{"id":7981,"date":"2022-11-11T04:00:26","date_gmt":"2022-11-11T04:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/fe.unnes.ac.id\/19\/?p=7981"},"modified":"2022-11-11T04:00:26","modified_gmt":"2022-11-11T04:00:26","slug":"mewujudukan-benteng-kebudayaan-dari-unnes-untuk-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/mewujudukan-benteng-kebudayaan-dari-unnes-untuk-indonesia\/","title":{"rendered":"MEWUJUDUKAN BENTENG KEBUDAYAAN DARI UNNES UNTUK INDONESIA"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left\">Sungguh bangga bagi penulis bisa berada dalam iklim kemajemukan UNNES.<br \/>\nDengan mahasiswa yang berasal dari penjuru tanah air, ada proses saling belajar antar<br \/>\nmahasiswa dalam memahami kekayaan bangsa Indonesia di bidang kebudayaan. Ini<br \/>\nkeunikan yang UNNES miliki. Bagi penullis, sebetulnya tidak perlu dibangun patung<br \/>\nGaruda Pancasila di depan gerbang utama, karena iklim kemajukan mahasiswa UNNES<br \/>\nsudah tertanam secara organik. Anggaran untuk proyek simbolik semacam itu etisnya<br \/>\ndialokasikan untuk penyelesaian pembangunan ruang doa bagi mahasiswa non muslim.<br \/>\nTerhitung pada tahun 2022 jumlah mahasiswa UNNES sebanyak 49.764 orang.<br \/>\nDengan jumlah mahasiswa sebesar itu, ada potensi untuk penggalangan massa dalam<br \/>\nbidang pengembangan kebudayaan. Ditambah lagi dengan keberadaan Fakultas Bahasa<br \/>\ndan Seni yang dapat menjadi ujung tombak dalam penatarannya. Bahkan, jiwa seni<br \/>\nmahasiswa UNNES sudah teruji oleh khalayak umum dengan berbagai prestasi dan aksi<br \/>\ndilapangan.<br \/>\nBila merujuk pada laporan kinerja UNNES 2021, tercantum target UNNES dari<br \/>\n2021-2026 tentang indikator wawasan konservasi pada bagian Kampus Berbudaya Luhur<br \/>\nyang menegaskan aspek pelestarian, pengkajian dan implementasi karya seni budaya<br \/>\ndan olahraga nasional. Hingga pada puncaknya kita mencita-citakan UNNES mampu<br \/>\nmenjadi eduwisata nasional bahkan internasional.<br \/>\nAda keunikan lain yang penulis lihat sebagai peluang yang kita miliki, yakni<br \/>\ntersebarnya civitas UNNES kedalam organ-organ di tingkat regional dan nasional.<br \/>\nJejaring ini dapat membantu kita untuk publikasi karya, penyusunan wacana hingga<br \/>\npengawalan realisasi tindak lanjut. Sebagai contoh yaitu keberadaan civitas UNNES yang<br \/>\naktif di Dewan Kesenian Semarang, namun cenderung tidak mendapatkan tempat<br \/>\nberekspresi di internal kampus itu sendiri. Bahaya latennya adalah bila aspek kebudayaan<br \/>\nhanya berpusat di segi simbolis-seremonial, maka substansi untuk membumikan<br \/>\nsemangat benteng kebudayaan terhenti pada sesi sambutan birokrasi. Kata kunci<br \/>\npertama yang bisa kita garis bawahi yaitu ruang berekspresi yang harus terjamin.<br \/>\nTantangan besar lain menurut penulis yaitu sikap keambisiusan UNNES terhadap<br \/>\nlabel World Class University (WCU) sehingga mengesampingkan pengembangan<br \/>\nkebudayaan secara terukur dan tersrtuktur. Secara implisit UNNES cenderung dipandang<br \/>\nsebagai \u201ckampus rakyat\u201d yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai daerah. Upaya<br \/>\nmodernitas melalui bangunan fisik rasanya sudah banyak dilakukan oleh kampus lain.<br \/>\nDengan kekayaan keragaman budaya yang UNNES miliki, seharusnya kita mampu<br \/>\nmengedepankan aspek keragaman budaya sebagai penopang utama untuk menuju<br \/>\nWCU. Kata kunci kedua yang bisa kita garis bawahi yaitu komitmen yang tertuang dalam<br \/>\nrancangan upaya tindak lanjut terhadap aspek keragaman budaya sebagai ujung tombak<br \/>\npengembangan reputasi UNNES.<br \/>\nBerwawasan konservasi mengandung makna sebagai cara pandang dan sikap<br \/>\nperilaku yang berorientasi pada prinsip pengawetan, pemeliharaan, penjagaan,<br \/>\npelestarian dan pengembangan sumber daya alam, lingkungan dan nilai-nilai sosial<br \/>\nbudaya. Sebagai universitas yang berwawasan konservasi, tanggung jawab UNNES<br \/>\nbukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, namun juga lulusan dan civitas<br \/>\nakademika yang unggul dan berkarakter serta merumuskan dan mengimplementasikan<br \/>\nsolusi untuk menyelesaikan permasalahan akibat perkembangan zaman.<br \/>\nKetika perhelatan wisuda dilaksanakan, kita masih mendengar suara gamelan<br \/>\nyang menemani prosesi sakral tersebut. Suasana tersebut menambah kehangatan untuk<br \/>\nmelepas para mahasiswa menjadi masyarakat sepenuhnya. Memang tidak semua proses<br \/>\nwisuda di universitas ada yang ditemani dengan alunan gamelan. Tetapi UNNES memiliki<br \/>\ntradisi \u2018gamelanan\u2019 entah sejak tahun berapa, dan menurut penulis hal tersebut harus<br \/>\nterus dilestarikan. Sekarang kita berekspektasi bila alunan gamelan tersebut dapat<br \/>\ndisaksikan oleh khalayak umum. Penulis yakin, kegiatan tersebut pasti akan mengundang<br \/>\nbanyak pihak dan memberikan kesan bahwa UNNES benar-benar konsisten dalam<br \/>\nmenampilkan kekayaan budaya yang kita miliki.<br \/>\nNamun, persoalan yang kita hadapi yaitu apakah ada kegiatan Organisasi<br \/>\nMahasiswa (Ormawa) yang khusus untuk memberikan ruang kepada kekayaan budaya,<br \/>\nbaik itu alat musik ataupun seni tari ? Anggap saja kegiatan ini diluar teman-teman<br \/>\nFakultas Bahasa dan Seni (FBS). Bila hanya mengandalkan Ormawa FBS untuk<br \/>\nmelaksanakan kegiatan kebudayaan, penulis nilai hal tersebut akan kurang maksimal dan<br \/>\nmenimbulkan kertegantungan eksistensi. Bukankah menjaga dan melestarikan<br \/>\nkebudayan adalah tanggung jawab dan tugas kita bersama?. Kata kunci ketiga yang bisa<br \/>\nkita garis bawahi adalah peran Ormawa dalam menciptakan kegiatan yang<br \/>\nbersinggungan dengan upaya pelestarian budaya.<br \/>\nReformasi Kelembagaan dan Iklim Akademik<br \/>\nPenulis menggunakan dua pendekatan untuk mengupas pembahasan poin ini,<br \/>\nyakni pendekatan struktural dan kultural. Dua pendekatan tersebut penulis nilai sebagai<br \/>\nsuatu yang komplementer. Dalam tatanan lingkungan UNNES, kelembagaan yang kita<br \/>\nmiliki cenderung terjebak dalam rutinitas yang hanya menggugurkan kewajiban. Padahal<br \/>\nkeberadaan kelembagaan memiliki daya pukul lebih kuat karena sudah disahkan oleh<br \/>\nuniversitas dan sumber pendanaan yang jelas.<br \/>\nKelembagaan mahasiswa yang ingin penulis tawarkan konsepnya yaitu mereka<br \/>\nyang diberikan keleluasaan dalam mengeskpresikan kegiatannya namun dengan<br \/>\nreferensi yang sudah disepakati bersama. Dalam hal pelestarian keragaman budaya, hal<br \/>\nterkecil yang bisa diaplikasikan yaitu penggunaan lagu-lagu daerah disaat sebelum dan<br \/>\nsesudah acara. Selama ini ada kecenderungan penggunaan lagu-lagu barat untuk<br \/>\nselingan kegiatan kampus. selain itu, mimbar kreasi yang berisikan penampilan puisi dan<br \/>\nseni tari cenderung hanya dilakukan oleh mahasiswa FBS. Itu pun yang menyaksikan<br \/>\nmayoritas mahasiswa FBS. Penulis melihat masih sedikit Ormawa yang memiliki fokus<br \/>\nlebih terhadap pelestarian kebudayaan.<br \/>\nHingga pada akhirnya reformasi kelembagaan dapat diartikan sebagai pemberian<br \/>\nfokus pada aspek kebudayaan secara terarah, terukur dan terstruktur. Terarah yang<br \/>\nberarti fokus pengembangan kebudayaan bisa tertuang dalam rapat kerja setiap lembaga.<br \/>\nTerukur yang berarti cara untuk mewujudkan dan melestarikan pengembangan<br \/>\nkebudayaan bisa dinilai melalui indikator yang telah ditetapkan. Terstruktur yang berarti<br \/>\nsetiap lembaga diharapkan untuk mengaplikasikan perencanaan pengembangan<br \/>\nkebudayaan dalam realisasi program kerjanya.<br \/>\nTantangan Pascapandemi<br \/>\nPara ahli menyebutkan pola kehidupan pascapandemi sebagai adaptasi<br \/>\nkebiasaan baru. Beberapa aspek dalam kehidupan sehari-hari mengalami perubahan.<br \/>\nContohnya yaitu bentuk perkuliahan yang terkadang dilaksanakan secara hybrid. ternyata<br \/>\ndampak dua tahun kuliah daring banyak mempengaruhi iklim akademik yang mulai<br \/>\nsemester ini dilaksanakan secara luring.<br \/>\nPenulis melakukan diskusi dengan mahasiswa FBS untuk melihat langsung<br \/>\nfenomena yang terjadi di fakultas tersebut. Iklim akademik di FBS mengajarkan budaya<br \/>\nsenyum, sapa, salam dan srawung (4S). Sehingga kita sering menemukan keakraban<br \/>\nmahasiswa FBS disegala tempat, entah itu di kantin, kelas bahkan di jalan sekalipun. Para<br \/>\nkakak tingkat mengajarkan budaya 4S untuk menanamkan jiwa keramahan dan<br \/>\nkepedulian terhadap sesama. Keberlangsungan budaya 4S dapat menjadi daya tawar<br \/>\npembeda antara mahasiswa FBS dengan fakultas lainnya.<br \/>\nSelain itu, ketika masa pengenalan kehidupan kampus, setiap mahasiswa pada<br \/>\nProdi Sendratasik diajarkan paradigma harus dekat dengan dosen, akrab dengan kaka<br \/>\ntingkat, guyub dengan teman satu angkatan dan menjalin silaturahmi dengan alumni.<br \/>\nAkibat terbangunnya paradigma ini, Prodi Sendratasik terstigmakan menjadi prodi yang<br \/>\npaling akrab dan kompak.<br \/>\nPandemi covid-19 ternyata merubah berbagai aspek. Salah satunya yaitu<br \/>\neksistensi iklim kebudayaan di FBS. Mahasiswa FBS, khususnya Angkatan 2019, menilai<br \/>\nada perubahan perilaku dari mahasiswa angkatan 2020 sampai 2022. Fenomena ini<br \/>\nmenjadi kegelisahan bersama. Lantas, bagaimana kita memulihkan hal tersebut?<br \/>\nPerlu rasanya ada kebijakan yang dapat mengikat namun dengan implementasi<br \/>\ncara kerja yang friendly. Bagaimana caranya? Penulis rasa ini lah saatnya setiap jurusan<br \/>\nuntuk berpartisipasi lebih dalam mempertajam kurikulumnya, khususnya di bidang<br \/>\nkebudayaan. Selain itu, peran Ormawa di tingkat jurusan, fakultas dan universitas harus<br \/>\nberkomitmen untuk memperkenalkan, merawat dan melestarikan kebudayaan yang ada.<br \/>\nTantangan yang terjadi saat ini adalah adaptasi kebiasaan baru pascapandemi jangan<br \/>\nmerubah substansi kebudayaan terkait iklim akademik yang sudah terbangun selama ini.<br \/>\nTerjebak dalam Modernitas yang Keliru<br \/>\nPenulis dapat merasakan transformasi kebiasaan mahasiswa UNNES. Memang<br \/>\nupaya modernitas tidak bisa dihalang-halangi. Namun, setidaknya ada benteng atau<br \/>\npondasi yang perlu diajarkan kepada mahasiswa agar tidak mudah terombang-ambing<br \/>\noleh perubahan zaman. Mulai dari cara berpakaian, bicara hingga perilaku mahasiswa<br \/>\nUNNES cukup berubah dibanding sebelum tahun 2019. Mempertahankan sikap \u201dndeso\u201d<br \/>\ntidak selalu terstigmakan negatif. Justru dari sikap \u201dndeso\u201d ini ada kekayaan kebudayaan<br \/>\nyang patut kita gali, modifikasi, dan lestarikan. Pada titik ini lah kita dihadapkan pada<br \/>\nsebuah pilihan, akankah kita meninggalkan aset kebudayaan yang telah tertanam atau<br \/>\nmemilih untuk menyesuaikan modernitas yang disisipkan pada kebudayaan yang ada?<br \/>\nMenjadi beda adalah pilihan. Dengan memperkenalkan kekayaan budaya yang<br \/>\nada, UNNES akan menjadi patron di panggung nasional. Seperti yang telah penulis<br \/>\nsinggung dimuka, sebagian umum universitas akan berambisi untuk mewujudkan kampus<br \/>\nkelas dunia\/WCU. Tidak terkecuali dengan UNNES. Namun, kita punya kekayaan lebih<br \/>\nyang semestinya harus digali dan diperkenalkan kepada pihak luar, yakni aspek<br \/>\nkebudayaan. Penulis mengharapkan UNNES mampu menjadi universitas panutan dalam<br \/>\npengembangan kebudayaan sehingga kemodernitasan UNNES bersumber dari<br \/>\nmodifikasi kebudayaan itu sendiri.<br \/>\nKegiatan berupa festival kebudayaan harus menjadi prioritas utama di UNNES.<br \/>\nKurikulum yang mengedapankan nilai budaya harus dibumikan kepada seluruh entitas<br \/>\nUNNES, khususnya Ormawa. Sebab, Ormawa inilah yang bersentuhan langsung dengan<br \/>\nmahasiswa di lapangan. Ini bukan pekerjaan mudah. Namun, bila tidak kita evaluasi<br \/>\nsekarang maka penyesalan akan datang dikemudian hari.<br \/>\nUNNES cerdas untuk Indonesia emas semoga tidak berhenti pada sorak-sorai<br \/>\nslogan saja.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis: FAJAR RAHMAT SIDIK<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sungguh bangga bagi penulis bisa berada dalam iklim kemajemukan UNNES. Dengan mahasiswa yang berasal dari penjuru tanah air, ada proses saling belajar antar mahasiswa dalam memahami kekayaan bangsa Indonesia di bidang kebudayaan. Ini keunikan yang UNNES miliki. Bagi penullis, sebetulnya tidak perlu dibangun patung Garuda Pancasila di depan gerbang utama, karena iklim kemajukan mahasiswa UNNES [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":33,"featured_media":7317,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-7981","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7981","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/users\/33"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7981"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7981\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}