Prestasi Olahraga Tidak Bisa Diraih secara Instan


Prestasi Olahraga Tidak Bisa Diraih secara Instan

Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX digelar di Jawa Barat, 17-29 September 2016. Ketua Umum Koordinasi Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Tengah, Hartono, optimistis atlet provinsi ini bias meraih 60 medali emas dari ajang yang melombakan 44 cabang olahraga itu. Bisakah itu terwujud? Maksimalkah persiapan atlet kita? Berikut perbincangan dengan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Prof Dr Tandiyo Rahayu MPd.

Apa kendala terbesar bagi persiapan menghadapi PON?

Kendala klasik yang masih tetap menjadi “primadona” adalah dana. Namun rasanya itu bukan hanya dihadapi oleh Jawa Tengah. Nyaris semua daerah menghadapi kendala itu. Ada beberapa permasalahan pokok, antara lain mindset masyarakat, yang terutama terepresentasikan melalui para wakil dan pemimpin, terhadap olahraga, prestasi, dan komitmen pembinaan. Selain itu, soal pengelolaan dan pertanggungjawaban dana, dan kedudukan PON dalam konstelasi pembinaan olahraga nasional.

Pertama, ibarat gunung es, masyarakat memandang pembinaan olahraga hanya pada puncaknya. Padahal, apa yang tampak pada pergelaran sebuah kejuaraan merupakan hasil dari proses yang sangat panjang dan membutuhkan banyak dana. Namun keributan itu hanya mencuat empat tahun sekali. Pembinaan olahraga membutuhkan pendanaan besar untuk menyiapkan infrastruktur, membangun fasilitas, memoles sumber daya manusia, merancang, membangun, dan melaksanakan sistem pembinaan yang terpadu. Itu semua butuh proses dan dana.

Namun faktanya saat ini pemenuhan kebutuhan dasar itu masih jauh dari harapan. Dan, dalam siklus empat tahunan itu, selalu muncul kehebohan masalah kekurangan dan ketersendatan dana untuk memenuhi kebutuhan pembinaan. Ironisnya, di lain pihak ada tuntutan untuk menggapai prestasi gilang-gemilang. Sekali lagi, prestasi olahraga tidak bisa diperoleh secara instan. Jika masyarakat ingin daerahnya berprestasi dan pemimpin masyarakat ingin mendapatkan kebanggaan atas kegemilangan prestasi olahraga daerahnya, sediakan dana yang cukup, bangun fasilitas memadai, susun dan laksanakan sistem pembinaan yang sehat, baik, benar, ilmiah, dan komprehensif.

Kedua, saya sungguh sedih dan pedih bila mendengar dugaan korupsi di tubuh organisasi keolahragaan. Mungkin benar satu-dua orang memanfaatkan dana pembinaan untuk kepentingan di luar peruntukan. Namun yang saya tahu sebagian besar karena ketidakpahaman mereka dalam tata kelola keuangan. Karena itu, organisasi olahraga perlu memiliki staf yang paham dan menguasai tata kelola keuangan.

Ketiga, ada kesalahan mendasar dalam melihat dan mendudukkan PON dalam konteks pembangunan olahraga nasional. Kesalahan terletak pada anggapan bahwa PON merupakan tujuan dan sasaran akhir pembinaan olahraga nasional. Itu salah. PON seharusnya diletakkan sebagai salah satu mata rantai pembinaan dan pembangunan olahraga nasional. Sasaran akhirnya? Ya olympic games. Jika seperti sekarang olahragawan dan pembina puas atas medali emas PON, jangan harap prestasi olahraga Indonesia akan gemilang di kancah internasional. Kebanggaan sejati itu bila menatap Sang Merah-Putih di atas bendera negara lain, diiringi gema ìIndonesia Rayaî yang melingkupi arena.

Apa target Jawa Tengah?

Sejak dulu target Jawa Tengah ya berada sejajar dengan DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Apa cabang andalan yang bisa dipastikan berjaya merebut medali?

Jika bicara cabang olahraga yang menyediakan banyak medali, ada renang, atletik, senam. Tahukah Anda, di seluruh pelosok Jawa Tengah tidak ada satu pun, sekali lagi satu pun, gedung senam yang memenuhi standar dan layak untuk berlatih dan bertanding? Itu hanya salah satu syarat. Adapun cabang yang diharapkan menyumbang medali antara lain paralayang, sepak takraw, atletik, aeromodeling, bulu tangkis, pencak silat, tarung derajat, sepatu roda, dan panjat tebing.

Kontingen manakah yang bakal menjadi pesaing terkuat?

Jawa Barat sebagai tuan rumah pasti menjadi ancaman utama. Jakarta sebagai pusat pembinaan yang memiliki keunggulan kelengkapan fasilitas juga pasti menjadi ancaman serta Jawa Timur. Mereka juga sangat diperhitungkan sebagai unggulan yang tidak mudah takluk.

Bagaimana pula soal pendanaan?

Tentang pendanaan, ya relatif. Kalau hanya untuk kebutuhan persiapan dan keberangkatan PON, sepertinya cukup. Kalau tidak salah Rp 70 miliar. Namun, sekali lagi, itu hanya biaya untuk meraih prestasi di PON. Bukan untuk membangun dan membina prestasi. Rp 70 miliar hanya untuk memoles pucuk gunung es. Dan, tentu uang sebesar itu akan menghasilkan kegemilangan bila bagian lereng dan kaki gunung sudah kukuh dan tangguh.

Apa dan seberapa besar bonus bagi atlet peraih medali dan dari mana sumbernya?

Kalau tidak salah, yang sudah dianggarkan Rp 150 juta untuk sekeping medali emas. Dana itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Bagaimana peran perguruan tinggi, terutama yang memiliki program studi olahraga seperti Unnes, dalam menyiapkan calon atlet berbakat?

Universitas secara umum sangat akomodatif dalam memfasilitasi para olahragawan. Meski, dalam beberapa kasus, masih ada celah-celah untuk meningkatkan kontribusi pada masa datang. Kami di Unnes memperoleh dukungan dari Rektor untuk berperan aktif dan berkontribusi optimal dalam pengembangan olahraga di Jawa Tengah dan nasional.

Upaya apa yang dapat dilakukan perguruan tinggi dalam menjaring calon atlet berbakat?

Kami memberikan hak istimewa pada olahragawan berprestasi untuk masuk melalui jalur prestasi. Memang untuk menjaring atlet berbakat di masyarakat memutuhkan talent scouting yang ilmiah, komprehensif, terpadu, dan jangka panjang. Saat ini Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes sedang menyiapkan sebuah rencana strategies untuk menggali potensi keberbakatan anak dalam bidang olahraga melalui program terpadu. (51)

Catatan:
Wawancara ini dimuat pada halaman Bincang-Bincang, Suara Merdeka, Minggu (18/9/2016)

satu komentar pada “Prestasi Olahraga Tidak Bisa Diraih secara Instan

  1. Selamat untuk salah satu mahasiswa UNNES yang berhasil memperoleh Emas di kelas Downhill Putri PON Jabar 2016. Semoga ada perhatian khusus dari pihak universitas untuk mahasiswa berprestasi di bidang Olah Raga, yang pastinya jarang sekali mengikuti perkuliahan karena harus mengikuti pemusatan latihan. Sekali lagi selamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X