Digital Signature: Menuju UNNES Bereputasi Internasional


Digital Signature: Menuju UNNES Bereputasi Internasional

Digital Signature merupakan suatu untaian string yang diperoleh dengan cara memetakan suatu masukan string dengan suatu fungsi hash, kemudian nilai hash tersebut dienkripsi dengan menggunakan algoritma kriptografi kunci-asimetris.

Hasil enkripsi nilai hash tersebutlah yang menjadi digital signature masukan string awal. Dengan adanya digital signature, otentikasi dan identitas penulis pesan secara konseptual dapat terjamin yang bertujuan mencegah pemalsuan sebuah dokumen.

Dasar hukum Digital Signature yaitu Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik nomor 11 tahun 2008 atau UU ITE yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum. UU ini memiliki yurisdiksi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

Konsep dari Digital Signature adalah seorang penanda tangan/user harus memiliki sertifikat elektronik. Sertifikat elektronik ini memuat tanda tangan elektronik dan identitas yang menunjukkan status subjek hukum para pihak dalam transaksi elektronik yang dikeluarkan oleh Penyelenggara Sertifikasi Elektronik. Adapun bentuk sertifikat elektronik ini bukan seperti sertifikat manual pada umumnya yang banyak dijumpai dalam kehidupan nyata akan tetapi berbentuk digital.

Manfaat penerapan digital signature adalah sebagai berikut:

  • Aman, cepat, mudah dan efisien

Digital signature tidak akan pernah luntur atau hilang seperti halnya tanda tangan manual di atas kertas. Bisa dikirimkan dari jarak jauh tanpa harus menunggu atasan yang akan menandatangani sebuah dokumen. Bayangkan saja bila ada seorang pejabat yang sedang bertugas ke luar kota atau luar negeri dalam jangka waktu yang lama sedangkan ada dokumen yang harus segera diproses apakah sangat tidak mengganggu sekali terhadap penyelesaian sebuah pekerjaan. Apakah harus dikirim lewat pos? rasanya akan lama dan membutuhkan biaya juga. Coba hitung berapa lama waktu yang perlukan untuk itu? Bisa berhari-hari bahkan bisa berminggu – minggu belum lagi kalau hilang atau ketlisut. Dengan digital signature seorang staf cukup mengirim dokumen lewat aplikasi digital signature ke atasan ayang akan tanda tangan. Atasan yang telah memberikan digital signature ke dalam dokumen lalu kirim balik dokumen ke staf yang akan memproses dokumen tersebut. Sebuah proses yang hanya memerlukan waktu hanya beberapa menit atau detik. Jadi tidak ada alasan tidak bisa mendapatkan tanda tangan segera hanya karena atasan sedang ke luar kota luar negeri.

  • Fleksibel

Proses penandatanganan dokumen bisa dilakukan selama 24 jam dari berbagai tempat tanpa harus terus berada di kantor. Ini memberikan kemudahan kepada para atasan yang mempunyai rutinitas tinggi di luar kantor dalam memberikan tanda tangan. Jam berapapun pimpinan mau tanda tangan bisa dilakukan dan dimanapun beliau berada, misalnya sedang berada di luar kota atau luar negeri.

  • Praktis

Tidak memerlukan pulpen, tinta, kertas, dan alat print. Alat yang diperlukan pun hanya sangat sederhana yaitu ponsel yang terkoneksi dengan internet yang saya yakin semua orang pada era sekarang ini sudah pasti memilikinya. Tidak perlu ponsel yang mahal, ponsel android dengan harga 600 ratus ribuan saja sudah bisa menjalankan aplikasi ini.

  • Handal dan akurat

Jika menggunakan tanda tangan biasa maka kadang antara satu tanda tangan dengan tanda tangan lainnya sulit untuk sama persis. Selalu ada yang berbeda meskipun sangat kecil kelihatannya. Itu sudah sifat alami manusia yang akan selalu sulit untuk membuat dua benda atau karya yang benar-benar persis sama. Dengan aplikasi digital signature ini maka akan selalu dihasilkan tanda tangan yang identik. Identik di sini bukan berarti sama. Maksudnya angka yang dihasilkan sudah jelas berbeda tetapi jika dianalisis oleh algoritma dalam aplikasi akan didapatkan informasi bahwa kedua tanda tangan itu adalah sama dan sah.

  • Tidak bisa dipalsukan

Di era milenial sekarang ini banyak sekali pemalsuan dokumen. Terutama dalam hal tanda tangan. Terlihat sebuah kelemahan dasar dari tanda tangan manual. Dengan digital signature maka kemungkinan terjadinya pemalsuan dokumen akan sangat kecil karena menggunakan Quick Response Code (QR-Code). Penggunaan QR-Code ini akan mengidentifikasi dan mengetahui apakah tanda tangan tersebut asli atau palsu. Jika berasal dari foto kopian atau scan biasa ada tanda silang pada ujung kiri atas sebuah dokumen akan tetapi jika dokumen tersebut palsu maka ada tanda centang pada kiri atas sebuah dokumen. Selain itu kita pun dapat mengetahui, jam, tanggal, dan tempat sebuah dokumen kapan ditanda tangani.

  • Mencegah praktik korupsi

Korupsi sudah menjadi budaya di negeri kita. Ini adalah salah satu penyakit bangsa yang dapat merusak karakter bangsa. Banyak pejabat di negara kita yang tersandung masalah korupsi. Sudah banyak metode yang dilakukan oleh pemerintah dalam menekan tindak korupsi akan tetapi tampaknya korupsi ini tetap saja sulit untuk dibasmi. Masih hangat dipemberitaan kasus korupsi yang menjerat Ketua Umum PPP, Romahurmuiy beliau ditetapkan sebagai tersangka atas kasus suap seleksi jabatan di Kemenag Jatim. Ini mengindikasikan bahwa di negara kita masih banyak celah dalam sistem pemerintahan yang bisa diselewengkan oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab. Sehebat apapun para koruptor jika tidak ada celah untuk melakukannya maka mereka akan mengalami kesulitan dalam menjalankan prakteknya. Setiap transaksi dengan digital signature akan dengan mudah diawasi oleh siapa saja. Akan kelihatan siapa-siapa saja yang bertanggung jawab dan terlibat sehingga apabila dikemudian hari terjadi tindak pidana korupsi maka tinggal mencari file copy-nya di server pemerintah pusat.

  • Paperless

Tak bisa dipungkiri bahwa penggunaan kertas di kantor sangatlah banyak jumlahnya tapi terkadang kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Sering kali banyak kertas yang kita buang percuma ke tong sampah tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan dari sampah kertas itu sendiri. Apakah kita pernah berfikir sudah berapa ton sampah kertas yang telah kita hasilkan selama hidup kita. Selama ini tidak pernah terfikirkan kan? dengan adanya  digital signature diharapkan mampu menekan angka penggunaan kertas sehingga dapat meningkatkan produktivitas, hemat biaya, efisien tempat dan mengurangi dampak lingkungan. Sekarang sudah era milenial, era dimana semua hal itu menggunakan sistem digital jadi alangkah bijaknya jika pemanfaatan teknologi lebih ditingkatkan untuk kemajuan hidup.

Arah dan kebijakan umum pimpinan UNNES dalam mewujudkan tahun 2019 sebagai tahun kemandirian telah dirumuskan dalam Renstra Bisnis tahun 2015-2019 yang merupakan pembangunan kelanjutan tahun 2018 sebagai tahun Internasionalisasi. Kemandirian adalah kemampuan UNNES untuk meningkatkan derajat kewenangan penyelenggaraan dan pengeloaan tridharma perguruan tinggi sebagai pijakan akselerasi inovasi pada era disrupsi. Tahun kemandirian juga diartikan sebagai tahun dimana UNNES diharapkan mampu menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang masuk pada klaster I dan sekaligus mencatatkan diri menjadi world class university yang dikenal dunia Internasional. Untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan UNNES tersebut diperlukan sebuah inovasi administarif kelembagaan dengan digital signature untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.

Digital signature adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya segera diimplementasikan oleh UNNES untuk mensupport lembaga yang kita cintai ini menjadi world class university di masa depan dan masuk dalam jajaran perguruan tinggi negeri klaster satu yang berbadan hukum di Indonesia. Apalagi saat ini kita sudah memasuki era industri 4.0 dimana semua hal bersifat digital. Jika kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan itu maka akan tertinggal jauh dengan perguruan tinggi lain. Eko Yon Handri, S.St., M.M. pakar sertifikasi elektronik menyatakan bahwa di Indonesia belum ada perguruan tinggi yang menerapkan digital signature. Ini menjadi kesempatan untuk UNNES agar bisa menjadi pioner dalam pemanfaatan digital signature. Ini tidak mustahil jika kita mempunyai niat yang kuat untuk dapat menerapkan digital signature secara komprehensif dan berkomitmen tinggi.

Amud Sunarya, S.Pd. staf Sub Bagian Tata Usaha, Biro Umum, Hukum, dan Kepagawaian (BUHK) 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X