Semarang, 5 Februari 2026 — Subdirektorat Konservasi Universitas Negeri Semarang (UNNES) menerima kunjungan Studi Tiru Pengelolaan dan Pemilahan Sampah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya ITS untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah kampus secara terstruktur, modern, dan berbasis konservasi.
Rombongan ITS berjumlah enam orang, terdiri dari unsur Biro Manajemen Aset (BMA), Departemen Teknik Lingkungan, serta pengelola sarana prasarana kampus. Delegasi tersebut meliputi perwakilan BMA ITS, Kepala Departemen Teknik Lingkungan, serta pejabat pengelola prasarana dan ruang terbuka hijau.
Kedatangan rombongan disambut oleh Kepala Subdirektorat Konservasi UNNES, Prof. Dr. Nana Kariada T.M., M.Si., beserta tim, serta Kepala Seksi Aset UNNES beserta tim, sehingga total enam orang dari UNNES turut mendampingi proses kunjungan. Pertemuan berlangsung di Ruang Metamorfosis Pendidikan UNNES dan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan.
Dalam paparannya, Prof. Nana menyampaikan komitmen UNNES dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi sebagai bagian penting dari kebijakan konservasi kampus. Materi mencakup strategi pemilahan sampah, pengolahan organik, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pengembangan budaya ramah lingkungan di kalangan sivitas akademika.
“Kami menyambut baik kolaborasi dan pertukaran praktik baik antarperguruan tinggi. Pengelolaan sampah yang benar bukan hanya berdampak pada kebersihan, tetapi juga pada ekologi, edukasi, dan keberlanjutan kampus,” ujarnya.
Usai diskusi, rombongan ITS meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) UNNES. Delegasi melihat bahwa TPST UNNES tidak hanya mengelola sampah organik menjadi kompos, tetapi juga mengembangkan unit produksi maggot sebagai solusi pengolahan organik bernilai ekonomi, memiliki fasilitas pengolahan sampah plastik, serta mengoperasikan mesin incinerator untuk menangani residu sampah tertentu sesuai standar lingkungan. Dengan keberagaman fasilitas ini, TPST UNNES telah menerapkan pendekatan pengelolaan sampah yang komprehensif, mandiri, dan adaptif.
Kunjungan dilanjutkan ke Kebun UNNES Ecofarm, yang menjadi lokasi pemanfaatan kompos dan maggot hasil olahan TPST. Ecofarm tidak hanya berfungsi sebagai kebun edukasi, tetapi juga merupakan percontohan urban farming dan integrated farm, yakni kebun terintegrasi yang menggabungkan pertanian, pemanfaatan limbah organik, dan edukasi lingkungan dalam satu sistem berkelanjutan. Ecofarm menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mempelajari pertanian perkotaan, siklus pemanfaatan kembali bahan organik, serta model pengelolaan lingkungan yang aplikatif.
Perwakilan ITS menyampaikan apresiasi atas praktik pengelolaan sampah dan pertanian terintegrasi yang diterapkan UNNES. Menurut mereka, model ini dapat menjadi rujukan penting untuk memperkuat sistem persampahan dan program kampus berkelanjutan di ITS.
Kegiatan kunjungan ini memiliki keterkaitan erat dengan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penguatan tata kelola sampah kampus mendukung SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penciptaan lingkungan kampus yang aman dan tertata. Sistem pemilahan dan pengolahan sampah yang diterapkan memperkuat SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) karena mendorong perilaku minim sampah dan penerapan prinsip circular economy.
Aktivitas pengomposan, produksi maggot, dan pengurangan sampah organik turut berkontribusi pada SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penurunan potensi emisi gas rumah kaca. Pengelolaan sampah yang baik juga mendukung keberlanjutan ruang hijau kampus sehingga berkaitan langsung dengan SDGs 15 (Ekosistem Daratan). Selain itu, penggunaan kompos untuk meningkatkan produktivitas pertanian kampus mendukung SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan pangan sehat berbasis ekologi.




