{"id":20066,"date":"2026-08-27T14:12:06","date_gmt":"2026-08-27T07:12:06","guid":{"rendered":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/?p=20066"},"modified":"2026-08-27T14:21:34","modified_gmt":"2026-08-27T07:21:34","slug":"belajar-dari-luka-sejarah-siswa-sma-di-semarang-kembali-menengok-jejak-jugun-ianfu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/id\/2026\/08\/27\/belajar-dari-luka-sejarah-siswa-sma-di-semarang-kembali-menengok-jejak-jugun-ianfu\/","title":{"rendered":"Belajar dari Luka Sejarah, Siswa SMA di Semarang Kembali Menengok Jejak Jugun Ianfu"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejarah&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;atau perempuan yang menjadi korban perbudakan seksual pada masa pendudukan Jepang menjadi materi penting dalam pembelajaran sejarah. Persoalan tersebut menarik perhatian Dimas Anggoro, S.Pd., M.Pd., yang melakukan penelitian di sejumlah SMA di Kota Semarang pada bulan Agustus 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian dilakukan di SMAN 1, SMAN 6, SMAN 11, SMAN 12, dan SMAN 13 Semarang. Kajian tersebut melihat bagaimana siswa mengenal sejarah&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;serta bagaimana mereka memandang Jepang pada masa pendudukan dan Jepang masa kini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para siswa telah mengenal materi pendudukan Jepang dalam pembelajaran sejarah. Namun, pembahasan mengenai&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;belum menjadi bagian yang mereka pahami secara mendalam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam wawancara, sejumlah siswa menyebut materi pendudukan Jepang dipelajari ketika duduk di kelas XI. Pengetahuan tentang&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;kemudian muncul ketika mereka membahas berbagai kebijakan dan kekerasan pada masa pendudukan Jepang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persoalan&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;sendiri tidak hanya berkaitan dengan sejarah pendudukan. Di dalamnya terdapat pengalaman perempuan, kekerasan seksual, relasi kuasa, serta persoalan hak asasi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, pembelajaran mengenai&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;dapat menjadi ruang bagi siswa untuk melihat sejarah secara lebih manusiawi. Mereka tidak hanya mengingat peristiwa, tetapi juga memahami dampak perang terhadap masyarakat sipil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembahasan mengenai tanggung jawab Jepang terhadap para korban juga menjadi sorotan. Sejarah tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami dan mengingatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Semarang Punya Jejak Sejarah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemilihan Semarang sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. Kota ini memiliki jejak sejarah pendudukan Jepang yang berkaitan dengan persoalan&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejumlah penelitian sejarah mencatat keberadaan&nbsp;<em>ianjo<\/em>&nbsp;atau tempat yang digunakan dalam sistem perbudakan seksual militer Jepang di Semarang. Kajian dalam jurnal Kiryoku Universitas Diponegoro menyebut beberapa lokasi, antara lain Shoko Club, Futabaso, dan Hinomaru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejumlah kajian mengenai&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;di Jawa juga mencatat proses perekrutan perempuan di wilayah Jawa Tengah, termasuk Semarang dan kawasan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jejak tersebut menunjukkan bahwa sejarah&nbsp;<em>jugun ianfu<\/em>&nbsp;bukan cerita yang jauh dari kehidupan masyarakat Semarang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejumlah penelusuran sejarah lokal juga mengaitkan Hotel Oewa Asia di Jalan Kolonel Sugiyono, Semarang, dengan kisah perempuan yang dipaksa melayani tentara Jepang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tidak Berarti Harus Membenci Jepang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu bagian penting penelitian adalah melihat bagaimana pengetahuan mengenai kekejaman Jepang pada masa lalu berhubungan dengan pandangan siswa terhadap Jepang masa kini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data penelitian menunjukkan adanya kecenderungan bahwa siswa dapat membedakan antara Jepang pada masa Perang Dunia II dengan masyarakat Jepang saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembelajaran sejarah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis: mengutuk perbudakan seksual dan kekerasan terhadap perempuan pada masa perang, tetapi pada saat yang sama mampu melihat masyarakat Jepang masa kini secara lebih objektif.<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kata lain, mengetahui kekejaman\u00a0<em>jugun ianfu<\/em>\u00a0tidak otomatis berarti harus membenci masyarakat Jepang saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah penelitian tersebut menemukan relevansinya dengan pendidikan sejarah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah&nbsp;jugun ianfu&nbsp;atau perempuan yang menjadi korban perbudakan seksual pada masa pendudukan Jepang menjadi materi penting dalam pembelajaran sejarah. Persoalan tersebut menarik perhatian Dimas Anggoro, S.Pd., M.Pd., yang melakukan penelitian di sejumlah SMA di Kota Semarang pada bulan Agustus 2026. Penelitian dilakukan di SMAN 1, SMAN 6, SMAN 11, SMAN 12, dan SMAN 13 Semarang. Kajian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":20069,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[242,302],"class_list":["post-20066","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-id","tag-unnessdgs04","tag-unnessdgs05"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20066"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20066\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20079,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20066\/revisions\/20079"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20069"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/fisip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}