Perhatian untuk Sektor Hilir Pertanian


Perhatian untuk Sektor Hilir Pertanian

Cita-cita swasembada pangan yang diimpikan Presiden Indonesia Ir Joko Widodo mulai diejawantahkan dalam serangkaian program aksi. Usaha ini menumbuhkan optimisme bagi negara agraris ini. Namun, pekerjaan untuk mewujudkan cita-cita perlu kerja keras.

Untuk mengupayakan swasembada, kita tidak boleh hanya fokus pada lini hulu. Untuk membangun sektor pertanian yang berdaya saing bukan hanya permasalahan budidaya, infrastrukur dan aspek produksi semata. Kita perlu memberikan perhatian lebih pada aspek-aspek hilir.

Kita perlu berkaca pada realita empiris yang terjadi belakangan. Harga beras, daging sapi naik tajam, di saat yang sama harga kedelai bergoyang-goyang tak tentu arah. Apakah keadaan ini disebabkan karena masalah di ladang petani?

Masalah ini bukan masalah hulu belaka. Lebih daripada itu, kondisi ini adalah buah dari kegagalan pasar menciptaan keseimbangan. Membangun sektor pertanian adalah pekerjaan komprehensif. Upaya memberdayakan petani tak cukup dengan menjamin cangkul mereka tetap terayun, benih untuk mereka tersedia di toko, pupuk dan air melimpah, tetapi juga memastikan produknya diserap pasar dengan harga baik.

Di balik itu, perhatian lebih perlu diberikan pada aspek hilir dan off farm. Perhatian lebih perlu diberikan kepada aspek pasar, harga dan segala lini distribusi serta beragam aspek non budidaya lain. Semua hal ini bertujuan agar paradigma pembangunan sektor pertanian tak hanya terpaku pada aspek produksi saja. Keseimbangan pasar perlu diciptakan. Petani tak hanya berkutat di lahan tanpa tahu kondisi pasar.

Jembatan Petani-Pasar

Berangkat dari realitas inilah kiranya tak berlebihan jika diperlukan sebuah jembatan yang menghubungkan petani dan pasar. Petani kini tak hanya bertindak sebagai produsen yang buta informasi pasar. Teknologi informasi perlu diperkenalkan kepada petani.

Aplikasi teknologi pertanian yang mudah dipahami petani diharapkan akan menjadi media informasi bagi petani dalam menjalankan “bisnis” usaha taninya. Dengan begitu, segala informasi usahatani akan dapat dengan cepat sampai kepada petani. SIstem logistik juga relatif akan lebih sehat dengan terpotongnya berbagai rantai distribusi yang tidak efisien dengan teknologi informasi.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, maka upaya strategis yang perlu dikembangkan adalah peningkatan nilai jual produk pertanian. Paradigma pemberdayaan petani yang harus dibangun adalah tak hanya menjual bahan baku ke pasar, tapi juga menjual barang yang sudah siap konsumsi.

Dengan inovasi dan pendampingan, hal ini tak mustahil dilaksanakan.Dengan metode pengolahan pascapanen maka karakter dasar produk pertanian yang relatif bulky akan dapat teratasi, nilai jual produk pertanian juga akan meningkat karena telah mengalami perubahan bentuk, petani juga akan bisa menembus ceruk pasar pemasaran baru dimana mereka kini bisa menjadi price maker.

Dalam rangka pembangunan sektor pertanian nasional agar mampu berdaya saing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN dan keterbukaan globalisasi kini. Sektor pertanian dituntut untuk bisa memberikan performa yang baik. Masyarakat akan selalu menempatkan komoditas pangan sebagai kebutuhan utama.

Pada saat negara-negara di dunia kini tengah bersaing untuk mampu masuk di pasar Indonesia yang menjanjikan, Indonesia pun harus berbenah. Jangan sampai negeri agraris ini justru menjadi etalase komoditas pertanian lain.

Produk pertanian Indonesia harus mampu bersaing dengan produk lain. perlu ada upaya untuk mengejar kualitas komoditas pertanian agar bisa sejajar dengan produk lain. Selain itu, kuantitas pasokan dan kontinuitas penyediaannya adalah faktor penting untuk menjamin komoditas pertanian kita bisa bersaing dengan produk pesaing.

– Prof Dr Sucihatiningsih DWP, profesor ekonomi pertanian Fakultas Ekonomi (FE) Unnes

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X