Lakon Musnaning Candha Bairawa Jadi Penutup Dies Natalis ke-56 UNNES

Rabu, 31 Maret 2021 | 9:44 WIB


Lakon Musnaning Candha Bairawa Jadi Penutup Dies Natalis ke-56 UNNES

Sebagai rangkaian penutup acara Dies Natalis ke 56, Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengadakan pagelaran wayang kulit diselenggarakan secara Daring yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube UNNES, Selasa (30/3).

Pagelaran wayang kulit yang dikolaborasikan dengan drama tari tersebut mengangkat lakon “Musnaning Candha Bairawa” dengan dalang Ki Dr Widodo (Dosen Jurusan Seni Drama Tari dan Musik UNNES) dan Ki Sindhu Linguistika (Mahasiswa Podi Sastra Jawa UNNES).

lakon Musnaning Candha Bairawa menceritakan pada hari ke-16 perang Bharatayuda, kematian Karna membuat Raja Hastina, Duryudana, frustasi dan marah. Ia hendak berangkat sendiri ke medan laga untuk menghabisi para Pandawa. Namun, niatnya diurungkan oleh Sengkuni yang mengatakan bahwa di pihak Kurawa masih ada seorang sangat sakti yang memiliki aji candha bairawa. Bila dikeluarkan, ajian itu mengeluarkan virus mematikan dengan jumlah tak terbatas dan siap untuk menghabisi lawan.

Duryudana tersadarkan dan sepakat dengan pandangan Sengkuni. Ia bergegas untuk menyerahkan tugas senapati Hastina kepada mertuanya tersebut, yaitu Salyapati. Singkat cerita, di medan perang, aji candha bairawa pun menyerang prajurit Pandawa. Bila terbunuh satu, virus tersebut tumbuh seratus, terbunuh seratus tumbuh seribu demikian seterusnya hingga jumlahnya tak terhingga.

Di tengah kacaunya keadaan, Puntadewa menghampiri para korban. Dengan penuh kasih sayang ia melantunkan kidung. Ketika mendengar suara kidung mendayu tersebut, roh Begawan Bagaspati, pemilik pertama aji candha bairawa dan mertua Prabu Salyapati yang ia bunuh ketika akan mempersunting anak perempuannya, merasuki tubuh Puntadewa. Mengamuknya aji candha bairawa dilawan oleh Puntadewa dengan cinta kasih.

Menurut Ki Dr Widodo, pergelaran ini melibatkan sedikitnya 50 pemain di panggung dan pemusik. Pergelaran disiarkan secara langsung dari gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni UNNES, kampus Sekaran, namun tidak dibuka untuk umum karena untuk mencegah penularan Covid-19. Jumlah penyaji pun dibatasi. Ini menjadi pergelaran wayang pertama di kampus setelah tahun lalu absen. Durasi pementasan akan berlangsung sekitar 2 jam.

Ia mengatakan pergelaran wayang menjadi refleksi di tengah pandemi. Di tengah suasana keprihatinan karena wabah Covid-19, kampus sebagai pusat unggulan diharapkan terus melahirkan inovasi. Selain itu, kampus didorong untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan. Melalui jalur keilmuan, kampus didorong berkontribusi dan hadir untuk memecahkan berbagai macam persoalan di tengah masyarakat, pungkasnya.

 


DIUNGGAH : Fauzan
EDITOR : Fauzan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

X