Prof Rustono, “Jembatan” dan “Pagar” Pragmatik Bahasa Indonesia


Prof Rustono, “Jembatan” dan “Pagar” Pragmatik Bahasa Indonesia

ILMU pragmatik telah menjadi bagian amat penting dalam studi linguistik. Sebagai disiplin ilmu makna, kedudukannya disetarakan dengan semantik dan sintaksis. Ilmu pragmatik menjadi penting dan khas karena kemampuannya untuk mempersoalkan makna tuturan pada konteks spesifik.

Salah satu pakar pragmatik yang dimiliki Indonesia berasal dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof Dr Rustono MHum. Ia termasuk salah satu pendahulu yang memperkenalkan pragmatik sebagai disiplin linguistik di Indonesia, selain begawan-begawan linguistik lain seperti Harimurti Kridalaksana dan Anton Moeliono.

Corak berpikir Prof Rus – demikian sapaannya – memang sangat dipengaruhi pemikir pragmatik generasi pertama dan kedua seperti John L Austin, John R Searle, Geofrey Leech, dan Paul Grice. Namun ia berhasil menjadi jembatan sekaligus pagar dalam kajian pragmatik yang berciri Indonesia.

Menjadi “jembatan” karena ia menjadi perantara yang membuat kajian pragmatik menjadi membumi dalam situasi sosiokultural masyarakat Indonesia. Menjadi “pagar” karena ia dapat menjadi penyaring yang kritis berbagai teori pragmatik, memilah yang relevan dengan konteks Indonesia dan yang menurutnya kurang relevan.

Sebagai ilmuwan, Prof Rustono memiliki kapasitas melampaui kaidah. Ia tidak ragu untuk mempersoalkan kaidah yang telanjur mapan jika menurutnya tidak lagi relevan. Saat pembelajar pemula seperti saya menganggap kaidah sebagai hukum akhir yang harus dipatuhi, Prof Rustono memandang itu sebagai negosiasi keilmuan yang hasilnya bisa terus berubah dari waktu ke waktu.

Salah satu buku yang menunjukkan peran Prof Rus dalam kajian pragmatik di Indonesia adalah Pokok-Pokok Pragmatik. Buku itu telah terbit pada 1999 saat kajian mengenai pragmatik belum sesemarak sekarang.

Karena itulah, pemikiran-pemikirannya dalam buku ini sering menjadi rujukan bagi peneliti pragmatik lain di Indonesia. Gagasannya menjadi rujukan bagi para sarjana bahasa dari berbagai universitas di Indonesia.

Buku itu menjadi rujukan bukan hanya karena kepeloporannya, tapi – saya kira – juga berkat kemampuan penulisnya bernarasi secara rinci namun sederhana. Di situ ia berlaku seperti guide yang sangat ramah bagi “wisatawan” baru tanpa membuat “wisatawan” lama merasa digurui.

Kemampuan yang mirip ini dimiliki oleh profesor ilmu pragmatik lain, misalnya Prof Djatmika (Universitas Sebelas Maret). Namun Prof Rus tetap memiliki ciri bertutur yang khas. Jika Prof Djatmika cenderung menempatkan diri sebagai teman yang humoris, Prof Rus hadir sebagai bapak yang ngemong. Sebagai pembaca saya merasakan ada kewibawaan intelektual yang terpelihara pada karya Prof Rus tanpa harus menjaga jarak dengan pembacanya.

Saya harus jujur, ketertarikan saya terhadap linguistik – salah satunya – dipantik oleh pemikirannya. Ia menghadirkan pragmatik sebagai ilmu yang sangat dekat, konkret, dan berfedah untuk dipelajari.  Mahasiswa Unnes atau mahasiswa universitas lain yang pernah masuk dalam kelasnya – mungkin – merasakan kesan yang sama.

Semoga ia sehat dan makin produktif berkarya. Rahmat

2 komentar pada “Prof Rustono, “Jembatan” dan “Pagar” Pragmatik Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X