{"id":1630,"date":"2018-02-28T03:42:49","date_gmt":"2018-02-28T03:42:49","guid":{"rendered":"http:\/\/fe.unnes.ac.id\/19\/?p=1630"},"modified":"2018-02-28T03:42:49","modified_gmt":"2018-02-28T03:42:49","slug":"sekelumit-cerita-tentang-korea","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/sekelumit-cerita-tentang-korea\/","title":{"rendered":"Sekelumit Cerita Tentang Korea"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/fe.unnes.ac.id\/19\/?attachment_id=1631\" rel=\"attachment wp-att-1631\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1631\" src=\"http:\/\/fe.unnes.ac.id\/19\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/IMG-20180228-WA0015.jpg\" alt=\"\" width=\"1258\" height=\"860\" \/><\/a><\/p>\n<p>Untuk mendapatan sesuatu yang berharga selalu membutuhkan waktu yang lebih lama. Demikian juga rakyat Korea untuk mendapatkan kemerdekaan dan kesuksesan juga membutuhkan waktu yang lebih lama. Negara dengan jumlah penduduk sektar 50 juta yang laki \u2013laki 40% nya sedangkan wanita 60%, dengan luas negara antar timur sampai ke barat sepanjang kurang lebih 100 km dari utara ke selatan 58 km dengan <em>income<\/em> perkapita penduduk rata- rata 2000 U$. Dengan bendera dengan gambar lingkaran bernomor merah (<em>yin<\/em>) dan separo dibawah berwarna biru (<em>yan<\/em>) dengan pintari 4 persegi yang bertuliskan langit dan tanah serta api dan air yang artinya kehidupan yang harmoni selaras, seimbang, disiplin, tertib, bersih, disana tidak ada pencuri kalau ada pasti orang asing, tidak ada pak ogah dan semua toilet di korea gratis nggak bayar, hebat kan!<\/p>\n<p>Penderitaan orang Korea, saat dijajah Jepang selama 35 tahun dirusak mentalnya, dibunuh para pemimpin dan raja \u2013 rajanya. Raja atau kaisar yang terakhir memilih ke turunan terakhir ditangkap dan dipaksa menikah dengan gadis Jepang, karena tidak mencintainya dan tidak punya anak dan akhirnya di bunuh jadi Korea bersih dari para pemimpin dan rakyatnya disiksa. Terlepas dari penjajahan Jepang, memasuki babak perang Saudara antara utara dengan selatan, jadi\u00a0 yanng di utara masuk komunis Rusia sedangkan yang selatan menjadi negara demokrat berkiblat dengan Amerika Serikat ( AS ) tetapi dua pihak rakyat utara dan selatan mempunyai kerinduan untuk menyatukan kembali menjadi satu negara, satu bangsa,namun ambisi para pemimpinnya yang menjadikan mereka terpisah.<\/p>\n<p>Hari pertama saya mendarat di Bandara Incheon, Seoul, Korea, bandara yang cukup besar dan bersih, namun\u00a0 kacau imigrasi yang selalu membuat ribet untuk melepas jam tangan , sabuk, dompet, jaket, pasport, dan beda- benda lain seperti sisir disaku celana. Legalah lewat pemeriksaan imigrasi, sehingga\u00a0 rasa haus muncul lalu minum air dengan air kran di bandara, karena semua air minum harus dibuang dalam pemeriksaan. Perjalanan di lanjutkan ke Pulau Jeju merupakan rumah \u2013 rumah tradisional Korea yang terbuat dari kayu \u2013kayu pinus dan atapnya batang padi yang diikat satu sama lain. Disinilah terdapat tempat tinggal \u201cDae Jang Gem \u201c sinetron serial. Rumah\u00a0 &#8211; rumah sederhana dengan penduduk wanita lebih banyak daripada laki \u2013laki dan wanita Korea ini agak sombong tidak tertarik untuk menikah lebih suka memelihara anjing di bawa kemana-mana sebagai teman baiknya. Akhirnya pria \u2013 pria kampung tidak menikah dengan gadis- gadis Korea tetapi menikah dengan orang dari Malaysia, Vietnam dan mungkin dari Indonesia. Perjalanan di Jeju di lanjutkan dengan mengunjungi pelabuhan kecil dengan batu karang diair berbentuk kepala naga, sebagai tanda keberkahan di jalan misteri ini. Kemudian terbang ke Seoul melalui bandara Dempo menuju ke \u201cLotte Tower\u201d dengan ketinggian 500 m untuk melihat disekitar Seoul dari ketinggian gedung. Selanjutnya menuju dermaga di Pulau Nami terletak 63 km dari Seoul ditengah \u2013 tengah sungai Han, Pulau Nami kelihatan seperti Tasik dan anggur yang terapung pada bagian atas Tasik Cheongyeong, pulau ini lusnya sekitar 460.000 m2. Pulau ini di betuk dengan batu kecil dan pasir, tiada gunung di pulau ini\u00a0 tetapi terdapat pohon &#8211;\u00a0 pohon yangg cukup tinggi dapat menyentuh langit tinggi. Tempat ini adalah tempat dimana tupai, burung unta, akrab dan burung \u2013 burung lain yang tak terhitung jumlahnya dan hidup bersama secara aman dengan manusia.Pulau Nami\u00a0 dinamakan setelah Jendral Nami menjadi tokoh yang disegani dalam sejarah Korea, beliau adalah pejuang yang berani dalam pertempuran walaupun akhirnya wafat pada umur 26 tahun. Musim hujan mengubah dan membentuk pulau ini dalam binaan Cheongpyeong, kini ia adalah pulau yang cantik sepanjang tahun. Pada tahu 1965 beribu &#8211; ribu pohon telah di tanam oleh Bapak Byeong \u2013 Do\u00a0 Minor sekarang pulau Nami menjadi tempat untuk istirahat dan bersantai, diantara manusia, hewan dan pohon \u2013 pohon yang keamanannya dan harmoni bersama.<\/p>\n<p>Selanjutnya saya diajak nonton Jeju menyajikan sebuah atraksi yang unik dan interaktif dengan <em>cooking gives off good vibes<\/em> sejak tampil\u00a0 10 November 1997 memberikan gambaran tentang musical instrumental in the hands of the performances. Selanjutnya berkunjung ke <em>Everland<\/em> <em>Resort<\/em> yang menyuguhkan <em>Everland Hallowen Festival thatt everyone can enjoy to The Fullest<\/em>. Ada beberapa sajian mulai <em>carnaval fantasy parade, moonlight parade, parade musical,horor express, haunted house, crazy zombie hunt <\/em>dan <em>\u00a0horror maze<\/em>.<\/p>\n<p>Bangsa Korea berasal dari bangsa Mongolia hampir sama dengan bangsa Cina dan sekitarnya. Penduduk korea sebagian besar 51% tidak punya agama dan 49% beragama\u00a0 antara lain Budha 25 % , Kristen Protestan 15 % , Katolik 8% dan Muslim1 %\u00a0 . Sedang di kampung Jeju agamanya, agama tradisional laki \u2013 laki di Jeju tinggal di rumah yang berkerja adalah para wanitanya dengan pekerjaan di sawah dan dihutan mencari madu dan buah nano \u2013nano\u00a0 untuk membuat teh, jadi teh jeju juga rasanya nano \u2013 nano. Orang\u00a0 -orang Korea mulai kembali ke alam makan sayuran tanpa vitsin atau bumbu dan tanpa minum gula. Hampir semua hotel sebanyak 3 sampai dengan 4 hotel tempat kami menginap menyediakan teh hijau tanpa ada gula begitu juga di restoran\u00a0 tidak menyediakan gula, makanan \u2013makanan di KFC \/MC Donald serta makanan daging jarang, di Jeju\u00a0 kami menginap di Jeju\u00a0 Aerospace Hotel, cukup dingin dengan perbedaan waktu 2 jam jadi di Indonesia jam 5. 00 di Korea jam 7.00, melihat selalu berhitung menambah 2 jam . Satu tempat lagi yang aku kunjungi adalah gunung Seurak, sangat tinggi dan sangat dingin\u00a0 naik kereta\u00a0 gantung kurang lebih 15 menit sampai puncak, pemandangannya bagus sekali, kemudian turun menuju patung Budha yang tertinggi di Asia Tenggara , di daerah ini mendekati perbatasan atara Korea Selatan dengan Korea Utara, ada patung beruang yang menarik karena lehernya putih namun orang Korea lebih suka anjing daripada kucing, beruang berby ikut makan sayuran selama 100 hari, agar berubah menjadi manusia namun tidak berhasil.<\/p>\n<p>Demikian sekelumit cerita di Korea sejak tanggal 14 Oktober sampai 21 Oktober 2017, saya bersama istri saya belahan hati dan sebilah tulang rusukku yang diambil dari dadaku lalu diciptakan pasanganku, di bagian akhir aku sempat membeli cincin mata berkilau merah amarilis, kecil indah dan menusuk hati sebagai kenangan perjalanan dari Korea.<\/p>\n<p>Written by : Tarsis Tarmudji (Semarang, 21 Oktober 2017)<br \/>\nEdited by : Tusyanah (PE FE UNNES)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk mendapatan sesuatu yang berharga selalu membutuhkan waktu yang lebih lama. Demikian juga rakyat Korea untuk mendapatkan kemerdekaan dan kesuksesan juga membutuhkan waktu yang lebih lama. Negara dengan jumlah penduduk sektar 50 juta yang laki \u2013laki 40% nya sedangkan wanita 60%, dengan luas negara antar timur sampai ke barat sepanjang kurang lebih 100 km dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":33,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-1630","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1630","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/users\/33"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1630"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1630\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1630"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1630"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unnes.ac.id\/feb\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1630"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}