Prof. Drs. Nathan Hindarto, Ph.D


Prof. Nathan Hindarto lulus Sarjana Muda Fisika Unnes pada tahun 1978 dan Sarjana Fisika Unnes 1978. Pendidikan S2 dan S3 sama-sama ditempuh di Murdoch University Australia masing-masing pada bidang Fisika Inti dan Surface Physic. Disertasinya A Surface Study of Gold by Scanning Tunneling Microscope diterbitkan Murdoch University (1992).

Tahun 2009 Prof. Nathan bersama sejumlah dosen Unnes meneliti Pembuatan Kampas Rem Otomotif Dari Bahan Komposit Tempurung Kelapa untuk Mendukung Industri Transportasi dan Pertahanan. Ia mengoptimalkan penggunaan serbuk tempurung kepala agar dapat menggantikan peran grafit dan serbuk batu bara dalam pembuatan bahan gesek secara konvensional. Serbuk tempurung kelapa dicampur dengan sembilan bahan lain diantaranya karet sintetis (SBR 1712), rubber curing agent, metal mix, bakelite AG, asam stearat, MgO dan kalsium karbonat.

Pembuatan bahan gesek dari serbuk tempurung kelapa, menurut Prof. Nathan, memiliki prospek sangat potensial. Proyek-proyek masa depan pemerintah seperti pembangunan busway, monorail, dan subway juga memerlukan dukungan industri bahan gesek domestik dengan kualitas baik dan harga terjangkau. Pengembangan industri penerbangan juga memerlukan kampas rem dalam komponen kunci sistem pesawat tinggal landas dan mendarat.

Sejak mengajar pada tahun 1976 Prof. Nathan juga melakukan berbagai riset di bidang pembelajaran fisika, antara lain Revitalisasi Praktikum Fisika Eksperimen dengan Uji Coba Pembuatan Prototipe Sumber Radioaktif (2004), Kajian terhadap Pelaksanaan Kurikulum “Common Ground” di FMIPA unnes (2002), Persepsi Dosen dan Mahasiswa Jurusan Fisika FPMIP IKIP Semarang terhadap Mata Kuliah Sejarah Fisika (2000), dan Dampak Pelatihan Guru Pemandu Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Dasar Terhadap Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Di Sekolah Dasar Negeri se- Kabupaten Pati (2005).

Prof. Nathan Hindarto menekankan supaya guru fisika memasukan unsure-unsur pendidikan karakter dalam pembelajaran. Selama ini mayoritas guru fisika berpendapat urusan pendidikan moral atau karakter ataupun pendidikan agama merupakan tugas guru bidang agama dan kewarganegaraan. Padahal sejatinya tujuan pendidikan di antaranya justru membentuk watak atau karakter yang baik bagi masyarakat atau siswa dan tidak terbatas oleh guru agama dan PPkn.

Dalam pengukuhannya sebagai guru besar 25 November 2010 lalu Prof. Nathan juga menepis persepsi bahwa fisika bertolak belakang dengan agama. Menurutnya, salah satu tujuan pendidikan fisika adalah supaya peserta didik memahami hitung-hitungan fisika dan hal-hal menyangkut keteraturan lewat rumus-rumus fisika. Di balik itu, diharapkan peserta didik bisa melihat bahwa di balik keteraturan tersebut ada keagungan Tuhan.


Diperbarui oleh: Dhoni Zustiyantoro pada Senin, 5 November 2012 21:09 WIB Dibaca : 4.341 kali

X