Ramadan untuk Kuatkan Rumah Ilmu


Ramadan untuk Kuatkan Rumah Ilmu

DARI sekian banyak sebutan untuk bulan Ramadan, kita mengenal sebutan “bulan tarbiyah” atau bulan pendidikan. Sebutan ini melekat karena kedekatan antara bulan Ramadan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Karena itulah, memanfaatkan momentum Ramadan untuk menggencarkan semangat keilmuan terasa sangat tepat dan kontekstual.

Kedakatan antara Ramadan dengan ilmu pengetahuan dapat ditelusuri secara historis. Al-Quran yang menjadi sumber pengetahuan dan nilai bagi umat Islam, turun pertama kali pada bulan Ramadan. Pada bulan Ramadan pula, umat Islam meningkatkan kajian terhadap “ilmu dari segala ilmu” itu. Al-Quran dikaji dan dipelajari pagi, siang, dan malam.

Selain kegairahan, Ramadan juga membuat kajian keilmuan memiliki dimensi spiritual yang kuat. Ilmu pengetahuan didudukkan sebagai kebaikan ukhrowiyah yang mengandung berkah. Pengetahuan tidak hanya dijadikan alat berpikir, tetapi sebagai alat menggapai berkah ilahi. Pikiran terasah ketajamannya, hati tertambat kepada Allah Sang Pencipta.

Sebagai institusi keilmuan, Universitas Negeri Semarang (UNNES) perlu merespon hal itu untuk meningkatkan gairah keilmuan. Gairah keilmuan yang biasanya memuncak pada bulan suci Ramadan perlu ditangkap ruhnya, agar terjaga dan dapat dipertahankan pada bulan-bulan berikutnya.

Keutamaan Ilmu Pengetahuan

Berbagai sumber naqli telah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan jadi variabel yang sangat penting bagi kehidupan manusia, masyarakat, dan bangsa. Ilmu pengetahuan bisa menjadi pencerah sekaligus menjadi pemungkin. Sesuatu yang tampak gelap  dan sulit pahami, bisa menjadi terang karena pengetahuan. Sesuatu yang tampak mustahil, bisa diwujudkan berkat pengetahuan.

Tetapi bukan hanya itu yang membuat pengetahuan menjadi begitu utama dan mencari ilmu pengetahuan menjadi begitu mulia. Ilmu pengetahuan menjadi utama karena datang dari Tuhan. Adapun mencari ilmu pengetahuan adalah perintah yang juga datang dari Tuhan.

Sejumlah sumber menyebut, kata ilmu dan turunannya disebutkan 780 kali dalam Al-Quran. Selain itu, ada janji dari Tuhan bahwa orang-orang yang memiliki pengetahuan akan dimuliakan, diangkat derajatnya. Ini menunjukkan bahwa – dalam pandangan Islam – ilmu menjadi unsur yang sangat mendasar dalam kehidupan.

Dalil itu diperkuat dengan hadis (berupa keteladan) dari Rasulullah, juga keteladan dari para sahabat, dan thabiin yang menunjukkan kegairahan tinggi dalam menuntut ilmu. Mereka juga menunjukkan bahwa ilmu yang dibumikan dalam kehidupan terbukti membawa kemuliaan. Bukan hanya kebaikan bagi mereka sendiri, tetapi orang-orang terdekat dan lingkungannya.

Selain itu, sangat mudah dilogikakan bahwa pengetahuan akan membawa kebaikan bagi pelaku sekaligus komunitasnya. Negara dengan pendidikan yang baik, misalnya, memiliki kehidupan yang lebih aman, tertib, dan sejahtera. Sementara negara yang mandek keilmuannya, senantiasa dirundung konflik, kemiskinan, dan aneka bencana sosial lainnya.

Rumah Ilmu

Lembaga keilmuan seperti Unnes tidak bisa melepaskan diri  dari tuntuan publik untuk senantiasa mengembangkan pengetahuan. Ketika masyarakat menyimpan begitu banyak pertanyaan, lembaga keilmuan seharusnya siap menyediakan berbagai alternative jawaban. Dengan begitu, lembaga keilmuan dapat memenuhi fungsi sosialnya sebagai pencerah peradaban.

Di sisi lain, masyarakat terus berubah. Perubahan itu ada yang bersifat terencana, tetapi banyak pula yang di luar rencana. Agar perubahan-perubahan itu tertuju pada kebaikan bersama, lembaga keilmuan perlu memberikan rambu-rambu (guide). Perubahan yang membaw akebaikan agar dipercepat lajunya. Adapun kebaikan yang berdampak buruk agar dihentikan dengan segera.

Sampai di sini, komitmen Unnes untuk menjadi rumah ilmu pengembang peradaban unggul menemukan konteksnya. Pilihan menjadi rumah ilmu adalah pilihan strategis yang berdimensi dunia dan akhirat. Maka, siapa pun yang memelihara kompitmen itu, menerapkannya dalam praktik kehidupan sehari-hari, dapat memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat.

Sebuah survei terhadap para profesor di Amerika menunjukkan, orang-orang cerdas memilih menggeluti profesi sebagai dosen dan peneliti di perguruan tinggi karena memiliki kebebasan akademik yang luas. Jenis kebebasan semacam itu tidak bisa diperoleh jika mereka berkarier menjadi eksekutif di lembaga swasta. “Kebebasan menyatakan kebenaran” adalah alasan yang bagi orang Amerika “membarter” intelektualitasnya.

Di dalam masyarakat yang religius seperti Indonesia, profesi keilmuan juga patut menjadi pilihan karena sangat dengan berbagai bentuk kebaikan. Seperti disampaikan di depan, bukan hanya kebaikan dunia tetapi juga kebaikan akhirat.

Dari situlah, penting bagi civitas academica Unnes untuk segera menemukan hikmah Ramadan yang diterapkan pada bulan-bulan setelahnya. Dengan demikian, semoga Ramadan benar-benar mendekatkan kita menjadi pribadi bertaqwa.

Prof Dr Fathur Rokhman MHum, Rektor Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X