Guru Menyambut Era Disrupsi


Guru Menyambut Era Disrupsi

Teori disruption pertama kali dikenalkan oleh Christensen. Disruption menggantikan “pasar lama” industri dan teknologi untuk menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan creative.

Kalimat itu begitu terasa bagi saya. Mengapa? Saat ini sudah mengalami era itu. Jangan tangisi masa lalu. Dulu, banyak perusahaan (baca: inchamben) kuat sekali mempertahankan segala sesuatunya. Ia menguasai segalanya. Tetapi, sekarang sudah mulai “redup”.

Mau menolak? Sudah bukan zamannya lagi. Lalu, bagaimana? Ikuti yang saat ini ada. Berdasarkan referensi  yang saya baca, bahwa Indonesia sebenarnya ketinggalan jauh dibanding negara lain – dalam masalah ini. Khususnya, negara maju. Amerika dan Inggris sudah ada duluan terkait disruption. Meskipun, terlambat masalah disruption harus ditangani, apa pun bidang Anda.

Mari kita saksikan bersama. Ada, kasus taksi yang pernah ramai di Indonesia. Ada Gojek yang pernah mendapat pertentangan di daerah-daerah. Ada e-tol yang menggantikan tenaga manusia. Ada parkir online yang menggantikan petugas parkir. Berkurangnya kartu ucapan yang berwujud kertas, digantikan dengan HP/Android. Ada pendaftaran online yang menggantikan petugas administrasi. Dan, contoh-contoh yang lainnya.

Robot sudah bergerak. Manusia tergantikan olehnya. Kita  butuh inovasi. Perpustakaan harus menyediakan jurnal online (e-journal), pengembalian dan peminjaman secara otomatisasi (Ridwan Sanjaya, 2018:4).

Inovasi yang dibutuhkan dalam disruption. Kebaruan-kebaruan atas “produk lama”. Dalam pendidikan pun, disruption harus dihadapi. Guru harus melek dengan teknologi. Kelas akan menjadi rombongan belajar yang terhimpun dalam “grup-grup” Whatsapp. Guru dengan mudah menyampaikan materi melalui media tersebut. Bisa juga dengan kelas online melalui teleconference. Jarak bukan menjadi masalah. Materi dengan mudahnya disampaikan ke siswa.

Siswa (mahasiswa juga) dapat mencari melalui google. Di sana lengkap. Dapat dikatakan, tidak ada siswa yang tidak bawa HP dan cara mengoperasikannya. Mereka pasti bisa. Maknanya, ada “hujan” informasi  yang mereka dapatkan.

Dulu, untuk mencari sebuah artikel/jurnal harus pergi ke perpustakaan/toko buku. Kemudian, mencarinya sesuai tema-temanya. Sekarang, tidak! Disinilah, peran guru harus dioptimalkan. Jangan sampai, gurunya tidak melek teknologi.

Misal, membuat siswa diberi tugas makalah. Mereka mencarinya di google dan mencetaknya. Mereka hanya mengganti nama/identitasnya. Karena, gurunya kurang tahu teknologi. Ia percaya saja. Bahkan, kagum karena hasilnya bagus. Menurut saya itu kurang tepat. Ia bukan guru di era disruption.

Lalu, bagaimana? Guru tersebut juga harus pandai menjadi guru di era disruption? Dengan cara apa? Banyak membaca. Membaca buku, informasi, jurnal, dan karya tulis ilmiah. Jangan, sampai ia minim informasi. Pengembangan diri guru disruption harus selalu di-update, jangan sampai terhenti.

Menggunakan power poin, bingung dengan slide. Pakai excel, tidak bisa menggunakan rumus. Gunakan word, belum bisa menggunakan mouse. Jika keadaannya seperti itu, jelas bukan guru disruption.

Guru disruption, pasti bisa microsoftoffice. Ia tak sekadar berbicara di depan kelas. Ia mampu mengelola kelas secara manual atau online. Ia  mampu meng-upload materi/bahan ajar ke sistem. Tidak menyuruh siswanya yang meng-upload-kan. Ia juga aktif dalam pembelajaran secara online dengan membuat grup-grup diskusi. Ia aktif menjawab setiap pertanyaan oleh siswa di grupnya.

Setiap harinya ada sesuatu yang baru. Mengapa? Karena ia rajin membaca. Tak semata-mata mengajar bersumber dari LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dibeli dari penerbit. Ia justru, aktif menulis/membuat LKS/modul sendiri, karena sesuai dengan kebutuhan mengajarnya. Materi-materi yang ia sampaikan bisa diterima oleh siswa, karena ia sudah mengidentifikasi/menganalisis kebutuhan materi yang akan disajikan.

Ia tidak asal mengajar. Lalu, membacanya ke siswa. Ia membuat mindmapping-nya terlebih dahulu. Mencari atau menulis cerita motivasi ke siswa sebagai apersepsinya. Tidak hanya mengajar yang rutinitas. Setiap hari ia mengajar pasti ada perbedaaan. Itulah guru di era disruption.

Jika gurunya tidak siap di era disruption, pastinya akan terjadi petaka di dunia pendidikan. Pendidikan akan hanya menjadi copy paste saat membuat makalah. Buku hanya sekadar tumpukan koleksi, tanpa dibaca. Jurnal penelitian kependidikan dicari saat dibutuhkan. Workshop dilakukan saat mengumpulkan angka kredit saja.

Menurut saya, disruption bagi guru, solusinya, adalah pengembangan diri. Bagaimana pendidikan akan maju, jika masalah disruption saja, tidak  mampu menangani. Inovasi dan pembaruan itulah kuncinya. Mengajar dengan inovasi. Pembaruan-pembaruan dalam pembelajaran pasti dapat. Mengajar tidak hanya dengan ceramah, menggunakan LKS, dan penugasan. Lalu, selesai. Itu bukan guru disruption.

Agung Kuswantoro, dosen Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X