{"id":9700,"date":"2025-06-30T02:54:30","date_gmt":"2025-06-30T02:54:30","guid":{"rendered":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/?p=9700"},"modified":"2025-06-30T02:54:30","modified_gmt":"2025-06-30T02:54:30","slug":"lewat-keroncong-unnes-gaungkan-warisan-budaya-di-hari-musik-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/id\/lewat-keroncong-unnes-gaungkan-warisan-budaya-di-hari-musik-dunia\/","title":{"rendered":"Lewat Keroncong, UNNES Gaungkan Warisan Budaya di Hari Musik Dunia"},"content":{"rendered":"\n<p>Universitas Negeri Semarang (UNNES) memperingati Hari Musik Dunia dengan menggelar perayaan bertajuk F\u00eate De La Musique: Keroncong dari Indonesia untuk Dunia di Gedung Auditorium Prof. Wuryanto, Sabtu (21\/6\/2025). Perayaan ini merupakan wujud nyata kecintaan UNNES terhadap musik keroncong sebagai warisan budaya tak benda nusantara yang patut dijaga dan diwariskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain pertunjukan musik, acara ini juga ditandai dengan Deklarasi Rekognisi UNESCO untuk musik keroncong sebagai warisan budaya tak benda dunia, serta pemberian penghargaan kepada komunitas-komunitas keroncong atas kontribusinya dalam melestarikan musik tradisional ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Rektor UNNES Prof. Dr. S Martono, M.Si., juga menyampaikan bahwa UNNES berkomitmen menjaga keberlangsungan budaya Indonesia melalui pendekatan pendidikan yang transformatif.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMelalui perayaan Hari Musik Dunia ini, UNNES tidak hanya merayakan musik, tetapi juga meneguhkan komitmen sebagai kampus konservasi yang menjadikan budaya sebagai bagian dari proses akademik, identitas, dan diplomasi bangsa,\u201d ujarnya<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI, Prof. Ismunandar, Ph.D., menekankan bahwa pelestarian budaya harus sejalan dengan inovasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWarisan budaya tak benda harus tetap di inovasikan dan kreatifitaskan. Mengusulkan pencatatan ke UNESCO memang penting, tetapi yang lebih penting adalah inovasi dan pewarisan budaya kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Disisi lain, Koordinator Program Studi Pendidikan Seni Musik UNNES Abdul Rachman, S.Pd., M.Pd menjelaskan perayaan ini bukan hanya bentuk apresiasi, namun juga usaha untuk menghidupkan kembali keroncong di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMusik keroncong adalah mahakarya budaya yang hidup dan tumbuh secara turun-temurun. Melalui peringatan ini, kami ingin mengangkat kembali keroncong agar terus lestari dan relevan,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNNES, Prof. Tommi Yuniawan, M.Hum., turut memberikan Apresiasi setingi-tingginya kami berikan untuk program studi Pendidikan Seni Musik yang telah menginisiasi peringatan hari musik dunia<\/p>\n\n\n\n<p>Perayaan ini menghadirkan deretan penampil dari dalam dan luar negeri. Dari Indonesia, tampil musisi dan kelompok keroncong seperti Alfa Bintang, Hendra Kumbara, Orkes Keroncong PSM UNNES, dan Komunitas Warung Keroncong. Sementara dari Malaysia, turut ikut serta Cong Rock17, Kumpulan Keroncong Tunku Langit, Kumpulan Keroncong Sujana Bakti, serta Kumpulan Keroncong Gemersik Bayu dari UPSI Malaysia.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya itu, acara ini juga dimeriahkan oleh keikutsertaan akademisi dan musisi dari berbagai universitas Malaysia, di antaranya Dr. Marzelan Salleh (Universiti Malaya), Dr. Alia Farahnin (Universiti Teknologi MARA), Dr. Shafaztusssara Silauddin (Universiti Malaya), dan Jamilah Binti Abu Bakar (UPSI Malaysia).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Universitas Negeri Semarang (UNNES) memperingati Hari Musik Dunia dengan menggelar perayaan bertajuk F\u00eate De La Musique: Keroncong dari Indonesia untuk Dunia di Gedung Auditorium Prof. Wuryanto, Sabtu (21\/6\/2025). Perayaan ini merupakan wujud nyata kecintaan UNNES terhadap musik keroncong sebagai warisan budaya tak benda nusantara yang patut dijaga dan diwariskan. Selain pertunjukan musik, acara ini juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":9703,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[96],"tags":[126,106],"class_list":["post-9700","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-konservasi","tag-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9700","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9700"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9700\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9704,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9700\/revisions\/9704"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9700"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9700"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9700"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}