{"id":20552,"date":"2026-05-10T10:35:00","date_gmt":"2026-05-10T03:35:00","guid":{"rendered":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/?p=20552"},"modified":"2026-09-14T10:39:00","modified_gmt":"2026-09-14T03:39:00","slug":"blue-economy-menawarkan-jalan-baru-bagi-pariwisata-berkelanjutan-di-karimunjawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/id\/2026\/05\/10\/blue-economy-menawarkan-jalan-baru-bagi-pariwisata-berkelanjutan-di-karimunjawa\/","title":{"rendered":"&#8220;Blue Economy&#8221; Menawarkan Jalan Baru bagi Pariwisata Berkelanjutan di Karimunjawa"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Karimunjawa, laut adalah sumber penghidupan sekaligus sumber perubahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama bertahun-tahun, masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada perikanan, budidaya rumput laut, dan sumber daya laut lainnya. Kini, ketika pariwisata berkembang, semakin banyak warga memperoleh penghasilan dari penginapan, transportasi, kuliner, dan berbagai usaha yang terkait dengan wisata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan itu membuka peluang ekonomi baru. Namun, pada saat yang sama, ia juga menambah tekanan terhadap lingkungan yang justru menjadi dasar utama berkembangnya pariwisata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketegangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan itulah yang menjadi perhatian tim peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian yang dilaksanakan pada 10 Mei 2026 tersebut dipimpin oleh&nbsp;Dr. Atika Wijaya, S.A.P., M.Si.&nbsp;untuk mengkaji bagaimana prinsip&nbsp;<em>blue economy<\/em>&nbsp;atau ekonomi biru dapat mendukung pariwisata yang lebih berkelanjutan di wilayah pulau kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKarimunjawa merupakan contoh penting bagaimana wilayah pesisir dan pulau kecil menghadapi dinamika pembangunan yang semakin kompleks,\u201d kata Atika.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPariwisata telah membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian tersebut melibatkan Pemerintah Desa Kemujan, kelompok masyarakat pesisir, pelaku usaha pariwisata, nelayan, petani rumput laut, dan warga setempat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan, tim peneliti menelusuri perubahan mata pencaharian masyarakat serta bagaimana perkembangan pariwisata memengaruhi pemanfaatan sumber daya pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di banyak kawasan pesisir, perubahan ekonomi seperti ini tidak berlangsung sederhana. Pariwisata dapat meningkatkan pendapatan, tetapi juga menciptakan ketergantungan baru pada sektor yang rentan terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan jumlah kunjungan wisatawan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Karimunjawa, persoalan itu menjadi semakin penting karena perekonomian masyarakat dan industri pariwisata sama-sama bergantung pada satu sumber daya utama: laut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMelalui penelitian ini, kami ingin memahami bagaimana prinsip&nbsp;<em>blue economy<\/em>&nbsp;dapat diterapkan secara nyata dalam tata kelola pariwisata sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi penopang kehidupan mereka,\u201d ujar Atika.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan ekonomi biru menempatkan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan laut dalam satu kerangka yang sama. Laut dapat menciptakan lapangan kerja dan pendapatan, tetapi pemanfaatannya tidak boleh mengurangi kemampuan ekosistem pesisir dan laut untuk bertahan dalam jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Kemujan, tantangan tersebut terlihat dari hubungan yang semakin erat antara nelayan, petani rumput laut, pelaku usaha pariwisata, pemerintah desa, dan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian warga masih menggantungkan hidup secara langsung pada laut. Sebagian lainnya mulai beralih ke sektor pariwisata. Banyak pula yang kini berada di antara keduanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan itu membuat pengelolaan kawasan pesisir tidak lagi dapat bergantung pada satu sektor atau satu lembaga saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah Desa Kemujan menilai perkembangan pariwisata telah membawa perubahan besar bagi masyarakat sekaligus lingkungan pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami menyambut baik pelaksanaan penelitian ini karena Karimunjawa saat ini menghadapi perubahan yang cukup besar akibat perkembangan sektor pariwisata,\u201d kata perwakilan pemerintah desa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah desa berharap hasil penelitian dapat menjadi masukan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi, kebutuhan sosial masyarakat, dan perlindungan lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian tersebut juga diarahkan untuk merumuskan model tata kelola kolaboratif bagi wilayah pulau kecil dengan melibatkan pemerintah lokal, masyarakat pesisir, nelayan, petani rumput laut, pelaku usaha pariwisata, dan perguruan tinggi dalam proses pengambilan keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi tim peneliti FISIP UNNES, Karimunjawa memperlihatkan dilema yang dihadapi banyak masyarakat pesisir: bagaimana memperoleh manfaat ekonomi dari laut tanpa menghabiskan sumber daya yang memungkinkan manfaat itu terus ada.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Karimunjawa, laut adalah sumber penghidupan sekaligus sumber perubahan. Selama bertahun-tahun, masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada perikanan, budidaya rumput laut, dan sumber daya laut lainnya. Kini, ketika pariwisata berkembang, semakin banyak warga memperoleh penghasilan dari penginapan, transportasi, kuliner, dan berbagai usaha yang terkait dengan wisata. Perubahan itu membuka peluang ekonomi baru. Namun, pada saat yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[271,316,274,244],"class_list":["post-20552","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-id","tag-unnessdgs08-id","tag-unnessdgs12","tag-unnessdgs14","tag-unnessdgs17"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20552","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20552"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20552\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20555,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20552\/revisions\/20555"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20552"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20552"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20552"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}