{"id":5136,"date":"2022-10-24T16:18:44","date_gmt":"2022-10-24T09:18:44","guid":{"rendered":"http:\/\/konservasi.unnes.ac.id\/?p=5136"},"modified":"2023-05-23T06:59:30","modified_gmt":"2023-05-23T06:59:30","slug":"antusias-siswa-siswi-sd-labschool-unnes-membuat-batik-jumputan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/id\/antusias-siswa-siswi-sd-labschool-unnes-membuat-batik-jumputan\/","title":{"rendered":"Antusias, Siswa &#8211; Siswi SD Labschool Unnes Membuat Batik Jumputan"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5137\" src=\"http:\/\/konservasi.unnes.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Hari-Batik-Nasional-UNNES-2022.jpeg\" alt=\"\" width=\"1030\" height=\"579\" \/><\/p>\n<p>Batik jumputan atau yang biasa dikenal dengan nama <em>tie dye<\/em> merupakan salah satu batik modern yang banyak diminati masyarakat saat ini. Batik jumputan memiliki motif yang unik, seperti berbentuk melingkar, donat, garis, hingga mawar.<\/p>\n<p>Kata \u201cJumputan\u201d berasal dari Bahasa Jawa yang artinya mengambil atau memungut dengan menggunakan semua ujung jari tangan. Selain harganya yang terjangkau, cara pembuatannya pun sangat mudah dan dapat dilakukan oleh berbagai kalangan, salah satunya oleh siswa sekolah dasar.<\/p>\n<p>Siswa-Siswi kelas V SD Labschool Unnes mengisi pembelajaran Seni Budaya dan Prakara\u00a0(SPdB)\u00a0dengan membuat batik jumputan\u00a0beberapa waktu lalu. Batik\u00a0yang\u00a0dalam sejarahnya\u00a0berasal\u00a0dari Tiongkok\u00a0dan\u00a0India\u00a0itu, kini\u00a0menjadi kebudayaan Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cTerlihat anak-anak sangat senang karena dapat mempraktekkan langsung membuat batik dengan metode jumputan ini\u201d kata Anindhyta Putri Pradipta, S.Pd. guru kelas V SD Labschool Unnes.<\/p>\n<p>Fitri Widya Ningrum, S.Pd. guru kelas V SD Labschool Unnes juga mengungkapkan bahwa\u00a0kegiatan ini untuk\u00a0mengenalkan anak-anak tetang seni budaya daerah. \u201cMengenalkan anak-anak salah satu contoh budaya daerah sehingga mereka akan selalu bangga dan cinta dengan\u00a0\u00a0keunikan kebudayaan mereka,\u201d\u00a0ujarnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya Istika Ramadhani, S.Pd. guru kelas V SD Labschool Unnes menerangkan,\u00a0selain mengenalkan kebudayaan daerah yang memiliki\u00a0banyak batik motif\u00a0jumputan,\u00a0kegiatan ini untuk\u00a0meningkatkan kreativitas\u00a0sehingga dapat meningkatkan nilai harian siswa di unjuk kerja\u00a0prakarya dalam SBdP.<\/p>\n<p>Antusias Siswa Siswi SD Labschool Unnes membuat batik jumputan ini karena pembuatannya relatif mudah dan menyenangkan sehingga tidak membosankan. Adapun cara membuat batik jumputan yaitu:<\/p>\n<p><em>Pertama<\/em>, menyiapkan kaos putih.\u00a0 <em>Kedua<\/em>,\u00a0mencampurkan bahan pewarna pakaian atau\u00a0wantex dengan air panas.\u00a0 <em>Ketiga<\/em>,\u00a0memasukkan\u00a0wantex ke dalam botol air mineral yang telah dilubangi tutupnya. <em>Keempat<\/em>,\u00a0membuat pola pada kaos sesuai keinginan.\u00a0<em>Kelima<\/em>\u00a0mewarnai kaos dengan pewarna pakaian. Dan terakhir menjemur kaos yang telah diwarnai.<\/p>\n<p>Karya batik jumputan\u00a0Siswa Siswi SD Labschool Unnes ini mendapat apresiasi dari Kepala SD Labschool Unnes.\u00a0Seperti\u00a0disampaikan\u00a0Muhammad Mukhlas, S.Pd. \u201cKaosnya bagus-bagus, terima kasih atas bimbingan Bapak\/Ibu Guru telah mengajarkan anak-anak untuk membuat batik jumputan,\u201d ujarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batik jumputan atau yang biasa dikenal dengan nama tie dye merupakan salah satu batik modern yang banyak diminati masyarakat saat ini. Batik jumputan memiliki motif yang unik, seperti berbentuk melingkar, donat, garis, hingga mawar. Kata \u201cJumputan\u201d berasal dari Bahasa Jawa yang artinya mengambil atau memungut dengan menggunakan semua ujung jari tangan. Selain harganya yang terjangkau, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[96],"tags":[],"class_list":["post-5136","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5136","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5136"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5136\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6881,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5136\/revisions\/6881"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5136"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5136"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/konservasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5136"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}