{"id":20885,"date":"2025-09-30T01:19:00","date_gmt":"2025-09-29T18:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/?p=20885"},"modified":"2026-10-03T01:23:04","modified_gmt":"2026-10-02T18:23:04","slug":"fisip-unnes-petakan-risiko-kekeringan-grobogan-untuk-perkuat-adaptasi-perubahan-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/id\/2025\/09\/30\/fisip-unnes-petakan-risiko-kekeringan-grobogan-untuk-perkuat-adaptasi-perubahan-iklim\/","title":{"rendered":"FISIP UNNES Petakan Risiko Kekeringan Grobogan untuk Perkuat Adaptasi Perubahan Iklim"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) melalui bidang Ilmu Geografi melakukan penelitian kolaboratif untuk memetakan risiko kekeringan sekaligus mengembangkan model pengelolaan kekeringan yang lebih adaptif di Kabupaten Grobogan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian bertajuk \u201cAnalisis Spasial Risiko Kekeringan dan Pengelolaan Kekeringan di Kabupaten Grobogan (Indonesia) dan Malaysia\u201d dipimpin Prof. Dr. Heri Tjahjono, M.Si., bersama Fahrudin Hanafi, S.Si., M.Sc., dan Enda Kalyana Putri, S.T., M.T. Kolaborasi internasional melibatkan Prof. Madya Gs. Nasir Bin Nayan dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia. Tiga mahasiswa juga terlibat dalam pelaksanaan penelitian. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan penelitian memadukan survei lapangan, wawancara masyarakat, pengukuran kondisi sumber air, pemanfaatan citra satelit, dan analisis Sistem Informasi Geografis. Sebanyak 56 warga yang pernah terdampak kekeringan menjadi sampel untuk memperoleh data mengenai kapasitas masyarakat dan praktik pengelolaan kekeringan di tingkat lokal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Analisis spasial kemudian digunakan untuk membedakan tingkat risiko kekeringan. Pada lima kecamatan yang dianalisis secara rinci, luas wilayah kajian mencapai 65.746,13 hektare. Sebanyak 36.020,14 hektare atau 54,8 persen berada pada tingkat risiko rendah, 19.123,55 hektare atau 29,1 persen pada risiko sedang, dan 10.602,43 hektare atau 16,1 persen masuk kategori risiko tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar wilayah berada pada kondisi risiko rendah, lebih dari 29 ribu hektare masih berada pada kategori sedang hingga tinggi dan memerlukan perhatian dalam pengelolaan air serta mitigasi kekeringan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian juga menelaah bagaimana masyarakat dan pemerintah setempat menghadapi kekeringan sebelum, ketika, dan setelah bencana terjadi. Beberapa praktik yang ditemukan antara lain pemanfaatan embung skala kecil, sumur bor, distribusi air bersih, perubahan jenis tanaman, serta peran kelembagaan desa. Namun, tim juga menemukan keterbatasan pada sistem peringatan dini, pendidikan kebencanaan, mekanisme pembiayaan, dan integrasi data.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbandingan dengan praktik di Malaysia digunakan untuk memperkaya model pengelolaan kekeringan. Penelitian mencatat bahwa sistem seperti National Water Balance System (NAWABS) memberikan pembelajaran mengenai pentingnya integrasi data, prakiraan, dan koordinasi dalam pengelolaan sumber daya air. Sementara itu, praktik berbasis komunitas di Grobogan menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam strategi adaptasi lokal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari hasil penelitian tersebut, tim merekomendasikan penguatan sistem peringatan dini berbasis masyarakat, pengembangan infrastruktur penampungan air seperti embung dan sumur bor terkontrol, standardisasi distribusi air ketika terjadi krisis, serta integrasi peta risiko ke dalam perencanaan pembangunan. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap kekeringan sebagai salah satu dampak yang berkaitan dengan perubahan iklim.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) melalui bidang Ilmu Geografi melakukan penelitian kolaboratif untuk memetakan risiko kekeringan sekaligus mengembangkan model pengelolaan kekeringan yang lebih adaptif di Kabupaten Grobogan. Penelitian bertajuk \u201cAnalisis Spasial Risiko Kekeringan dan Pengelolaan Kekeringan di Kabupaten Grobogan (Indonesia) dan Malaysia\u201d dipimpin Prof. Dr. Heri Tjahjono, M.Si., bersama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":20886,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[282],"class_list":["post-20885","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-id","tag-unnessdgs13"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20885","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20885"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20885\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20889,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20885\/revisions\/20889"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20886"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}