Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si.


Pria kelahiran Pacitan 15 Agustus 1952 ini adalah doktor Ilmu Hukum Agraria dari Universitas Diponegeoro. Sebelum itu, pendidikannya ditempuh di Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Adapun pendidikan S1 bidang Civic Hukum ia tempuh di Universitas Negeri Semarang, lembaga yang sejak 2004 hingga 2014 nanti dipimpinnya.

Selain Rektor Unnnes, Prof. Sudijono pernah menjabat Ketua Himpunan Sarjana Ilmu Sosial Indonesia. Sumbangan gagasannya dalam bidang hukum agraria ia tuangkan dalam sejumlah penelitian, antara lain Perencanaan Ekonomi Strategis Dalam Rengka Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pacitan (2004), Pemilikan dan Penguasaan Tanah Objek Landreform (2004), Pemilikan dan Penguasaan Tanah Petani Penerima SLT di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang (2006), dan Kerjasama Pasar Desa Dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kab. Pacitan (2006).

Di bidang pendidikan, penelitian yang telah dilakukannya adalah Peningkatan Kualitas Lulusan dan Efisiensi Penyelenggaraan Jenjang SLTA (2005), Model Pembinaan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Semarang 2005), Potret Kemiskinan dan Alternatif Penanggulangannya (2004), Studi Model Pengelolaan guru di Era Otonomi Daerah Dalam Rangka Peningkatan Mutu Pendidikan (2005), , Penelitian Pengusaha Kecil yang Berbasis Sumber Daya Lokal (2006), dan Peningkatan Kualitas Lulusan dan Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan Jenjang SLTP di Kab. Pacitan (2004).

Profesor Ilmu Hukum ini juga menyumbangkan berbagai gagasan untuk mewujudkan kelestarian lingkungan. Visinya mewujudkan Unnes sebagai kampus konservasi terdokumentasi dalam Unnes Sutera: Pergualatan Pikir Sudijono Sastroatmodjo Membangun Sehat, Unggul, Sejahtera (2010). Atas kiprahnya tersebut, tahun 2010 lalu ia menerima penghargaan Kalpataru oleh Presiden Republik Indonesia untuk kategori Pembina Lingkungan. Adapun Yayasan Damandiri menganugerahkan Damandiri Award atas kepedulian, komitmen, inisiatif, inovasi, dan kepemimpinan dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui pos pemberdayaan keluarga (posdaya).

Universitas Konservasi menjunjung tinggi prinsip perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan pengembangan secara lestari terhadap sumber daya alam dan budaya luhur bangsa. Secara konseptual konservasi ditunjang oleh tujuh pilar, yakni green campus, clean energy, green architecture, internal transportation, konservasi moral dan budaya, dan kader konservasi. Dari tujuh pilar tersebut tampak, orientasi gerakannya tak melulu fisik, tetapi juga hal-hal yang bersifat substansial. Ia menyebut tiga hal yang mengokohkan visi konservasi, yaitu pituah, pitutur, dan pitulungan.

Sudijono memaparkan, hal pertama adalah pituah atau petuah yang berarti nasihat. Dengan semangat mencapai tujuan bersama, keluarga besar universitas konservasi haruslah saling mengingatkan satu sama lain demi kebaikan dan kebersamaan.

Kedua adalah pitutur yang dapat dimaknai perbincangan (bertutur). Dalam konteks ini, berbagai ide maupun gagasan yang dilontarkan untuk kemajuan bersama, akan lebih matang jika mendapat masukan dari berbagai pihak.

Ketiga, pitulungan yang berarti tulung-tinulung (tolong-menolong). “Selain bekerja sesuai dengan bidang masing-masing, semua lini di universitas konservasi juga diharuskan saling membantu.”

Ia juga berpandangan, perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading, tapi harus menjadi menara air. Ini berarti, prestasi gemilang perguruan tinggi harus memberi manfaat pada public di sekitarnya. Engalirkan manfaat bagi sesama. Maka Unnes ini harus bergandeng tangan dengan kalangan luas, utamanya masyarakat sekitar karena kampus ini perlu ada satu kondisi yang terbangun secara baik didukung oleh masyarakat agar menjadi nyaman dan kondusif.


Diperbarui oleh: Dhoni Zustiyantoro pada Senin, 5 November 2012 21:07 WIB Dibaca : 5.829 kali

X