Membangun Tradisi Universitas Ber-SDM Unggul


Membangun Tradisi Universitas Ber-SDM Unggul

Slogan “SDM Unggul, Indonesia Maju” memiliki logika kausalitas yang mantap. Baik secara historis maupun konseptual, keunggulan sumber daya manusia adalah syarat dominan yang memungkinkan kemajuan sebuah komunitas. Hubungan demikian bisa terjadi di komunitas kecil seperti keluarga, kampung, juga bangsa dan negara.

Sesuai simpulan itu, kemajuan perguruan tinggi pun sangat bergantung dengan keunggulan potensi insani yang dimiliki. Tidak ada perguruan tinggi maju tanpa SDM yang mumpuni.

Oleh karena itu, sangat penting bagi warga perguruan tinggi untuk mengetahui kriteria keunggulan SDM sesuai dengan realitas zaman. Karena zaman terus berubah, kriteria SDM unggul pun bergeser. Bahkan dalam beberapa kasus, kriteria itu bukan hanya bergeser, tetapi sama sekali berubah.

Pendapat Alvin Toffler dalam Power Shift (1990) mengilustrasikan pergeseran zaman yang diikuti pergeseran kriteria manusia unggul. Menurutnya, ada tiga periode besar perubahan manusia unggul. Pada periode pertama peradaban manusia, manusia unggul diidentifikasi oleh kekuatan fisik. Karena itulah, pemimpin kelompok hampir selalu yang terkuat kondisi tubuhnya.

Ketika manusia memasuki era pertanian, foedalisme, dan kemudian industri, sumber daya unggul diidentifikasi oleh aksesnya terhadap alat-alat produksi. Pada periode ini, pemilik lahan dan pabrik menjadi SDM unggul dalam arti yang sebenarnya.

Kriteia itu kembali bergeser ketika peradaban memasuki era informasi. Pada era ini, orang kuat adalah yang memiliki akses terhadap data. Inilah yang membuat dunia ini tidak lagi dikendalikan oleh para industriawan tradisional, melainkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi berbasis data.

Hipotesis ini terbukti hari ini. Perusahaan seperti Google bukan hanya mengontrol akses pengetahuan kita, tetapi juga membentuk pandangan dunia (worldview) kita. Facebook bukan hanya membentuk pola interaksi pengguna, tetapi juga membentuk nilai-nilai pemakainya. Perusahaan seperti Amazon membentuk selera kita.

Pergeseran Besar 

Zaman yang berubah membuat norma di setiap komunitas berubah. Itu pula yang terjadi di perguruan tinggi. Kriteria “SDM unggul” yang diidealkan perguruan tinggi mengalami pergeseran besar. Kondisi ini berimplikasi terhadap lahirnya kriteria-kriteria baru yang harus dipenuhi oleh masyarakat perguruan tinggi.

Lalu apa kriteria-kriteria baru yang layak untuk diikuti?

Tim Kemristekdikti pernah merumuskan formula 4C sebagai formula untuk SDM unggul pada era Revlusi Industri 4.0. Formula itu berisi empat hal yang harus dimiliki masyarakat perguruan tinggi, yaitu ciritcal thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi).

Sementara itu, Dale Carnagie Institute merumuskan konsep 5 essential people skills. Menurut lembaga yang berfokus pada pengembangan SDM ini, ada lima keterampilan pokok yang harus dimiliki individu individu untuk menghadapi tantangan ke depan. Kelimanya adalah: relasi positif, rasa ingin tahu, komunikasi, ambisi, dan penyelesaian konflik.

Di luar dua kriteria itu, tentu ada sejumlah versi lain yang telah dirumuskan para ahli. Pakar big data Bernard Marr (2019) misalnya, merumuskan 10 kriteria kecakapan masa depan yang isinya beririsan dengan dua konsep di atas. Sepuluh kriteria tu adalah kreativitas, kecerdasan emosional, kemampuan analitis, passion belajar, membuat keputusan, komunikasi interpersonal, kepekaan budaya, menggunakan teknologi, dan kemampuan mengantisipasi perubahan.

Konsep yang kurang lebih sama juga telah dibuat World Economic Forum. Lembaga itu menetapkan 10 kecakapan masa depan yang mampu membuat seseorang adaptif dengan kondisi masa depan. Sepuluh kriteria itu juga beririsan dengan rumusan sebelumnya. Yang khas dalam rumusan WEF adalah penempatan “kemampuan memecahkan masalah kompleks” di urutan pertama.

Pribadi Pembelajar 

Mengingat peran perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan dan katalisator kemajuan, kriteria-kriteria di atas sebenarnya tidak betul-betul baru bagi masyarakat perguruan tinggi. Bahkan seluruh kriteria itu telah menjadi dasar pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.

Namun demikian, kriteria-kriteria itu perlu ditafsir ulang agar lebih kontekstual sekaligus operasional. Tafsir ulang wajib dilakukan agar rumusan-rumusan itu bisa diwujudkan dalam praktik sosial yang melembaga dalam diri dan institusi.

Karena itulah, pada tahun 2016 konsep itu saya sintesiskan dalam konsep kepemimpinan bertumbuh. Dalam rumusan itu saya buat lima tahapan sesuai tanggung jawab sosial individu bersangkutan.

Pada tahap awal, kecakapan utama yang harus dimiliki seseorang adalah mengenali potensi diri. Setiap manusia memiliki potensi unik. Bahkan potensi itu bisa saja mengalami dinamika karena melekat dalam watak manusia yang pikiran dan jiwanya dinamis. Tugas awal kita adalah memahami potensi-potensi itu dan menemukan potensi mana yang paling layak diaktualisasikan.

Pada tahap kedua, tugas kita adalah mengembangkan potensi tersebut. Sumber daya finansial, sosial, dan intelektual perlu dicurahkan agar “tunas” dapat bertumbuh dengan optimal. Di tahap ini, kemauan dan kemampuan belajar dari lingkungan sangat menentukan.

Tahap tiga, pertumbuhan itu harus diakselerasi dengan membangun jejaring keilmuan. Desain evolusioner manusia adalah adalah makhluk sosial. Karena itu, potensi kemanusiaan manusia hanya dapa tumbuh secara optimal jika ada komunikasi dan kolaborasi dengan manusia lain. Kemampuan terhubung secara positif, bersahabat, dan bernegosiasi akan tumbuh subur pada tahap ini.

Usai itu, setiap individu juga harus mengoptimalkan tantangan di sekitarnya. Baik disadari maupun tidak, manusia selalu berhadapan dengan aneka kesulitan. Itu terjadi karena manusia memiliki kemampuan kontrol yang terbatas terhadap situasi sekitar.

Kesulitan dan tantangan itu sebaiknya tidak dipandang sebagai kendala, melainkan peluang untuk bertransformasi menjadi lebih baik. Semakin banyak tantangan yang terselesaikan, individu atau komunitas itu akan semakin baik dari hari ke hari. Bahkan kecakapan-kecakapan yang tak terduga bisa muncul sehingga pribadi atau komunitas itu bisa melampaui ekspektasinya.

Di tahap akhir, setiap proses dalam membangun keunggulan SDM harus diorientasikan pada kebermanfaatan bagi lingkungan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, salah satu habitus penting masyarakat perguruan tinggi adalah melahirkan tunas baru yang lebih unggul.  Kita harus pastikan bahwa mahasiswa kita jauh lebih hebat dari kita. Kita harus pastikan mereka punya peran sosial yang lebih besar dari peran kita hari ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridai kita semua.
Unnes, mendunia untuk Indonesia.

Prof Dr Fathur Rokhman M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

X