Kebanggaan yang Terlupakan


Kebanggaan yang Terlupakan

SEINGAT saya, waktu kecil lagu “Garuda Pancasila” sangat sering diputar di TVRI dan RRI. Tidak ada anak kecil yang tidak hafal lagu itu. Mungkin karena terlalu sering kedua stasiun penyiaran itu memutarnya. Tapi, sekarang sudah berbeda keadaannya. Simbol-simbol kebangsaan yang seharusnya menjadi kebanggaan itu mulai dilupakan. Kini anak-anak kecil, remaja, bahkan orang tua lebih senang mendengarkan musik R&B, pop, rap, dan jazz daripada lagu kebangsaan.

Memang saat upacara bendera kita tidak pernah ketinggalan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Tapi, apakah saat menyanyikan lagu tersebut, kita benar-benar melakukannya dengan penuh kekhidmatan? Banyak dari kita kadang melakukannya dengan malas, terpaksa, dan menginginkan ritual mingguan itu segera berakhir. Coba bandingkan ketika kita mendendangkan lagu-lagu pop dan sejenisnya, pasti penuh dengan penghayatan.

Padahal, dulu para pahlawan kita harus berjuang keras ketika akan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. WR Supratman juga telah bersusah payah menciptakan lagu kebanggaan kita ini. Tahun 1924, ia menulis lirik lagu “Indonesia Raya” dan dengan biolanya juga lagu ini kali pertama dinyanyikan saat Kongres Pemuda II di Jakarta. Sayang, sang maestro tidak sempat menikmati detik-detik Proklamasi karena ia meninggal dunia pada 17 Agustus 1938.

Upacara pengibaran bendera tidaklah sekadar ritual. Tapi untuk memperingati peristiwa yang penuh makna puluhan tahun silam yang berkat perjuangan dan tumpahan darah para pahlawan, kita akhirnya dapat mencapai kemerdekaan. Begitu juga lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, merupakan simbol pemersatu bangsa yang punya makna sangat luar biasa. Oleh karena itu, kita tidak boleh asal-asalan ketika menyanyikannya.

Bahasa Persatuan

Bahasa Indonesia lahir dan menjadi bahasa persatuan sejak 28 Oktober 1928. Saat Jepang menduduki Indonesia, mereka berusaha mengajarkan bahasa Jepang pada orang-orang Indonesia. Namun, hal itu malah mempersulit mereka. Hingga akhirnya Jepang memilih jalan praktis dengan memakai bahasa Indonesia yang sudah tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

Waktu Jepang menyerah, bahasa Indonesia semakin kuat kedudukannya. Begitulah, lahirnya bahasa Indonesia bukan sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan melalui perjuangan panjang nan melelahkan disertai kebulatan tekad dan semangat untuk bersatu. Untuk itu, kita harus sekuat tenaga menjaganya agar tidak hilang ditelan zaman.

Tapi kini, timbul penyakit menular sok nginggris yang menjangkiti hampir semua kalangan. Mulai dari remaja, pejabat, selebritas, tukang ojek, tukang becak, sampai tukang jaga WC umum pun kena. Inilah saat bahasa Indonesia mengalami masa kritisnya. Hal itu karena kita sendirilah yang ingin tampil keren dan nyentrik dengan menggunakan bahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari.

Merah Putih Berkibarlah!

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, ketika berjuang melawan penjajah Belanda, para pejuang bangsa rela maju menembus desingan peluru untuk menurunkan bendera merah-putih-birukolonial, merobek warna birunya dan mengibarkannya kembali sebagai bendera Merah Putih. Merah Putih pun kembali berkibar di udara!

Ada cerita unik dari Grace Wiroreno di blog miliknya. Dia dan teman-temannya rela berdiri tegak dan menghormat dengan dagu terangkat, malam-malam di tengah hutan yang berlumpur karena melihat selembar kain merah putih di sebuah peti yang ditemukannya. “Rasa itu tak pernah hilang dari ingatanku,” begitu pengakuannya.

Paling tidak, ketika kita melewati dan melihat bendera sedang berkibar jangan malu untuk memberi hormat. Atau bagi yang aktif di organisasi, jadikan warna merah putih buat warna logo atau sesuatu yang lain di organisasi tersebut.

Garuda Pancasila di Dadaku

Tahukah Anda siapa perancang lambang Garuda Pancasila? Kebanyakan orang hanya mengenal pencipta lagu “Indonesia Raya” atau pembaca teks Proklamasi, sedangkan perancang lambang negara kita sendiri terlupakan begitu saja. Perancang lambang negara kita adalah seorang sultan dari Kalimantan yang bernama Syarif Abdul Hamid Alkadrie atau terkenal dengan sebutan Sultan Hamid II.

Burung Garuda merupakan binatang mitos dalam mitologi Hindu. Garuda sebagai lambang negara menggambarkan kekuatan dan kekuasaan. Warna emas melambangkan kemegahan dan kejayaan. Jumlah bulu burung Garuda ini dibuat sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Perisai yang ada di perut sang Garuda melambangkan pertahanan Indonesia. Pada perisai itu terkandung lima buah simbol yang masing-masing melambangkan sila-sila dari Pancasila. Pada bagian bawah, kita dapat melihat pita putih yang dicengkeram bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika” yang merupakan semboyan Negara.

Setelah membaca deretan makna dari simbol-simbol kebangsaan kita, apa yang Anda rasakan? Kebanggaan, rasa syukur, atau semangatkah? Jawabannya tentu hanya Anda yang tahu. Kebanggaan pada Indonesia adalah hal yang paling mahal saat ini. Mengapa? Karena masyarakat sekarang ini lebih senang berdemo, menuntut hak mereka, sedangkan kewajiban mereka terhadap negara belum tentu sudah mereka laksanakan. Sekarang bukanlah saatnya meributkan para pejabat yang terlibat KKN atau sistem pemerintahan yang semrawut, melainkan yang terpenting adalah menumbuhkan rasa bangga dan rasa memiliki terhadap bangsa Indonesia sehingga akan memberikan dampak positif bagi bangsa kita.

Berbuatlah yang terbaik yang dapat di sumbangkan untuk negeri tercinta ini. Jangan berpikir kalau perbuatan kita hanya akan sia-sia belaka. Sebab, sebuah biji akan tumbuh menjadi sebuah pohon yang kukuh kalau kita mau merawat dan menyiraminya dengan rasa cinta, ikhlas, dan tanggung jawab. Begitu pula bangsa kita, bangsa Indonesia, akan menjadi bangsa yang besar dan tangguh jika kita mau mencintai bangsa kita dan bangga akan negeri tempat kelahiran kita. Jadi, tunggu apa lagi, mari kita teriakkan “Aku Bangga Indonesia!”

Shiva Fauziah, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes

20 komentar pada “Kebanggaan yang Terlupakan

  1. bagus shiv…
    setelah saya baca gagasanmu aku kembali tersadar bahwa bangsa indonesia merupaan bangsa yang hebat..
    aku semakin bangga dengan INDONESIA..

  2. kalo di kos saya muternya lagu wajib, kayak indonesia tanah air beta, tp anehnya sering pd protes, gtw knp, mgkn suatu bentuk degradasi nasionalisme pemuda kita kali ya???????

  3. Salut buat Syifa Fauziah yg telah mengingatkan kembali tentang rasa Nasinalisme melalui gagasan yang telah di tuangkannya…….!!!!!!!!!!

    Bravo…………..INDONESIAKU…..!!!!!!

  4. terima kasih kepada semua yang telah bersedia membaca dan memberi komentar pada gagasan saya, harapannya semoga gagasan ini mampu memberikan motivasi dan pencerahan bagi kita sebagai generasi penerus bangsa.

  5. soal lagu mbak bro, lagu kebangsaan jelas kalah soalnya marketingnya nggak jalan. jangan salahin anak2 yang pada seneng nyanyi smash daripada nyanyi bendera pusaka, lha wong emang nhggak diajar dan dibiasakan sejak dini kok. dalam hal ini pemerintah, swasta dan masyarakat harus bersama-sama memupuk kembali rasa itu.
    soal bahasa, mingkin yang mbak bro maksud itu bahasa indonesia resmi, yang mana bahasa indonesia yang resmi adalah bahasa yang ada di KBBI. dalam bahasa manapun, bahasa resmi lazimnya emang dipake buat bahasa tulis saja, kalaupun dipakai sebagai bahasa lisan, tentu di nforum2 yang resmi. selebihnya, bahasa slang yang digunakan. itu nggak bahasa indonesia saja, bahasa lain juga sama. saya yakin dalam kehidupan sehari2 mbak bro juga nggak terlepas dari kata ‘plis’, ‘ambilin’, ‘nggak tau’, ‘suer’, ‘narsis’, ‘abis’, dll. di sisi lain bahasa buka sesuatu yang statis, tapi terus berkembang. nama Sudirman mungkit terlihat ‘saru’ di tahun 1945 dimana orang orang masih menggunakan Soedirman. bisa jadi kata ‘alay’ suatu saat nanti akan masuk KBBI. hahahahah mbak bro yang belajar bahasa tentu lebih tau perkembangan bahasa.
    ini pendapat aja, nggak ngajak debat.

  6. Sipp Mbak Shiva….. Indonesia memang membutuhkan kita. Sebagai tunas bangsa, siapa lagi yang akan memajukan Bumi Pertiwi kita kalau bukan kita….Jayalah Indonesia…. Aku Cinta Indonesia….. :) :>

  7. Kebanggan yang diungkap di tulisan di atas cuma kebanggan simbolis. Idealnya, kebanggaan ini menggambarkan kebanggan yang lebih esensial. Tapi, simbol2 kerap kehilangan rujukan juga toh? Ia hadir di ritus2 birokrasi dan akademik tapi tidak dalam keseharian.
    O iya, Dosen PKn itu siapa sih? Sumpah, narsis bianget. Sok berjasa…

  8. Ir. Soekarno adalah Bapak Proklamator. Siapa yang menyangsikan jiwa patriotisme Beliau? Ir. Soekarno mahir banyak bahasa asing. Siapa menyangkal? Dengan mampu berbahasa asing kita dapat belajar banyak dari orang asing, memahami mereka, mengajak dan jenis2 komunikasi lainnya serta masih banyak lagi. Patriotis adalah WAJIB; menguasai banyak hal juga WAJIB.

  9. untuk “Kugy” terima kasih untuk komentarnya dan pendapatnya membangun sekali… :) mengenai bahasa,,, sudah saya paparkan bahwa sekarang ini para pemuda kita telah di jangkiti penyakit “sok nginggris” maksud istilah tersebut adalah para pemuda lebih senang menggunakan bahasa asing khususnya bahasa inggris di bandingkan dengan bahasa indonesia, apalagi sekarang ini sudah banyak SMA/SMP berlabelkan RSBI yang sistem pembelajarannya menggunakan Bilingual. kekhawatiran kami, jika hal ini di biarkan tanpa adanya sosialisasi untuk mencintai simbol-simbol kebangsaan khusunya bahasa indonesia maka bisa saja terjadi para pemuda akan lupa bahkan tidak memahami tentang bahasanya sendiri bahasa indonesia…

  10. Tanah airku tidak kulupakan
    Kan terkenang selama hidupku
    Biarpun saya pergi jauh
    Tidak kan hilang dari kalbu
    Tanah ku yang kucintai
    Engkau kuhargai

    Walaupun banyak negri kujalani
    Yang masyhur permai dikata orang
    Tetapi kampung dan rumahku
    Di sanalah kurasa senang
    Tanahku tak kulupakan
    Engkau kubanggakan

  11. Menurut saya, ini terlalu subjektif jika menilai budaya luar sebagai “biang keladi” degradasi nasionalisme anak bangsa..
    seharusnya bisa lebih di sorot kenapa nasionalisme itu berkurang dari segi lingkungan dan kontrol pengaruh sosial. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menjadikan patokan bahwa orang yang hafal UUD’45 dan Pancasila pun sudah tentu cinta bangsanya.. kita bukan sok nginggris, tapi belajar bhasa inggris. Sekarang universitas mana coba yang tidak menjadikan TOEFL sebagai salah satu syarat kelulusan? Tidak ada bahasa dan budaya barat pun di negara kita pasti akan menimbulkan masalah baru.. jadi jika memang nasionalisme tidak ingin mengalami degradasi, peran kitalah yang sangat penting,entah mengingatkan, memberi saran, atau peran kontrol dari pihak lain, sehingga orang bisa membaur tanpa harus melebur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

X