Solo, 13 Februari 2025 — Rangkaian Rapat Kerja (Raker) Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Profesi (LPPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) memasuki hari kedua dengan agenda penguatan kebersamaan tim melalui kunjungan pembelajaran budaya di Kampung Batik Laweyan, Solo.
Di sela padatnya forum pemantapan program kerja 2026, rombongan LPPP UNNES menapaki lorong-lorong Laweyan yang sarat sejarah. Aroma malam dan kain mori menyambut sejak pintu masuk. Namun yang paling membekas bukan hanya suasananya—melainkan pelajaran tentang ketekunan, presisi, dan kerja yang lahir dari selembar kain batik.
Canting, Malam, dan Pelajaran tentang Kepercayaan
Para pegawai tidak berhenti pada sesi melihat proses produksi. Mereka diajak praktik langsung: memegang canting, mengatur aliran malam, dan menorehkan motif perlahan. Di sini, membatik bukan sekadar kegiatan kreatif—ia menuntut fokus, kesabaran, dan koordinasi. Satu goresan yang terlalu tergesa bisa melenceng; satu titik yang terlewat dapat mengubah keseluruhan pola.
Dalam suasana itu, spontan muncul kerja sama: ada yang membantu menyiapkan alat, ada yang memberi contoh teknik, ada pula yang menjadi penyemangat ketika teman mulai ragu. Tawa kecil karena ‘garis yang sedikit keluar jalur’ justru menjadi jembatan kedekatan. Setiap orang belajar menerima proses dan, lebih dari itu, belajar percaya pada tim.
Menguatkan Teamwork dan Bonding Antar Pegawai
Kegiatan belajar membatik di Laweyan dipandang penting sebagai ruang membangun kekompakan (teamwork) dan bonding antar pegawai. Di luar konteks rapat formal, interaksi yang cair membuat komunikasi lebih setara, empati lebih mudah tumbuh, dan kolaborasi terasa alami. Nilai ini relevan dengan kerja-kerja LPPP yang menuntut sinergi lintas peran: perencanaan program, pendampingan mutu, hingga eksekusi kegiatan yang harus bergerak serempak.
Batik mengajarkan bahwa hasil terbaik tidak lahir dari langkah sendiri-sendiri. Ia lahir dari keteraturan, konsistensi, dan kesediaan saling menguatkan—persis seperti kerja tim yang dibutuhkan untuk memastikan program kerja 2026 berjalan efektif dan berdampak.
Membawa Energi Laweyan ke Meja Kerja
Menutup sesi, para peserta membawa pulang bukan hanya pengalaman budaya, tetapi juga energi kebersamaan. Harapannya, kekompakan yang terbangun di Laweyan menjadi modal sosial organisasi: lebih solid, lebih komunikatif, dan lebih siap menghadapi target-target kerja dengan semangat kolaboratif.
Kegiatan pembelajaran budaya membatik di Kampung Batik Laweyan ini selaras dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Pertama, mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengalaman belajar kontekstual yang memperkaya wawasan budaya dan keterampilan praktis.
Kedua, berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mengenalkan dan mengapresiasi industri kreatif batik sebagai bagian dari ekonomi lokal.
Ketiga, sejalan dengan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian warisan budaya seperti batik Laweyan.
Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) karena melibatkan kolaborasi antara institusi pendidikan dan komunitas lokal.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mempererat kebersamaan internal, tetapi juga menunjukkan komitmen LPPP UNNES dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis budaya dan kolaborasi.





