Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tergabung dalam program GIAT 14 menghadirkan inovasi incinerator minim asap sebagai solusi atas permasalahan pengelolaan sampah di Desa Brangkal, Kabupaten Klaten. Desa ini sebelumnya menghadapi persoalan sampah yang dibakar secara terbuka, menyebabkan pencemaran udara dan membahayakan pengguna jalan tol karena asap pekat dapat mengurangi jarak pandang pengendara. Mahasiswa bersama Dosen Pendamping Lapangan, Septina Sulistyaningrum, S.Pd., M.Pd., melakukan pembangunan incinerator sejak 25 Desember 2025 di lokasi strategis dekat bank sampah dan kandang bebek, dengan proses konstruksi meliputi pengecoran pondasi, pembuatan ruang pembakaran dari material hebel, pemasangan besi sebagai tatakan sampah, serta pembangunan corong asap untuk mendukung sirkulasi udara yang baik. Seluruh struktur kemudian diplester guna mencegah kebocoran asap sehingga alat dapat digunakan secara optimal oleh warga. Inovasi ini berangkat dari hasil diskusi dengan perangkat desa serta pertimbangan kondisi geografis Brangkal yang berdekatan dengan Jalan Tol Klaten–Solo–Yogyakarta, sehingga diperlukan solusi pengelolaan sampah yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Hadirnya incinerator minim asap ini sekaligus mendukung pencapaian beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini berkontribusi pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya mengurangi pencemaran udara dari pembakaran sampah terbuka yang sebelumnya berpotensi mengganggu kesehatan warga. Selain itu, pengelolaan sampah yang lebih tertata turut mendukung SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) karena mencegah dampak lanjutan seperti pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah. Di sisi lain, penerapan teknologi tepat guna di tingkat desa memperkuat pencapaian SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong masyarakat untuk mengelola limbah secara lebih terstruktur. Upaya ini juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim, sejalan dengan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), karena mengurangi emisi berbahaya yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka. Dengan demikian, inisiatif mahasiswa UNNES tidak hanya menyelesaikan persoalan lokal, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.




