Prof Rasdi Berpulang, Wariskan Semangat “Everything is Okay”

Selasa, 11 Juni 2019 | 10:00 WIB


Prof Rasdi Berpulang, Wariskan Semangat “Everything is Okay”

Rektor IKIP Negeri Semarang (Universitas Negeri Semarang) periode 1994-2002 Prof Dr Rasdi Ekosiswoyo MSc meninggal dunia pada Selasa (11/6) pukul 01.10 WIB di RS Elisabeth Semarang.

Selama menjadi dosen, Dekan, dan kemudian Rektor, ia dikenal karena persona dan kepemimpinannya yang cemerlang. “Everything is okay” menjadi sesanti dalam perjalanan panjang pengabdiannya.

Sebagai Rektor, Prof Rasdi telah meletakkan fondasi kemajuan universitas ketika mengawal transformasi IKIP Semarang menjadi Universitas Negeri Semarang. Transformasi itu berdampak besar hingga saat ini karena melahirkan perubahan kelembagaan, mindset, sekaligus budaya akademik.

Sebagai Rektor, ia juga menjadi inspirasi bagi dosen karena dorongan yang tiada henti agar dosen-dosen terus sekolah. Jauh sebelum pemerintah menerbitkan aturan dosen minimal S2, Prof Rasdi telah terus mendorong agar dosen terus kuliah hingga S3. Dorongan itu berpijak pada impian besarnya membawa UNNES menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.

Di berbagai kesempatan, Prof Rasdi mengakui bangga melihat kemajuan UNNES. Berbagai kemajuan itu membuatnya lega, karena sebagian besar ekspektasinya telah terwujud.

“Maju terus UNNES. Everything is okay,” katanya di berbagai kesempatan.

Selain membanggakan kemajuan UNNES, Prof Rasdi juga kerap memanjatkan syukur karena pendidikan telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Sebagai anak yatim piatu, ia melalui masa anak-anak dalam kehidupan yang sederhana. Sepeninggal orang tuanya, ia hidup bersama kakak perempuan dan kakak iparnya. Kondisi itulah yang melatihnya kerja keras dan kerja cerdas sejak muda.

Kecemerlangan akademik perlahan mengubah kehidupannya. Setelah menyelesaikan pendidikan S1, ia meraih besiswa S2 di Syracuse University New York, Amerika Serikat. Tak puas dengan itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Sebagai senior dan sahabat, ia dikenal berkat kehangatan dan keakrabannya. Sebagai “bapak” bagi civitas academica, ia dikenal berkat ekspresi kasih sayangnya yang meneduhkan. Berkat kasis sayang itulah, makian “kakeane” yang sering diselorohkan tidak lagi bernilai sebagai makian, melainkan bukti keakraban.

Rektor UNNES Prof Dr Fathur Rokhman MHum menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian salah satu putra terbaik UNNES tersebut. Menurutnya, Prof Rasdi mewariskan banyak inspirasi hidup yang sangat berharga.

“Beliau selalu menekankan pentingnya pendidikan. Beliau meyakini bahwa pendidikan adalah salah satu cara terbaik memperbaiki hidup dan pendidikan,” katanya.

Menurut Prof Fathur, Prof Rasdi telah memberikan teladan yang baik. Beliau bukan hanya mengabdi di jalur akademik sebagai dosen, tetapi juga mengabdi melalui organisasi pendidikan, sosial, juga olahraga.

Selepas menjabat, beliau terus aktif memberdayakan masyarakat. Selain menjadi Ketua Dewan Pendidikan, menjadi ketua Yayasan Pendidikan Undaris, juga menjadi Ketua Asosiasi Bridge Jawa Tengah.


DIUNGGAH : Rahmat Petuguran Dibaca : 624 kali
EDITOR : Setyo Yuwono

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X