Bawen, 1 Februari 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2025, PT PLN (Persero) UID Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta berkolaborasi dengan Subdirektorat Konservasi Universitas Negeri Semarang serta Yayasan Akar Banir Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Edukasi Perawatan Budidaya Alpukat. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari aksi penanaman alpukat yang sebelumnya telah dilakukan di wilayah lereng Gunung Ungaran.
Kepala Subdirektorat Konservasi UNNES, Prof. Dr. Nana Kariada T.M., M.Si., menjelaskan bahwa rangkaian HMPI 2025 diawali dengan penanaman 600 pohon alpukat di Dusun Talun, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Ia menegaskan bahwa keberhasilan penanaman sangat ditentukan oleh konsistensi dalam perawatan tanaman.
“Menanam itu relatif mudah, tetapi yang membutuhkan komitmen jangka panjang adalah perawatannya. Kami berharap alpukat yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai vegetasi konservasi yang memperkuat kawasan catchment area, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki keterkaitan langsung dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Program ini mendukung SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui peningkatan tutupan vegetasi, penyerapan karbon, serta penguatan adaptasi berbasis ekosistem. Selain itu, kegiatan ini selaras dengan SDGs 15 (Ekosistem Daratan) karena berkontribusi pada pemulihan fungsi lahan, konservasi keanekaragaman hayati, serta pengelolaan berkelanjutan ekosistem darat di kawasan perdesaan.
Kegiatan budidaya alpukat ini juga mendukung SDGs 2 (Tanpa Kelaparan). Melalui peningkatan kapasitas petani dalam teknik budidaya yang baik, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan lokal, menghadirkan sumber pangan bergizi secara berkelanjutan, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pedesaan melalui hasil panen berkualitas yang memiliki nilai pasar tinggi.
Sebanyak 32 anggota Kelompok Tani Muda Utomo Lestari mengikuti kegiatan lanjutan berupa kunjungan pembelajaran ke Hortimart Agro Center Bawen. Dalam kegiatan tersebut, para petani diajak melihat langsung praktik budidaya alpukat yang telah diterapkan secara modern, mulai dari sistem pengairan, pemupukan, pengaturan jarak tanam, hingga pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) berupa sensor kelembaban tanah yang terintegrasi dengan sistem irigasi tetes.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi oleh Pratomo dari Yayasan Obor Tani yang mengulas kondisi lingkungan ideal untuk pertumbuhan alpukat, teknik pemupukan dan pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit, hingga strategi pemasaran hasil panen.
Ketua Kelompok Tani Muda Utomo Lestari, Waldy, menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat dibutuhkan oleh para anggota. “Antusiasme masyarakat dalam menanam alpukat sangat tinggi. Namun, semangat tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan teknis dalam merawat tanaman, agar alpukat dapat tumbuh optimal dan benar-benar menghasilkan,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan budidaya alpukat dapat dikelola secara berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan iklim, serta mampu memberikan manfaat ekologis, ekonomi, dan pangan bagi masyarakat sekitar, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.




