{"id":20201,"date":"2026-09-04T17:53:24","date_gmt":"2026-09-04T10:53:24","guid":{"rendered":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/?p=20201"},"modified":"2026-09-04T17:53:25","modified_gmt":"2026-09-04T10:53:25","slug":"belajar-dari-jepang-ketangguhan-bencana-dimulai-dari-komunitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/id\/2026\/09\/04\/belajar-dari-jepang-ketangguhan-bencana-dimulai-dari-komunitas\/","title":{"rendered":"Belajar dari Jepang, Ketangguhan Bencana Dimulai dari Komunitas"},"content":{"rendered":"\n<h1 class=\"wp-block-heading\"><\/h1>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketangguhan menghadapi bencana tidak cukup dibangun melalui teknologi, infrastruktur, maupun sistem peringatan dini. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk mengenali risiko, berkomunikasi, dan mengambil keputusan bersama ketika ancaman datang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesan itulah yang mengemuka dalam kuliah umum bertajuk <em>Building Disaster-Resilient Communities through Education: Lessons from Japan\u2019s BOSAI Practices<\/em> yang disampaikan Genta Nakano, dosen <em>Disaster Prevention Research Institute<\/em> Universitas Kyoto, kepada mahasiswa Geografi dan Pendidikan Geografi FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rabu (2\/9\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuliah umum yang berlangsung di Aula FISIP UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang, tersebut mengajak mahasiswa melihat penanggulangan bencana bukan semata-mata sebagai persoalan respons pemerintah ketika bencana terjadi. Menurut Genta, masyarakat harus menjadi bagian aktif dalam membangun kesiapsiagaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Genta merupakan peneliti yang menaruh perhatian pada komunikasi risiko, pendidikan pengurangan risiko bencana, risiko bencana majemuk, dan kerja sama internasional. Pengalaman penelitiannya mencakup sejumlah negara, antara lain Jepang, Meksiko, El Salvador, Nepal, dan India.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu pelajaran penting yang ia paparkan berasal dari Gempa Besar Hanshin-Awaji di Jepang pada 1995. Dalam bencana tersebut, sebagian besar korban meninggal terjadi pada waktu yang sangat singkat setelah gempa mengguncang. Namun, ketika banyak warga terjebak di bawah bangunan yang runtuh, sekitar 80 persen korban yang berhasil diselamatkan justru ditolong oleh warga sekitar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sekitar 35.000 orang yang berhasil diselamatkan, sekitar 27.000 orang ditolong oleh penduduk lokal. Sementara itu, sekitar 8.000 orang lainnya diselamatkan oleh polisi, petugas pemadam kebakaran, dan Pasukan Bela Diri Jepang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan tersebut, menurut Genta, menunjukkan keterbatasan kapasitas lembaga profesional dalam menghadapi bencana berskala besar. Ketika bencana terjadi secara luas, petugas penyelamat pun dapat terdampak sehingga kapasitas organisasi mereka tidak selalu mampu menjangkau seluruh wilayah secara cepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cWarga harus mampu melindungi kehidupan mereka sendiri,\u201d menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Genta dalam kuliah umum tersebut. Karena itu, pengurangan risiko bencana tidak dapat hanya diserahkan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan tindakan aktif dari masyarakat di tingkat komunitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Genta juga memaparkan hasil pembelajaran dari bencana aliran debris atau banjir bandang material di Kota Atami, Prefektur Shizuoka, pada 2021. Bencana tersebut merusak sekitar 130 bangunan dan menyebabkan 28 orang meninggal dunia setelah curah hujan kumulatif mencapai lebih dari 400 milimeter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum aliran debris terjadi, sejumlah warga sebenarnya telah merasakan adanya tanda-tanda yang tidak biasa. Mereka melihat air yang berubah menjadi keruh, potongan kayu yang hanyut, hingga mendengar suara batu yang bergulir dari arah hulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, kegelisahan yang dirasakan secara individual itu tidak berkembang menjadi komunikasi di tingkat komunitas. Akibatnya, kekhawatiran tersebut tidak berubah menjadi kesepakatan untuk melakukan evakuasi lebih awal.\u201cSetiap individu telah merasa cemas, tetapi kecemasan itu tidak dibagikan di dalam komunitas sehingga tidak menghasilkan evakuasi preventif,\u201d demikian salah satu temuan penting yang dipaparkan Genta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan setelah bencana terjadi, kesempatan untuk melakukan evakuasi masih tersedia. Akan tetapi, sebagian masyarakat memandang peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelajaran dari Atami, menurut Genta, memperlihatkan bahwa informasi dan peringatan saja tidak selalu cukup. Ketangguhan masyarakat juga bergantung pada kemampuan warga untuk memahami risiko sebagai persoalan bersama dan mengambil keputusan secara kolektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, Genta menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kesepakatan di tingkat komunitas mengenai kapan warga harus melakukan evakuasi. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu membangun sistem kesiapsiagaan yang saling melengkapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika keputusan pemerintah terlambat, komunitas diharapkan mampu mengambil langkah. Sebaliknya, ketika kemampuan komunitas terbatas, pemerintah harus tetap dapat memberikan dukungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu contoh praktik yang disampaikan Genta berasal dari komunitas Okitsu di Kota Shimanto, Prefektur Kochi. Di wilayah yang menghadapi risiko gempa dan tsunami tersebut, pendidikan kebencanaan dikembangkan melalui kerja sama antara sekolah, masyarakat, pemerintah daerah, dan Universitas Kyoto.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak-anak sekolah dasar terlibat dalam penyusunan dan pengembangan peta BOSAI secara berkelanjutan. Selama sekitar dua dekade, siswa kelas lima dan enam mengembangkan peta tersebut dengan melihat kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok lanjut usia dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil kerja siswa kemudian dibagikan kepada masyarakat dan pemerintah daerah melalui kegiatan presentasi. Peta tersebut terus berkembang dari tahun ke tahun. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya mengidentifikasi lokasi evakuasi, tetapi juga memetakan tinggi tsunami, risiko longsor, waktu yang diperlukan untuk evakuasi, hingga bahaya pada jalur evakuasi pada siang dan malam hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan pendidikan tersebut menghasilkan perubahan nyata di masyarakat. Di antaranya adalah pemindahan fasilitas penitipan anak ke tempat yang lebih tinggi, pemasangan penanda jalur evakuasi yang dapat menyala pada malam hari, perbaikan jembatan pada jalur evakuasi, peningkatan keterlibatan orangtua dalam simulasi, hingga perbaikan penanda evakuasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Genta, sekolah dapat menjadi pusat penghubung antara pengetahuan ilmiah dan kehidupan masyarakat. Melalui pendidikan pengurangan risiko bencana, siswa tidak hanya belajar menyelamatkan diri, tetapi juga berinteraksi dengan komunitas dan menyebarkan pengetahuan yang mereka peroleh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model tersebut mempertemukan sekolah, pemerintah daerah, masyarakat, dan para ahli dalam kegiatan pengurangan risiko bencana secara kolaboratif.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mahasiswa Geografi FISIP UNNES, Ghina Aliya, menilai materi yang disampaikan Genta memberikan perspektif baru tentang pentingnya pendidikan kebencanaan. \u201cPembelajaran yang dibagikan kepada kami sangat <em>insightful<\/em> dan menginspirasi, terutama mengenai bagaimana penanganan bencana dilakukan di Jepang,\u201d ujar Ghina.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut dia, kuliah umum tersebut menekankan bahwa edukasi kebencanaan di tengah masyarakat merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian lebih besar, terutama bagi negara yang memiliki beragam ancaman bencana alam.\u201cEdukasi ini perlu ditanamkan dari komunitas paling bawah dalam masyarakat untuk membuat perubahan yang besar,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi mahasiswa, pengalaman Jepang yang dipaparkan dalam kuliah umum itu menjadi pengingat bahwa ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya dibangun ketika bencana datang. Ketangguhan justru dimulai jauh sebelumnya, melalui proses belajar, komunikasi, dan keterlibatan masyarakat dalam mengenali risiko yang ada di sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui pendidikan kebencanaan, pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan dapat bergerak ke lingkungan masyarakat dan berkembang menjadi tindakan bersama untuk melindungi kehidupan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketangguhan menghadapi bencana tidak cukup dibangun melalui teknologi, infrastruktur, maupun sistem peringatan dini. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk mengenali risiko, berkomunikasi, dan mengambil keputusan bersama ketika ancaman datang. Pesan itulah yang mengemuka dalam kuliah umum bertajuk Building Disaster-Resilient Communities through Education: Lessons from Japan\u2019s BOSAI Practices yang disampaikan Genta Nakano, dosen Disaster Prevention Research [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":20202,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[242,280],"class_list":["post-20201","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-id","tag-unnessdgs04","tag-unnessdgs11"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20201"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20201\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20206,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20201\/revisions\/20206"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}