w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-23-300x186.png 300w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-23-768x475.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada <strong>26 Agustus 2026<\/strong>, masyarakat mendapatkan pelatihan tata kelola <strong>EWS Sengkuyung<\/strong>, yang dilanjutkan dengan pembangunan <em>Early Warning System<\/em> berbasis IoT. Sistem ini menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi untuk mendukung pemantauan dan penyampaian informasi potensi bahaya secara lebih cepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menariknya, <strong>EWS Sengkuyung tidak hanya mengandalkan teknologi digital<\/strong>. Sistem kesiapsiagaan dikembangkan dengan memadukan teknologi IoT dengan <strong>kearifan lokal dan teknologi sederhana yang telah dikenal masyarakat<\/strong>, seperti <strong>kentongan<\/strong>, serta pemanfaatan bambu sebagai material lokal. Pendekatan ini membentuk sistem peringatan dini yang tidak sepenuhnya bergantung pada perangkat elektronik, sehingga ketika terjadi gangguan listrik, jaringan, atau perangkat digital, masyarakat tetap memiliki mekanisme komunikasi peringatan yang dapat digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Integrasi tersebut menjadi salah satu karakter penting Sengkuyung Desa Peron: <strong>teknologi modern berjalan berdampingan dengan pengetahuan dan potensi lokal<\/strong>. IoT berfungsi memperkuat kemampuan deteksi dan penyampaian informasi, sementara kentongan dan perangkat berbasis bambu menjadi media peringatan yang sederhana, familiar, dan dapat dioperasikan oleh masyarakat. Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan kearifan lokal, tetapi <strong>memperkuatnya menjadi sistem kesiapsiagaan yang lebih adaptif<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, konsep Sengkuyung Desa Peron tidak berhenti pada teknologi. Pendekatan program juga diwujudkan melalui aksi konservasi dan pengendalian longsor serta erosi secara langsung di lapangan. Intervensi fisik dilakukan dengan dukungan peralatan berat, termasuk excavator, untuk membantu penanganan kondisi lahan dan pembangunan struktur konservasi yang diperlukan di lokasi rawan. Dengan demikian, mitigasi yang dilakukan tidak sekadar memasang rambu peringatan, tetapi juga menyentuh sumber risiko melalui penataan dan penguatan kondisi fisik wilayah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"411\" src=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-22.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-21857\" srcset=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-22.png 975w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-22-300x126.png 300w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-22-768x324.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Puncak rangkaian kegiatan dilaksanakan pada <strong>30 Agustus 2026<\/strong> melalui lokakarya dan deklarasi Sengkuyung Desa Peron. Kegiatan diawali dengan penanaman <strong>200 bibit durian, 200 bibit mahoni, 200 bibit alpukat, dan 1.000 tanaman vetiver (akar wangi)<\/strong>. Penanaman vetiver diarahkan terutama pada lokasi yang membutuhkan penguatan struktur tanah dan pengendalian erosi, sementara tanaman berkayu dan buah diharapkan dapat mendukung fungsi ekologis sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lokakarya dan deklarasi tersebut dihadiri oleh Prof. Dr. Edy Cahyono, M.Si., Dekan FMIPA UNNES, Teguh Prihanto, S.T., M.T. dari Subdirektorat Konservasi UNNES, Abdul Jabbar, M.Ling. selaku dosen pendamping Tim PPK Ormawa BEM FMIPA, Trida Ridho Fariz, M.Sc. dari Gugus Konservasi dan SDGs FMIPA, serta Amnan Haris, M.Ling. selaku PIC PPKO FMIPA. Dari unsur pemerintah hadir Pujiharini, S.Hut., M.P., Kepala Bidang Pengelolaan DAS, Rehabilitasi, dan Konservasi Sumber Daya Alam DLHK Provinsi Jawa Tengah; Ignatius Hidayat Edhi Nugroho, S.Kom., M.A., Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal; serta Laksono Dewanto, S.E., M.M. dari Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Sengkuyung Desa Peron merupakan model pemberdayaan yang menghubungkan audiensi kebijakan, pemetaan ilmiah, teknologi EWS, kearifan lokal, pemanfaatan potensi desa, konservasi berbasis vegetasi, pembangunan fisik mitigasi, hingga penguatan kelembagaan masyarakat. Seluruh komponen tersebut diarahkan untuk membangun kapasitas desa dalam menghadapi risiko bencana sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"975\" height=\"477\" src=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-21.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-21856\" srcset=\"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-21.png 975w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-21-300x147.png 300w, https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/09\/image-21-768x376.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 975px) 100vw, 975px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui program ini, BEM FMIPA UNNES berupaya menghadirkan pola pemberdayaan yang bergerak dari <strong>\u201cdata \u2192 sistem \u2192 aksi \u2192 kolaborasi\u201d<\/strong>. Data kondisi wilayah menjadi dasar pengambilan keputusan; EWS berbasis IoT dan kearifan lokal menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan; aksi konservasi menjadi bentuk nyata pengurangan risiko; sementara audiensi dan kemitraan lintas sektor menjadi fondasi keberlanjutan program.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan pendekatan tersebut, Sengkuyung Desa Peron bukan sekadar program pemasangan EWS, penanaman pohon, atau pembangunan infrastruktur mitigasi. Program ini merupakan upaya membangun ekosistem ketangguhan desa yang menggabungkan teknologi modern dengan kearifan lokal, potensi alam dengan pengetahuan ilmiah, serta aksi masyarakat dengan dukungan pemerintah dan perguruan tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semangat tersebut menjadikan Sengkuyung Desa Peron sebagai pendekatan kolaboratif untuk membangun desa yang mampu mengenali risikonya, memanfaatkan teknologinya, mengoptimalkan potensi lokalnya, menjaga ekosistemnya, dan bergerak bersama ketika menghadapi ancaman bencana. Program ini sekaligus berkontribusi pada <strong>SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)<\/strong> melalui penguatan ketangguhan masyarakat, konservasi DAS dan lahan, pemanfaatan teknologi dan kearifan lokal untuk kesiapsiagaan, serta kemitraan antara mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kendal, 30 Agustus 2026 \u2014 Upaya membangun Desa Peron, Kabupaten Kendal, sebagai desa yang tangguh terhadap bencana terus diperkuat oleh Tim PPK Ormawa BEM FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES). Mengusung semangat \u201cSengkuyung Desa Peron\u201d, program ini mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT), kearifan lokal, pemanfaatan potensi desa, konservasi lingkungan, mitigasi longsor dan erosi, penguatan kelembagaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":21860,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[1694,1702,1672,1680],"class_list":["post-21850","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-id","tag-unnessdgs11-id","tag-unnessdgs13-id","tag-unnessdgs15","tag-unnessdgs17"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21850","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21850"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21850\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21862,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21850\/revisions\/21862"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21860"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/mipa\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}