Prof. Dr. Rusdarti, M.Si


Prof. Dr. Rusdarti M.Si lahir di Magelang 21 April 1959. Ia menyelesaikan pendidikan doktor dan magister di Universitas Padjadjaran Bandung pada bidang Ilmu Ekonomi Manajemen. Pendidikan S1 ia tempuh di Universitas Negeri Semarang pada Jurusan Pendidikan Akuntansi.

Prof. Dr. Rusdarti M.Si melakukan studi terhadap koperasi. Dalam pengkuhuan dirinya sebagai guru besar, Desember 2005, ia mengatakan citra buruk koperasi tak bisa dilepaskan dari stigma terhadap koperasi unit desa (KUD), kredit usaha tani (KUT), dan induk koperasi unit desa (Inkud). KUD banyak disorot masyarakat karena terkesan kumuh dan manajemennya tidak profesional. Sementara Inkud yang sebenarnya induk KUD justru melakukan impor gula yang menyengsarakan petani tebu alias anggota KUD sendiri.

Menurut Prof. Rusdarti, keterbatasan akses koperasi terhadap sumber daya yang produktif dan struktur perekonomian nasional yang penuh dengan ketimpangan, menjadi kendala untuk pengembangan usaha koperasi secara cepat dan berkesinambungan.

Dia menyoroti mekanisme pasar yang berkeadilan belum berfungsi secara efektif, keterbatasan keuangan negara, fungsi intermediasi bank yang belum optimal, dan pelaksanaan otonomi daerah yang juga belum optimal menjadi penghambat percepatan pembangunan koperasi.

Agar koperasi Indonesia bisa berkiprah dalam perekonomian nasional dan berpihak pada rakyat, perlu ditempuh pengembangan usaha koperasi sesuai jati diri, upaya memperkuat jaringan kerja sama usaha, dan peningkatan kemampuan usaha. Selain itu penting juga peningkatan citra, penyaluran aspirasi, dan menempatkan posisi pemerintah sebagaimana mestinya.

Dalam penelitian Potensi Ekonomi Daerah Dalam Pengembangan UKM Unggulan di Kabupaten Semarang (Jejak, 2010) ia mengungkap sektor potensial yang dapat menjadi penggerak adalah industri pengolahan, dalam kaitan dengan industri kecil (UKM) adalah jenis industry makanan dan minuman, kemudian obat-obatan tradisional. Industri pengolahan merupakan sektor basis dan penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi.

Di Kabupaten Semarang, ungkap Prof. Rusdarti, mempunyai tiga sektor basis, sektor tersebut yaitu sektor industri pengolahan dengan indeks LQ rata-rata sebesar 1,327 sehingga sektor ini merupakan sektor basis dengan indeks rata-rata terbesar. Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor basis terbesar kedua dengan indeks LQ ratarata sebesar 1,034; sektor ketiga, yaitu sektor listrik, gas dan air yang memiliki nilai rata-rata sebesar 1,006.

Penelitian lain yang pernah dilakukan Prof. Rusdarti antara lain Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Nilai Pelayanan Terhadap Loyalitas Nasabah Pada Bank BPD Jawa Tengah Cabang Semarang (2004), Pengaruh Biaya Transaksi terhadap Keunggulan Kompetitif Koperasi (2003), Pengaruh Keterlibatan Pembina, Kemampuan Pengurus Dan Partisipasi Anggota Terhadap Kinerja Keuangan Koperasi Pondok Pesantren (2009). Salah satu buku yang telah diterbitkan adalah Ekonomi Fenomena di Sekitar Kita (Platinum, 2008).


Diperbarui oleh: Dhoni Zustiyantoro pada Senin, 5 November 2012 21:07 WIB Dibaca : 3.744 kali