{"id":9717,"date":"2025-06-10T05:47:00","date_gmt":"2025-06-10T05:47:00","guid":{"rendered":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/?p=9717"},"modified":"2026-09-10T05:53:50","modified_gmt":"2026-09-10T05:53:50","slug":"ornamen-konservasi-di-fk-unnes-ketika-ruang-akademik-menjadi-media-edukasi-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/ornamen-konservasi-di-fk-unnes-ketika-ruang-akademik-menjadi-media-edukasi-lingkungan\/","title":{"rendered":"Ornamen Konservasi di FK UNNES, Ketika Ruang Akademik Menjadi Media Edukasi Lingkungan"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"wp-block-heading\">ik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Semarang\u2014<\/strong> Konservasi tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan besar atau program berskala luas. Di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES), nilai tersebut justru ditempatkan dekat dengan keseharian sivitas akademika\u2014di ruang kerja, lobby, koridor, hingga ruang perkuliahan. Ukiran, lukisan batik, ornamen tradisional, poster, hingga berbagai hiasan bercirikan konservasi menjadikan ruang akademik bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi juga medium untuk menyampaikan pesan tentang lingkungan, budaya, dan keberlanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tercatat <strong>43 ornamen seni bercirikan konservasi<\/strong> tersebar di tiga gedung Fakultas Kedokteran UNNES. Bentuknya beragam, mulai dari gebyok dan ukiran pada furnitur, lukisan batik, wayang, hiasan meja dan dinding, hingga poster dan stiker yang membawa pesan konservasi. Dengan demikian, rata-rata terdapat sekitar <strong>14,3 ornamen pada setiap gedung<\/strong>. Kehadiran ornamen tersebut mempertemukan unsur estetika, kearifan lokal, dan nilai lingkungan dalam satu ruang pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8f761849 wp-block-group-is-layout-flex\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih dari sekadar dekorasi, keberadaan ornamen konservasi menjadikan lingkungan kampus sebagai bagian dari proses pendidikan. Pesan yang hadir secara visual dan berulang dapat menumbuhkan kesadaran sivitas akademika bahwa konservasi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini sejalan dengan <strong>SDG 4: Pendidikan Berkualitas<\/strong>, khususnya dalam membangun lingkungan pendidikan yang mendukung kesadaran dan pembelajaran tentang keberlanjutan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/45877de2d2519f1c1d4705a87c75e34e70331c0fe733ca88cf20e2258aaa19a2?s=64&amp;d=mm&amp;r=g\" alt=\"\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">fkEdit Profile<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat yang sama, pemanfaatan ruang akademik sebagai media untuk menghadirkan nilai budaya dan konservasi turut memperkuat <strong>SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan<\/strong>, terutama melalui penciptaan ruang yang inklusif, berbudaya, dan berkelanjutan. Perspektif tersebut memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam <strong>THE Impact Rankings<\/strong> dan <strong>UI GreenMetric<\/strong>\u2014bahwa dampak universitas tidak berhenti pada lulusan dan publikasi, tetapi juga tercermin dari bagaimana kampus membentuk budaya keberlanjutan melalui ruang yang digunakan setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>#SDG4 #SDG11 #THEImpactRankings #UIGreenMetric #KampusKonservasi #KampusBerkelanjutan #UNNES #FakultasKedokteranUNNES #Sustainability<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ik Semarang\u2014 Konservasi tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan besar atau program berskala luas. Di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES), nilai tersebut justru ditempatkan dekat dengan keseharian sivitas akademika\u2014di ruang kerja, lobby, koridor, hingga ruang perkuliahan. Ukiran, lukisan batik, ornamen tradisional, poster, hingga berbagai hiasan bercirikan konservasi menjadikan ruang akademik bukan sekadar tempat beraktivitas, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":9718,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[32],"tags":[45,65],"class_list":["post-9717","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-id","tag-unnessdgs04","tag-unnessdgs11"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9717","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9717"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9717\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9720,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9717\/revisions\/9720"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9717"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9717"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fk\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9717"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}