MEA, Jembatan Memesrakan Perguruan Tinggi dan Masyarakat


MEA, Jembatan Memesrakan Perguruan Tinggi dan Masyarakat

TAHUN ini Indonesia akan memasuki era interkoneksi ekonomi antarnegara ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ini akan menjadi babak baru hubungan internasional antara Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Semangat MEA yang berfilosofi pada integrasi regional dalam bidang ekonomi diharapkan dapat menjadi stimulus baru percepatan pembangunan ekonomi kawasan yang lebih merata.

Asia Tenggara dianggap sebagai poros ekonomi baru yang terus berkembang. Dengan populasi jumlah penduduk mencapai 612 juta jiwa atau 8,7% populasi dunia, plus volume ekonomi yang mencapai USD 2,2 triliun, Asia Tenggara adalah macan baru ekonomi Asia. Letak yang strategis di antara jalur pelayaran dan penerbangan paling sibuk di dunia semakin menjadikannya sebagai kawasan yang seksi untuk dikembangkan.

Kondisi ini kemudian ditangkap oleh negara-negara Asia tenggara yang tergabung dalam ASEAN untuk membentuk suatu komunitas ekonomi yang terintegrasi dalam wadah MEA, atau Asean Economic Community (AEC). Di tengah kelesuan Amerika Utara dan Uni Eropa, ketimpangan di Asia Selatan serta pelambatan di Timur Jauh, Asia Tenggara muncul dengan harapan sebagai kutub baru ekonomi Asia.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dengan volume ekonomi 38,8 persen dari total volume perekonomian ASEAN. Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN di forum G20. Dengan jumlah penduduk mencapai 260 juta jiwa, Indonesia adalah leader sekaligus pasar yang paling besar. Posisi ini tentu saja sangat menguntungkan dari segi geopolitik, ekonomi, demografi dan aspek lain.

MEA sendiri dikonsepkan sebagai sebuah kawasan yang terintegrasi secara ekonomi. Dengan konsep ini, mobilitas barang dan jasa serta beragam aktivitas ekonomi akan semakin mudah. Lebih dari sekedar zona perdagangan bebas, MEA diharapkan akan menciptakan keselarasan dalam aktivitas perekonomian yang lebih komprehensif dan integral dalam balutan semangat persaudaraan.

MEA membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan produk-produk unggul. Produk unggul dapat dihasilkan dari bangunan kerja sama, keterkaitan, sinergi supporting yang kuat. Supporter yang kuat itu antara lain harus memiliki unsur pelibatan A, B, G, C (Akademisi, Business, Goverment, Community) dan Perbankan.

Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dengan volume ekonomi 38,8 persen dari total volume perekonomian ASEAN. Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN di forum G20.

Peran Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi dapat masuk ke semua area. B, G, C dan Perbankan. Karena perguruan tinggi menghasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh B, G, C dan perbankan. Pemerintah membuka kran lebar-lebar untuk mendongkrak penyerapan tenaga kerja dengan penciptaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), termasuk unsur di permodalan.

Peran perguruan tinggi menjadi sentral, terutama di dalam riset, karena itu sekarang kementrian ristek digabung dengan perguruan tinggi. Luaran riil dari suatu perguruan tinggi bagi industri adalah inovasi teknologi dan manajemen pengelolaan sumber daya.

Menurut Deputi Kementerian Koperasi dan UKM Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Agus Muharram, untuk membentuk ekonomi sebuah negara berkembang menjadi maju dibutuhkan jumlah pengusaha sukses minimal 2% dari total jumlah penduduk. Jumlah pengusaha Indonesia hanya 1,56 persen dari jumlah penduduk. Jumlah ini jauh tertinggal dengan Amerika yang 12 persen, Jepang yang 10 persen, Singapura yang 7 persen, dan seterusnya. Sementara, pengusaha muda, berdasar data keanggotaan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) hanya 25 ribu lebih saja.

Dunia usaha di Tanah Air tentu harus mengambil langkah-langkah strategis agar dapat menghadapi persaingan dengan negara ASEAN lainnya, tak terkecuali sektor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM). Klaim menteri UKM rezim pemerintahan SBY menyatakan bahwa persiapan Koperasi dan UKM nasional untuk menghadapi era MEA sudah cukup baik kurang lebih 60 sampai 70 persen.

Pemerintah telah melaksanakan beberapa upaya strategis, salah satunya pembentukan Komite Nasional Persiapan MEA 2015 yang berfungsi merumuskan langkah antisipasi serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan KUKM mengenai pemberlakuan MEA pada akhir 2015.

Adapun langkah-langkah antisipasi yang telah disusun Kementerian Koperasi dan UKM untuk membantu pelaku KUKM menyongsong era pasar bebas ASEAN itu, antara lain peningkatan wawasan pelaku KUKM terhadap MEA, peningkatan efisiensi produksi dan manajemen usaha, peningkatan daya serap pasar produk KUKM lokal, penciptaan iklim usaha yang kondusif.

Namun, diakui bahwa salah satu faktor hambatan utama bagi KUKM untuk bersaing dalam era pasar bebas adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) pelaku KUKM yang secara umum masih rendah dan akses terhadap penyediaan hasil-hasil penelitian dan riset dari pemerintah dan perguruan tinggi.Jika KUKM melakukan riset sendiri, mereka tidak mampu, karena terbatasnya sarana dan prasarana. Sehingga peran ini sangat vital digantikan oleh perguruan tinggi.

Sebuah Autokritik

Kecenderungan yang ada di perguruan tinggi hanya terfokus pada kajian teoritis dan riset mikro.Riset di perguruan tinggi banyak diartikan sebagai cara dan proses penemuan melalui pengamatan atau penyelidikan yang bertujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau persoalan sebagai suatu masalah yang diteliti. Sebenarnya dalam kajian teoritis dan riset jika dikaji lebih mendalam akan memperoleh inovasi-inovasi baru. Inovasi baru inilah yang diperlukan dalam pengembangan industri dan pemenuhan bisnis.

Di sisi lain masih banyak ketimpangan dalam sektor riil industri. Banyak yang berjalan sendiri-sendiri kurang bersinergi. Karena kurang bersinergi, tuntutan pemenuhan bisnis tidak paralel dengan hasil riset perguruan tinggi. Akibatnya pengusaha masih memandang hasil riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi tidak cepat saji. Bahkan kadang out of date. Pengusaha juga memandang hasil riset perguruan tinggi kadang on kadang off dengan kepentingannya. Jika on konteks isinya pun masih global, belum siap terapan. Sedangkan jika off maka tidak ada kaitan, sambungan ataupun hubungan dengan industri, maka konsekuensinya pelaku industri harus mencari jalan sendiri.

Riset perguruan tinggi harus di dorong untuk hilirisasi. Hasil riset perlu diimplementasikan oleh industri. Sehingga hasil penelitian yang inovatif tak hanya bertumpuk sebagai laporan penelitian dan publikasi ilmiah yang eksklusif hanya dinikmati oleh kalangan akademis. Sehingga ke depan kolaborasi university and company dalam melakukan penelitian bersama dapat terus ditingkatkan, tak hanya dalam sharing pendanaan tapi juga pemanfaatan hasil riset untuk kepentingan bisnis.

Pemerintah perlu memberikan dukungan melalui kebijakan yang teknis dan anggaran yang memadai. Jembatan yang menghubungkan perguruan tinggi dan perusahaan harus dibangun dengan mendorong pemerintah sebagai fasilitator dan regulator. Sehingga pemerintah lah yang dalam hal ini seharusnya pertama kali mengambil langkah untuk memulai kolaborasi.

Perusahaan tak bisa lagi merasa sebagai pihak yang paling besar. Sudah bukan waktunya lagi gengsi dan menganggap perguruan tinggi bagai katak dalam tempurung, sebagai pusat belajar tanpa tahu kondisi dunia luar. Sebaliknya, perguruan tinggi tak bisa menjadi menara gading yang acuh dan hanya berkontribusi mencetak calon tenaga kerja serta membuat riset dengan tujuan normatif saja.

Keduanya perlu duduk bersama dalam semangat kolaborasi dengan pemerintah sebagai fasilitator. Dengan kolaborasi ini maka setiap elemen akan memiliki tugas masing-masing. Perguruan tinggi sebagai kreator teknologi dan inovasi melalui riset dan pengembangan, yang kemudian hasil nya akan dapat langsung digunakan oleh industri untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kinerjanya. Dan di sisi lain pemerintah perlu memberikan dukungan melalui serangkaian kebijakan dan pendanaan yang memadai.

Triple Helix

Hasil temuan riset perguruan tinggi kebanyakan hanya menjadi pajangan di pameran dan isi suatu publikasi yang kurang berarti. Kajiannya hanya sampai “oh ini bisa menjadi”. Tetapi belum sampai pada tahap bagaimana ini bisa terjadi dan diproduksi menghasilkan profit secara ekonomi. Oleh karena itu, perlu ada pendekatan dari kedua belah pihak yang difasilitasi oleh pemerintah. Harus ada sinergi antara perguruan tinggi, perusahaan dan pemerintah. Konsep ini dikenal dengan triple helix.

Tentu saja konsep triple helix antara University, Company and Government akan berjalan dengan sinergi semua elemen. Harapannya riset-riset yang dihasilkan perguruan tinggi akan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan untuk diterapkan di masyarakat. Sehingga perguruan tinggi tak hanya bertugas mencetak tenaga kerja terdidik namun berkontribusi langsung dalam pengembangan teknologi nasional agar berdaya saing.

Konsep “Triple Helix “, memiliki tiga kondisi dasar sebagai berikut. Pertama, perguruan tinggi memiliki peran untuk menghasilkan inovasi-inovasi teknologi. Pada suatu masyarakat berbasis pengetahuan di negara-negara berkembang, posisi kalangan akademik ini adalah sederajat dengan entitas industri dan pemerintah;

Kedua, akademik, bisnis, dan pemerintah memiliki motivasi untuk meningkatkan dinamika dan daya kesinambungan ekonomi. Hal ini memperkuat munculnya suatu kondisi di mana berbagai proses kemunculan kebijakan inovasi semakin sering merupakan hasil interaksi antar elemen masyarakat dan bukan lahir sebagai sekedar usulan pemerintah saja;

Ketiga, negara-negara berkembang saat ini tengah mengalami kendala dalam mendorong agar masing-masing kelompok akademik, bisnis, dan pemerintah untuk mengambil peran secara lebih aktif, sedemikian rupa hingga ketiganya mampu memperluas potensi daya inovasi diri sendiri.

Jika sinergi-sinergi dalam menghadapi MEA telah teropini di lingkungan kampus akan lebih baik menggandeng lagi pemangku kepentingan yang lain. Sehingga menjadi quarduble helixbahkan penta helix. Misalnya A, B, G, C dan Perbankan.

Sucihatiningsih DWP, profesor pada Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X